/Desakan Ekonomi Sirkuler Untuk Penghidupan Berkelanjutan

Desakan Ekonomi Sirkuler Untuk Penghidupan Berkelanjutan

Share tulisan ini di social media

Oleh: Dr. Hayu Prabowo

Pendahuluan

Perkembangan global yang signifikan termasuk teknologi disrupsi, pasar yang berkembang cepat, kelas menengah yang tumbuh cepat dengan meningkatnya konsumsi, dan semakin buruknya kerusakan  lingkungan. Fakta menunjukan bahwa kita telah menggunakan, atau “mengkonsumsi,” modal alam kita lebih cepat daripada yang dapat diisi ulang oleh bumi.

Perkembangan ini menyoroti kelemahan ekonomi yang berbasis pada siklus hidup produk pendek dengan menghancurkan nilainya pada akhir masa guna produk. Pengolahan limbah mahal saat ini dan dalam beberapa waktu menjadi tidak terjangkau. Namun, sulit untuk mengubah cara yang tertanam dalam menghasilkan pendapatan berdasarkan pada model ekonomi linier yaitu “ambil-buat-gunakan-buang” dimana seluruh produk yang telah dibuat bisa dibuang (disposable) begitu saja setelah habis masa pakainya, meski bahan-bahannya masih mengandung nilai.

Dalam menghadapi permasalahan ini Indonesia telah memiliki UU 18/2008 tentang Pengelolaan Sampah dimana dalam pasal 15 menyatakan “Produsen wajib mengelola kemasan dan/atau barang yang diproduksinya yang tidak dapat atau sulit terurai oleh proses alam”. Dalam Penjelasan Pasal 15  “Yang dimaksud dengan mengelola kemasan berupa penarikan kembali kemasan untuk didaur ulang dan/atau diguna ulang”.  Pasal ini mengindikasikan kewajiban produsen untuk mengubah praktik bisnisnya untuk tetap bertanggung jawab atas disposal produknya ketika masa pakainya telah habis.

Selanjutnya PP 81/2012 tentang Pengelolaan Sampah Rumah Tangga dan Sampah Sejenis Sampah Rumah Tangga pada Pasal 12 menyatakan bahwa “Produsen wajib melakukan pembatasan timbulan sampah dengan: (a) menyusun rencana dan/atau program pembatasan timbulan sampah sebagai bagian dari usaha dan/atau kegiatannya; dan/atau (b) menghasilkan produk dengan menggunakan kemasan yang mudah diurai oleh proses alam dan yang menimbulkan sampah sesedikit mungkin.” Pasal ini mewajibkan produsen menyusun rencana pembatasan timbulan melalui desain awal produk hingga akhir pemakaian yang ramah lingkungan.

Dalam tataran normatif, Majelis Ulama Indonesia telah menetapkan Fatwa MUI no. 47/2014 tentang Pengelolaan Sampah Untuk Mencegah Kerusakan Lingkungan. Dalam salah satu ketetapan fatwanya adalah Setiap muslim wajib menjaga kebersihan lingkungan, memanfaatkan barang-barang gunaan untuk kemaslahatan serta menghindarkan diri dari berbagai penyakit serta perbuatan tabdzir dan israf. Tabdzir adalah menyia-nyiakan barang/harta yang masih bisa dimanfaatkan menurut ketentuan syar’i ataupun kebiasan umum di masyarakat. Israf adalah tindakan yang berlebih-lebihan, yaitu penggunaan barang/harta melebihi kebutuhannya.

Dalam hal kebijakan keuangan, Otoritas Jasa Keuangan Indonesia (OJK), meluncurkan roadmap yang menetapkan tolok ukur dan tujuan akhir keuangan berkelanjutan di Indonesia untuk industri jasa keuangan di bawah pengawasan OJK. Rencana strategis tersebut memerlukan regulasi yang jelas terkait dengan penerapan Keuangan Berkelanjutan di Indonesia. Fokus aktivitas dari Roadmap Keuangan Berkelanjutan diterapkan secara bertahap dalam jangka waktu Menengah dan Panjang. Dalam rangka mendukung implementasi Keuangan Berkelanjutan, OJK telah menerbitkan Peraturan OJK mengenai Keuangan Berkelanjutan yaitu POJK Nomor 51/POJK.03/2017 Tentang Penerapan Keuangan Berkelanjutan Bagi lembaga Jasa Keuangan, Emiten, dan Perusahaan Publik. Implementasi kegiatan strategis keuangan berkelanjutan di Indonesia terdiri dari tiga bidang utama: (1) Peningkatan suplai pendanaan ramah lingkungan hidup; (2) Peningkatan demand bagi produk keuangan ramah lingkungan hidup; dan (3) Peningkatan pengawasan dan koordinasi implementasi keuangan berkelanjutan. Penerapan Keuangan Berkelanjutan ini akan menjadikan perbankan syariah yang tidak hanya halal transaksinya namum juga menimbulkan kebaikan seluruh makhluk (halalan thayyiban).

Pandangan dan peraturan-peraturan diatas sangat penting untuk pola pikir produsen dan konsumen untuk memungkinkan keberhasilan bisnis yang dapat menjadikannya momentum untuk menuju ekonomi sirkuler. Sama pentingnya adalah modal investasi yang diperlukan untuk mengubah praktik bisnis. Perubahan pola produksi dan penjualan menimbulkan paradigma bisnis baru yang menyiratkan tantangan besar bagi industri keuangan dan menyarankan perlunya penawaran produk keuangan baru.

Praktik Ekonomi Linier Saat ini

Revolusi Industri membawa kita kemakmuran yang belum pernah terjadi sebelumnya dan menyebabkan konsumsi beragam barang dan jasa yang terus meningkat. Selama periode percepatan pembangunan ekonomi ini, sumber daya alam dan ruang yang dibutuhkan untuk membuang limbah secara efektif dianggap tidak ada habisnya. Ini menghasilkan pendekatan ekonomi linier, yang disebut model ‘ambil, buat, gunakan, buang’ di mana sebagian besar bahan baku yang digunakan untuk membuat produk yang akhirnya dibuang.

Gambar 1 Pola Linear Penggunaan Sumber Daya Alam

Studi yang dilakukan oleh Working Group FINANCE Netherland pada 2016 menunjukkan bahwa dengan tingkat konsumsi dunia dalam ekonomi linear saat ini telah melebihi daya dukung sistem alam bumi. Seluruh bahan bakar fosil dan mineral (perak, titanium, alumunium, tembaga, dll) akan habis dikonsumsi sekitar pertengahan abad ini. Disamping terkurasnya sumberdaya alam tersebut, degradasi lingkungan yang berkelanjutan merupakan ancaman bagi generasi yang akan datang.

Dalam artikel mereka di tahun 2007, Braungart, McDonough dan Bollinger menyimpulkan bahwa, dalam ekonomi linier, konsep pertumbuhan ekonomi jangka panjang tidak konsisten dengan konsep efektivitas ekologi jangka panjang. Eksternalitas lingkungan yang negatif sebagian besar tidak terjangkau meskipun ada upaya untuk memasukkan biaya eksternalitas ke dalam harga barang dan jasa. Penetapan harga ini untuk mendorong produsen dan konsumen untuk beralih dari produk yang merusak lingkungan ke produk yang kurang merusak, dan dengan demikian mengarah pada pengurangan degradasi lingkungan dan biaya sosial yang terkait.

Sebagian besar konsep keberlanjutan semuanya dengan satu atau lain cara berkaitan dengan penggunaan sumber daya yang lebih sedikit dan menghasilkan emisi yang lebih rendah, yaitu menjadi lebih efisien. Semuanya masih mempertahankan model linear dengan aliran material satu arah. Bahan-bahan diekstraksi dari bumi, dibuat menjadi produk dan setelah selasai digunakan, produk dibakar atau ditimbun di tanah. Dalam model ekonomi saat ini pertumbuhan dikaitkan dengan peningkatan produksi – yang berarti menggunakan lebih banyak bahan dan menciptakan lebih banyak limbah di akhir proses.

Sistem linier ini tidak hanya menghasilkan limbah, tapi lebih penting lagi nilai yang telah diciptakan dalam produk ikut dihancurkan. Sampah fisik adalah sampah finansial juga, Dari sudut pandang ekonomi, ini tidak diinginkan.

Ekonomi Sirkuler

Manusia telah menggunakan sumber daya alam untuk memenuhi kebutuhan kehidupannya. Oleh karenanya kegiatan ekonomi sangat berkaitan dengan proses dan kapasitas alam dalam menjalankan jasa ekosistemnya. Gambar-2 memperlihatkan proses ekosistem dimana Produsen memperoleh energi melalui fotosintesis dan menyerap bahan anorganik untuk menghasilkan biomasa dan membentuk makanan dasar untuk spesies konsumen seperti herbivora dan predatornya. Organisma mati menghasilkan akumulasi bahan organik yang diubah oleh Pengurai. Pengurai dan Konsumen berperan dalam pembentukan bahan anorganik dengan mineralisasi, melengkapi siklus nutrien antara bentuk organik dan anorganik.

Sebagaimana halnya proses sirkuler ekosistem, ekonomi sirkuler akan membutuhkan energi yang baru terbarukan serta bahan baku beserta material yang diperoleh melalui daur ulang produk lainnya untuk dapat memproduksikan produk yang dibutuhkan manusia. Rantai pasokan ekonomi sirkuler berbeda dengan model ekonomi linier. Kolaborasi di seluruh rantai: perancang dan pemasok serta penyedia layanan dan perusahaan perlu berkolaborasi untuk mencapai ekonomi sirkuler dengan berbagi, tidak hanya bahan, air, dan energi, tetapi juga informasi dan layanan untuk seluruh produk yang akan dipasarkan dan digunakan konsumen hingga daur ulang dan menjadi material yang dapat digunakan oleh perusahaan tersebut atau perusahaan lainnya.


Gambar 2 Pola Sikular Pemanfaatan Sumber Daya Alam

Berbeda dengan pandangan model industri ekstraktif ekonomi linier “ambil, buat, gunakan dan buang“, ekonomi sirkuler bersifat restoratif dan regeneratif sejak desain awal produk. Dengan mengandalkan inovasi sistem, ekonomi sirkuler mendefinisikan kembali produk dan layanan untuk merancang limbah produk akhir, serta meminimalkan dampak negatif proses produksinya dengan transisi ke sumber energi terbarukan. Model sirkuler membangun modal ekonomi, lingkungan dan sosial.

Ekonomi sirkuler menyediakan berbagai mekanisme penciptaan nilai yang mengurangi konsumsi sumber daya yang terbatas. Dalam ekonomi sirkuler, sumber daya diregenerasi dalam siklus bio dan dikembalikan dalam siklus teknis melalui perubahan rantai nilai produk yang bersifat restoratif dan regeneratif sejak desain awal produk.

Pengaruh Ekonomi Sirkuler pada Industri Jasa Keuangan

Mengubah ekonomi dari yang linier ke yang lebih sirkuler diperlukan, tetapi ini bukan hanya tugas bagi pengusaha saja, namun juga tugas sektor keuangan juga harus menjadi bagian dari perubahan ini. Pergeseran ke ekonomi sirkuler akan memengaruhi klien industri keuangan dan akan mempengaruhi  industri keuangan itu sendiri.

Dari perspektif ekonomi, perubahan ini memberikan beberapa keuntungan karena merupakan seruan untuk efisiensi sumber daya: menurunkan biaya bahan dan mengurangi dampak volatilitas harga bahan.  Ada juga potensi keuntungan ekonomi makro. Pergeseran ini misalnya akan terlihat di pasar tenaga kerja karena ekonomi pada tingkat tertentu akan menjadi lebih sedikit material dan lebih banyak padat karya. Jika ketergantungan sumber daya berkurang maka risiko ketidakstabilan ekonomi dari ketegangan geopolitik kemungkinan akan turun. Akhirnya, jika kita menggunakan bahan lebih sedikit, kekurangan  sumber daya langka, tidak terbarukan akan dikurangi.

Keberhasilan industri keuangan sering dipersempit ke minimalisasi risiko dan maksimalisasi keuntungan. Ini juga dapat diterapkan pada pergeseran ke ekonomi sirkuler. Industri keuangan harus bertujuan untuk mendukung perusahaan yang berhasil melakukan transisi (‘peluang sirkuler’) dan menghindari yang perusahaan yang tidak dapat merealisasikan peluang sirkuler atau berada dalam sektor usaha yang menurun (‘risiko linier’).

Untuk bergerak dari ekonomi linier ke ekonomi sirkuler lebih mudah dikatakan daripada dilakukan. Untuk memulainya, kita membutuhkan perubahan substansial dalam tatanan ekonomi. Pergeseran ini harus mencakup segala sesuatu mulai dari desain produk dan sirkuleritas aliran material (termasuk logistik terbalik yang menyertainya) hingga menciptakan insentif yang tepat dan struktur hukum untuk merangsang gagasan bisnis ekonomi sirkuler. Pergeseran pola pikir konsumen sangat penting untuk memungkinkan ide-ide bisnis seperti itu berhasil – tanpa permintaan konsumen transisi menuju ekonomi sirkuler tidak akan mendapatkan momentum. Sama pentingnya adalah modal investasi yang diperlukan untuk mengubah praktik bisnis. Ketidakpastian dan kurangnya pengalaman dari paradigma bisnis baru menyiratkan tantangan besar bagi industri keuangan dan menyarankan perlunya penawaran produk keuangan baru.

Memahami perubahan dalam ekonomi sangat penting. Senang atau tidak, hal ini merupakan tuntutan baru dan merupakan peluang baru, model bisnis baru dan risiko baru karena kelangkaan sumber daya akan memiliki konsekuensi bagi industri keuangan, termasuk cara produk mereka dinilai dan bagaimana produk mereka ditawarkan.

Referensi

Working Group FINANCE. 2016, Money makes the world go round. The Netherlands

What is the Circuar Economy. https://www.ellenmacarthurfoundation.org/circular-economy

Rodic, Ljiljana, Circular economy and solid waste management. EAWAG Aquatic Research

Braungart, M., McDonough, W., & Bollinger, A., ‘Cradle-to-cradle design: creating healthy emissions – a strate­gy for eco-effective product and system design’, Journal of Cleaner Production (15, 2007), 1337–48

Prabowo, Hayu, Degrowth – Meredakan Gejolak Ekonomi versus Alam, https://mui-lplhsda.org/degrowth-meredakan-gejolak-ekonomi-versus-alam/