/Berita Tentang Surga Di Abad Teknologi

Berita Tentang Surga Di Abad Teknologi

 الحَمْدُ ِللهِ الَّذِى أَعَدَّ لِلْمُتَّقِيْنَ جَنَّةَ اْلمَأْوَى , وَأَعَدَّ لِلْعُصَاةِ عَذَابًا أَلِيْمًا. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ المَلِكُ اْلحَقُّ اْلأَعْلَى. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الصَّادِقُ اْلأَوْفَى . اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَ هُدَى اَمَّا بَعْدُ, فَيَا عِبَادَ اللهِ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِى بِتَقْوَى اللهِ  حَقَّ التَّقْوَى  .قَالَ اللهُ تَعَالَى :

null

صَدَقَ اللهُ اْلعَظِيْمُ .

 

Hadirin kaum muslimin yang berbahagia.

Dalam arus kehidupan dunia modern seperti sekarang ini, telah terjadi banyak perubahan tata nilai dalam kehidupan manusia, termasuk perubahan pandangan terhadap dunia dakwah. Hal ini terbukti dengan terdengarnya suara sumbang yang dilontarkan sementera pihak kepada para da’i, khususnya apabila juru dakwah berbicara tentang surga dan neraka. Menurut mereka pembicaraan tentang surga dan neraka adalah topik dakwah membosankan, topik yang hanya cocok bagi masyarakat Arab pada zaman dahulu yang merindukan taman rindang, kebun menghijau dan wanita cantik. Mereka menganggap pembicaraan tentang surga sudah tidak relevan dalam alam pembangunan dan dunia modern yang memiliki sarana kehidupan serba canggih.

 

Hadirin,

Berita tentang surga dan kenikmatannya, adakah relevansinya dengan kehidupan modern dan pembangunan manusia kini ? Khutbah ini mencoba menulusurinya. Kita tidak bisa menghapus firman Allah SWT yang berbunyi :

null

“Dan sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang beriman dan berbuat baik, bahwa bagi mereka disediakan surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya….” (QS. Al-Baqarah [2]:  25).

 

Hadirin, Sidang Jum’ah Rahimakumullah

Ada sekitar empat puluh ayat Al-Qur’an yang berbicara tentang surga, selalu menyebutkan bahwa surga itu “tajri min tahtihal-anhaar”, mengalir sungai-sungai dibawahnya atau dibawah surga mengalir sungai-sungai. Apa artinya hal ini ? artinya surga itu mempunyai kenikmatan sempurna, panorama indah dan menjadi taman rindang adalah dengan adanya aliran air di sungai-sungai dibawahnya. Apakah kita pernah berfikir bahwa dunia tempat kita hidup dan bernafas sekarang ini, kawasan dan lingkungan tempat kita tinggal, akan menjadi bagus, indah dan bersih mendatangkan kenyamanan bagi rohani dan jasmani, jika sungai-sungai mengalirkan air secara wajar, tidak kering dan tidak membawa banjir yang mencelakakan, dan selokan-selokan serta saluran air berfurngsi. Karenanya kalau kita menginginkan kehidupan yang baik di dunia kita harus memfungsikan sungai, mengatur aliran air dan irigasi. Apakah isyarat ini pernah kita renungkan ? Apakah hal ini tidak cocok dengan pembangunan dan kehidupan modern.

Lihatlah lembah sungai Nil di negeri Mesir, ia subur dan makmur karena aliran sungai Nil yang diatur demikian rupa dengan bendungan raksasa Aswan.

Lihatlah Saudi Arabia, di beberapa tempat di sana gurun pasir yang kering dan gersang telah berubah menjadi lahan pertanian yang hijau; karena dialirkannya air ke tengah-tengah padang pasir itu. Mungkin beberapa waktu mendatang, jamaah haji dari seluruh dunia akan bisa wukuf di padang Arafah dibawah naungan pohon-pohon rindang menyenangkan, dan akan menikmati kerindangan dan kehijauan; tidak lagi menyaksikan bukit-bukit batu dan gunung gundul serta panorama membosankan, tetapi Lihatlah negeri Belanda, negeri yang hampir 30 % kawasannya berada di bawah laut, menjadi negeri yang indah, meskipun kecil tapi molek, mengapa ? Karena sistem irigasi yang baik dan pengaturan aliran air dengan sungai-sungai, selokan dan terusan yang diatur demikian rupa, atau dengan kata lain karena teraturnya aliran air.

Lihatlah Bangladesh, sungai Gangga dan Brahma Putra yang belum bisa dikuasai pengaturan airnya menyebabkan negeri itu sering dilanda banjir.

Tidak mustahil di suatu saat sejumlah kota dan kawasan dinegeri kita ini tenggelam oleh air karena tidak teraturnya aliran air dan tidak berfungsinya sungai. Indonesia adalah negera yang banyak memiliki sungai, sebagai contoh kota Banjarmasin, Pontianak, Samarinda; tetapi sebagian besar rakyat penghuninya tidak menghargai sungai dan aliran air. Orang seenaknya membuang sampah ke sungai, sehingga panorama kota menjadi tidak sedap dipandang mata karena sampah merapung dan berkeliaran dimana-mana. Sebagian orang  seenaknya membuang sampah ke selokan-selokan dan saluran air, sehingga menyebabkan aliran air tersumbat. Orang seenaknya menimbuni selokan-selokan dan saluran air dengan tanah hingga aliran airpun terhenti. Tergenangnya air menimbulkan lagi penyakit dan kekotoran di jalan-jalan; padahal penduduk negeri ini mayoritas muslim, agamis, beratus kali mengumandangkan ayat-ayat Al-Qur’an disetiap kesempatan, membaca ayat yang berisikan “tajir min tahtihal anhaar.”

Hadirin,

Ini baru salah satu daripada nikmat surga yang harus diresapi. Sepotong ayat Al-Qur’an yang tertulis, bukan tergores begitu saja, tetapi ada maksud dan tujuannya bagi kehidupan. Oleh sebab itu bila manusia menginginkan hidup yang baik di dunia dengan lingkungan yang nyaman dan panorama yang indah, bersih dari kotoran dan penyakit; fungsikan sungai dan atur aliran airnya seperti halnya nikmat surga; mendatangkan kenyamanan, desir air yang mengalir teratur akan menyanyikan lagu-lagu gembira dan menyejukkan perasaan. Imam Syafi’i berkata :

 

إِنِّى رَأَيْتُ وُقُوْفَ اْلمَاءِ يُفْسِدُهُ – إِنْ سَالَ طَابَ وَإِنْ لمَ ْيَجْرِ لمَ ْيَطِب

“Kulihat tergenangnya air merusak air itu sendiri, tetapi bila mengalir ia menjadi bersih, bila tergenang ia menjadi kotor.”

 

Hadirin kaum muslimin,

Nikmat surga yang kedua ialah nikmat rohani. Allah SWT menceritakan tentang penghormatan yang diberikan kepada penghuni surga, mereka dipersilahkan masuk ke dalamnya dengan penuh kelembutan dan kasih sayang, dikatakan :

nullnull

“Masuklah ke dalamnya dengan sejahtera lagi aman, dan Kami lenyapkan segala rasa dendam yang berada dalam hati mereka, sedang mereka merasa bersaudara duduk berhadap-hadapan di atas dipan-dipan.” (QS. Al-Hijr  [15] 46-47)

 

Hadirin kaum muslimin,

Menurut kedua ayat ini kesejahteraan bagi ahli surga dicapai dengan nikmat rohani yaitu :

Pertama, dilenyapkannya rasa dendam yang ada didalam hati.

Kedua, hidup merasa bersaudara yang digambarkan dengan duduk berhadap-hadapan di atas dipan.

Apa artinya hal ini semua ? Artinya penduduk surga yang sudah menerima berbagai nikmat jasmani, menerima lagi nikmat rohani, yaitu hapusnya rasa dendam dan dengki. Fakta berbicara, bagaimana juapun besarnya nikmat jasmani, nikmat itu tidak akan ada artinya kalau pemiliknya mempunyai penyakit jiwa, yaitu dendam dan dengki (Al-Gill). Dendam karena didahului adanya permusuhan, dan dengki karena tidak bisa melihat nikmat yang ada pada orang lain.

Adakah kita pernah berfikir dan merenung, bahwa hidup di dunia ini akan menjadi porak-poranda dan kacau karena dendam dan dengki di hati para penghuninya, kendati mereka memiliki nikmat materi yang melimpah ruah dan nikmat jasmani yang banyak. Bukankah dendam dan dengki menyebabkan saling jatuh-menjatuhkan, baik dengan cara yang halus maupun dengan cara yang kasar. Rusaklah pri-pergaulan karena dendam dan dengki kenteteraman berubah menjadi keonaran, kenikmatan menjadi kemelaratan, harta hanya mendatangkan derita, tahtapun membawa bala, kecantikan hanya mengakibatkan kecongkakan, kehebatan membuat kebengisan, adab melahirkan biadab, ilmu menjadi perangkat tipu, dan bahagia terbalik menjadi celaka.

Penduduk surga tidak demikian, hidup mereka dipenuhi dengan nikmat rohani, tidak adanya dendam dan dengki. Selanjutnya ahli surga merasa hidup bersaudara. Persaudaraan yang tidak dicampuri dengan unsur apapun yang mengeruhkannya, persaudaraan dipenuhi kasih sayang, tidak dicampuri dengan keinginan pribadi dan sepihak. Duduklah ahli surga berhadap-hadapan di atas dipan. Alangkah tenteramnya, jika manusia didalam hidup ini terutama antar umat Islam sendiri menyelesaikan segala permasalahan yang dihadapi, antar penduduk negeri ini, lebih-lebih para pejabat dan para wakil rakyat; duduk diforum-forum pertemuan, seminar, rapat, diskusi dan berbagai kesempatan lainnya, seperti halnya surga berhadap-hadapan seperti saudara dan kawan bukan sebagai musuh dan lawan.

 

Hadirin kaum muslimin,

Itulah rahasianya mengapa Nabi Adam a.s. sebelum diturunkan ke permukaan bumi menjadi khalifah, mengatur dan menatanya, dimampirkan dulu untuk tinggal di dalam surga, sebagai study banding untuk memindahkan nikmat surga ke kehidupan dunia.

Demikianlah khutbah ini semoga ada manfaatnya.

بَارَكَ الله ُلِيْ وَلَكُمْ فِيْ القُرْآنِ العَظِيْمِ وَنَفَعَنِيْ وَاِيّاَكُمْ بِمَافِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الحَكِيْمِ. وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ اِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ. وَقُلْ رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَاَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِيْنَ. أَقُوْلُ قَوْلِى هَذَا وَاسْتَغْفَرَ اللهُ لِى وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُالرَّحِيْمُ