/Bencana Sebagai Akibat Perbuatan Manusia

Bencana Sebagai Akibat Perbuatan Manusia

Oleh: Yusrizal, S.Ag., M.E.Sy

الحَمْدُ ِللهِ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ اْلأَرْضَ مَهْدًا وَسَلَكَ لَكُمْ فِيْهَا سُبُلاً،  وَأَنْزَلَ مِنَ السَّمَآءِ مَآءً فَأَخْرَجَنَا بِهِ أَزْوَاجًا مِنْ نَبَاتٍ شَتّى. أَشْهَدُ أَنْ لاَإِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لاَ نَبِيَّ بَعْدَهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا وَمَوْلاَنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىَ آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالاَهُ. أَماَّ بَعْدُ: فَيَا أَيُّهَا اْلمُسْلِمُوْنَ الْكِرَامُ  أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ  وَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.

Kaum muslimin rahimakumullah

Betapa banyaknya nikmat dan karunia yang telah diberikan Allah SWT kepada manusia. Baik yang sifatnya individual, maupun yang bersifat kolektif, seperti: kesehatan, kedamaian, rezki yang melimpah ruah, bahkan untuk kita bangsa Indonesia, Allah menjadikan negeri ini negeri yang alamnya subur dan makmur, dengan kekayaan alam yang begitu banyak. Dengan semua ini, maka benar adanya firman Allah SWT :
null
 “Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan sanggup untuk menghitungnya”. (Q.S. Ibrahim [14]: 34):

 

Nikmat yang sedemikian banyak tersebut, semestinya kita  sikapi dan gunakan secara proporsional, serta mensyukuri terhadap segala yang telah diberikan. Bukan malah digunakan sesuai hawa nafsu dan akal semata. Karena dalam  Allah telah berjanji dan sekaligus telah mewanti-wanti:
null
“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, maka niscaya kami akan  menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya Azab-Ku sangat pedih”. (Q.S. Ibrahim [14]: 7)

 

 Kaum muslimin rahimakumullah

Akhir-akhir ini, mata dan telinga kita diperlihatkan dan diperdengarkan oleh musibah yang datang silih berganti; gunung meletus, banjir bandang, angin topan, gempa bumi, dlsb. Satu sisi bisa saja para ahli mengatakan bahwa hal tersebut merupakan bagian dari fenomena alam yang mesti terjadi dan harus kita terima, dan pada sisi lain, di antara kita sibuk mencari kambing hitam sebagai sebab musabab dari bencana di atas.

Namun, dalam menghadapi segala musibah dan bencana tersebut, seyogyanya yang kita lakukan adalah mengoreksi diri, karena kalau kita fahami firman Allah SWT:
null
Telah tampak kerusakan di daratan dan di lautan disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan kebenaran)” (Q.S. Ar-rum [30]: 41)

 

Kaum muslimin rahimakumullah

Jadi, kesemuanya itu bermuatan pelajaran sekaligus peringatan bagi kita agar senantiasa melakukan usaha perbaikan dan kembali kepada bimbingan Allah SWT, dan Rasulnya SAW., mungkin saat ini kita lupa diri. Keberhasilan yang kita raih merasa dan dianggap semata-mata karena usaha sendiri, kecerdasan bangsa kita dan lain-lain. Kita lupa bahwa di balik semua itu ada Dzat Yang Maha Menentukan yaitu Allah SWT.
null
“Tiada satu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (lauh mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong” (QS. Al-Hadid [57]: 22)

 

Oleh karena itu, tidak ada jalan lain bagi kita kecuali dengan kembali ke pangkal jalan. Bersabar atas musibah yang menimpa, tentu dengan saling tolong menolong untuk mengatasi kesusahannya, dan bersyukur atas segala rahmat yang diberikan.

 

Kaum muslimin rahimakumullah

Di samping itu kita juga diperintah untuk dapat terlibat dalam mencegah kemungkaran yang ada di sekitar kita agar tidak terkena imbasnya. Firman Allah SWT
null
“Dan periharalah dirimu dari pada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zhalim saja di antara kamu. Dan ketauilah bahwa Allah amat keras siksa-Nya” (Q.S. Al-Anfal [8]: 25)

 

Kemudharatan dan kema’shiyatan yang dilakukan , baik oleh diri sendiri maupun yang terjadi di lingkungan kita, akan punya dampak negative baik secara langsung ataupun tidak langsung. Ibnu Qayyim al Jauziyah, menyebutkan beberapa pengaruh buruk dari kemudharatan dan kema’shiyatan tersebut, di antaranya:

  1. Hilangnya manfaat ilmu, karena nuraninya tertutup oleh dosa dan kema’shiyatan, akibatnya ilmunya tidak mengantarkannya kepada kebaikan tetapi justru menjauhkannya dari bimbingan ilahi.

null
“………Sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang ada di dalam dada” (Q.S. Al-Hajj [22]:46)

 

  1. Terkadang kita merasakan meningkatnya penghasilan individu dan masyarakat. Tetapi pada saat yang bersamaan dengan itu, hutang semakin banyak, sehingga pendapatan itu habis begitu saja, atau bahkan berhutang lagi. Akhirnya kita tidak bisa merasakan nikmatnya harta, karena dari hutang ke hutang berikutnya. Ini juga merupakan suatu bukti tidak adanya keberkahan harta dan kekayaan yang kita miliki. Allah berfirman dalam

null
“Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dulunya aman lagi tenteram, rezekinya datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi (penduduknya) mengingkari nikmat-nikmat Allah; karena itu Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan, disebakan oleh apa yang telah mereka perbuat” (Q.S. An-Nahl [16]: 112)

 

Adapun dampak lain dari sebuah kemudharatan dan kema’syiyatan adalah keras dan kasarnya hati, melemahnya keinginan untuk berbuat baik, menyepelekan perbuatan-perbuatan dosa dan terjadinya banyak bencana alam.

Kaum muslimin rahimakumullah

Semoga kita yang hadir di sini dan kaum muslimin sekaliannya dapat terbuka hatinya untuk menerima pelajaran dan bimbingan dar Allah SWT, termasuk dari teguran-Nya berupa musibah dan bencana alam yang susul menyusul belakangan ini. Mudah-mudahan kesemuanya itu dapat mengantarkan kita untuk kembali ke pangkal jalan, yaitu kehidupan ber-Islam yang tertata. Sehingga pada saatnya kita kaum muslimin dapat berperan mengatur dunia sesuai dengan undang-undang Allah SWT, sebagaimana tugas kita memakmurkan dan melestarikan bumi dan mempelopori kebaikan. Pada saat itu, kebaikan bukan hanya saja dirasakan oleh kita kaum muslimin, tetapi oleh seluruh umat manusia, sebagaimana Islam itu sendiri adalah sebagai ‘rahmatal lil ‘alamiin’.

Akhirnya kesemuanya itu kita pulangkan kepada Allah SWT, karena tanpa bantuan dan pertolongan-Nya, usaha yang kita lakukan tidak akan ada artinya. Sebab kita manusia penuh dengan kekurangan dan kelemahan.

Semoga Allah SWT senantiasa membimbing kita pada jalan-Nya yang lurus dan senantiasa mengampuni segala kesalahan dan dosa yang pernah kita perbuat, serta mewafatkan kita bersama orang-orang yang baik.

بَارَكَ اللهُ لِى وَلَكُمْ فِى اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ وَ نَفَعَنِى وَاِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلأَيَاتِ وَ الذِّكْرِالْحَكِيْمِ. وَ تَقَبَّلَ مِنِّى وَ مِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ اْلعَلِيْمُ وَ قُلْ رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَ أَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِيْنَ