/Eco Ramadhan; Capai Kesempurnaan Akhlak dan Ketakwaan

Eco Ramadhan; Capai Kesempurnaan Akhlak dan Ketakwaan

Share tulisan ini di social media

Bulan Ramadhan 1440 H tinggal menghitung hari, persiapan menjelang ramadhan perlu dilakukan, biasanya kita jauh hari sudah mulai mempersiapkan diri menyambut bulan Ramadhan. Termasuk menyiapkan stok pangan untuk sebulan penuh. Salah satu hal yang identik dengan bulan suci ini adalah semakin banyaknya penjaja makanan dan minuman jelang waktu berbuka. Tidak sedikit yang akhirnya kalap dan membeli banyak makanan dan minuman untuk berbuka, walau tak habis semua kita santap. Bisa jadi kita melahap lebih banyak makanan di bulan ramadhan dari pada hari-hari lainnya, dan bahkan banyak orang yang justru bertambah berat badannya selama puasa.

Padahal, sikap yang berlebihan justru bertolak belakang dengan arti dari dari ibadah puasa/ shaum itu sendiri, dan tujuan dari berpuasa adalah untuk menahan diri dari hawa nafsu dan melaksanakan  amal shaleh hingga mencapai derajat Takwa nantinya.

Allah Swt berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (Q.S. Al-Baqarah [2]:  183).

Hikmah yang dapat diambil dari ayat diatas ialah panggilan iman yang menggerakkan ibadah ramadhan kita dengan mengendalikan nafsu dan syahwat, salah satunya prihal tabzir dan israf.

Jadi, apa yang harus kita lakukan di Ramadhan tahun ini agar menjadi lebih baik dari tahun lalu?

Eco Ramadhan yang digagas Lembaga PLH&SDA MUI ini merupakan upaya menunaikan ibadah puasa Ramadhan yang lebih peduli terhadap pelestarian lingkungan hidup yang sesuai dengan ajaran Islam, dalam rangka penerapan Fatwa MUI No. 47 Th.2014 tentang Pengelolaan Sampah untuk Mencegah Kerusakan Lingkungan.

Eco Ramadhan merupakan kesempatan bagi kita untuk mengingat dan menjaga bumi ciptaan Allah, yang telah menyediakan beragam kebutuhan bagi kehidupan kita.

Nah, Bagaimana Caranya?

Ada tiga pilar yang perlu kita sikapi selama bulan Ramadhan ini:

Pertama, Kelola Makanan.

  1. Makan secukupnya, ambil makanan secukupnya yang kira-kira bisa dihabiskan. Sedekahkan jika kelebihan makanan.
  2. Jangan sisakan makanan, jangan menyisakan makanan, dan lakukanlah seperti yang disunnahkan (mengisi sepertiga perut dengan makanan, seperti tiga dengan air, dan sepertiga udara).
  3. Makan makanan lokal, makanan atau produk lokal memiliki jejak karbon yang lebih sedikit .
  4. Kurangi sampah, gunakan alat makan yang bisa dipakai lagi: Hentikan penggunaan sekali pakai,  yang harus dibuang setelah digunakan sekali. Lebih baik menggunakan alat makan yang bisa dipakai lagi dikemudian hari. Biasanya banyak sampah yang kita tinggalkan begitu saja setelah berbuka, mulai dari sampah styrofoam bekas makanan takeaway, plastik, tisu, dll.

Kedua, Hemat Air.

  1. Berwudu hemat air, Lakukan anjuran berwudhu sesuai sunnah yaitu berwudhu hanya menghabiskan dua mud air atau sekitar setengah liter. Begitu juga mandi, namun tetap menjaga kebersihan dan kesucian.
  2. Menyimpan Air, menyimpan air bisa dilakukan dengan memanen air hujan ataupun melakukan penghijauan baik menanam pohon atau berkebun.
  3. Menjaga air agar tetap suci, jauhkan sumber air dari tercemarnya limbah padat maupun cair.

Ketiga, Bijak Menggunakan Energi.

  1. Mematikan lampu, matikan lampu yang tidak terpakai
  2. Jalan kaki ke masjid, untuk mengurangi emisi karbon yang dihasilkan usahakan jalan kaki, naik sepeda atau naik kendaraan umum.
  3. Kurangi berpergian, perbanyak ibadah.
  4. Sedekahkan barang-barang layak pakai (elektronik, baju, buku, majalah. Dll)

Sebagai kesimpulan, mari kita gunakan kesempatan bulan Ramadhan kali ini dengan memperbanyak ibadah, baik yang mahdhah maupun ghaira mahdhah yaitu dapat mengelola makanan dengan baik, hemat memakai air dan bijak menggunakan energi dengan landasan keimanan, sehingga insyaallah ketakwaan mampu kita raih pada Ramadhan tahun ini.

oleh: Abdurrahman Hilabi