/Ekstrimisme dan Perubahan Iklim Ancaman Terbesar Keamanan Dunia

Ekstrimisme dan Perubahan Iklim Ancaman Terbesar Keamanan Dunia

“Ekstrimisme dan perubahan iklim merupakan dua ancaman terbesar terhadap keamanan dunia”. (Survei Internasional oleh Pew Research Center). Itulah yang di sampaikan KH Muhyiddin Junaidi, salah seorang Ketua MUI, dalam pembukaan lokakarya “Mengedepankan Tanggung Jawab dan Kepemimpinan untuk Konservasi Keanekaragaman Hayati dan Satwa Liar”, pada 16 November 2017.

“Perubahan iklim telah memicu peningkatan ekstrimisme” demikian laporan kantor luar negeri Jerman yang mendukung hasil survey Pew Research Center diatas. Laporan lainnya oleh Berlin thinktank Adelphi menyatakan bahwa perubahan iklim telah mengakibatkan kerentanan pangan pada sekelompok masyarakat karena berkurangnya ketersediaan air dan lahan subur. Situasi ini dimanfaatkan oleh sekelompok ekstrimis dengan menawarkan alternatif mata pencaharian dan insentif ekonomi.

Di Suriah, misalnya, perang sipil enam tahun sekarang dan bangkitnya ISIS, telah diperparah dengan terjadinya kekeringan terburuk dan terluas dalam sejarah negara tersebut. Bencana ini menjadikan jutaan orang masuk ke dalam jurang kemiskinan yang ekstrim dan kerawanan pangan. Sebagian peneliti menyatakan bahwa kerusuhan di Suriah dipicu akibat perubahan iklim. Jadi terorisme muncul tidak hanya dari faktor ideologi tapi juga dapat timbul karena tidak berfungsinya faktor ekonomi akibat kerusakan alam.

Dalam konteks perubahan iklim, MUI telah bekerjasama dengan seluruh pihak, terutama dengan pemerintah dan telah menetapkan enam fatwa terkait lingkungan hidup dan sumber daya alam. Tujuan fatwa-fatwa ini adalah memberikan landasan syariah guna memberikan pencerahan pada masyarakat Indonesia dan dunia bahwa muslim adalah bagian dari komunitas dunia yang prihatin mengenai lingkungan hidup dan perubahan iklim. Hal ini juga menunjukan pada dunia bahwa umat musim Indonesia juga peduli pada Sustainable Development Goals (SDGs) atau Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB) yang pelaksanaan pencapaiannya tertuang dalam Perpres 59/2017.

Dalam tataran praktis dalam menghadapi perubahan iklim, MUI bersama Dewan Masjid Indonesia (DMI) telah meluncurkan program nasional masjid ramah lingkungan atau ecoMasjid pada Muktamar VII DMI oleh Bapak HM. Jusuf Kalla pada 11 November 2017. Program nasional ecoMasjid ini intinya mengajak kita semua untuk segera menyadari dan memulai kegiatan dalam menghadapi perubahan iklim yang ancamannya semakin terasa pada kehidupan saat ini. Program ini dimulai dengan pengelolaan sumber daya air dan penggunaan energi terbarukan yang ramah lingkungan. Dengan jumlah penduduk yang besar dan potensi sekitar 800 ribu masjid di Indonesia serta hutan tropis yang luas, maka tentunya umat muslim Indonesia dapat memberikan kontribusi yang signifikan terhadap perubahan iklim ini.

Dengan mengedepankan tanggung jawab dan kepemimpinan yang baik, Insya Allah Indonesia menjadi baldatun thoyyibatun wa Rabbun ghafur. Sebaliknya bila salah kelola maka dari negara yang penuh ni’mah atau barokah menjadi negara yang niqmah atau malapetaka” tegas KH Muhyiddin.

Oleh: Hayu Prabowo