/Etos Islam Tentang Alam dan Kehidupan

Etos Islam Tentang Alam dan Kehidupan

Share tulisan ini di social media

Prof. Ahmad M. Saefuddin
Menteri Negara Pangan dan Hortikultura (1998-1999)
(diangkat dari Mimbar Ulama no. 70, Juni 1983)

PENDAHULUAN

Alam dan kehidupan merupakan dua komponen lingkungan hidup manusia dalam sistem alam semesta. Dengan sistem nilai dan norma tertentu, manusia dapat merubah alam menjadi suatu sumber kehidupan yang positif (manfaat) maupun negatif (mudarat), yang lalu memiliki dampak pada nature maupun super nature. Dampak manfaat akan membawa manusia kepada kebahagiaan, kesejahteraan atau kemuliaan. Sedang dampak mudarat bisa menyebabkan kehancuran kehidupan manusia sendiri. Dampak dan masalah ini dapat berkategori transnasional atau mondial, regional dan lokal mulai dari tingkat yang paling menggembirakan sampai yang paling membahayakan dengan derajat sofistikasi beragam.

Menurut dimensi ruang dan waktu, dunia telah dan selalu dibaca para ulil albab atau ahli pikir dengan pendekatan dan estimasi optimis, pesimis maupun plausible sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dan kepekaan manusia sendiri terhadap yang dinamakan environmental responsibility & problems. Sebagaian ahli pikir mencoba menggunakan Islam sebagai sistem nilai dan norma untuk memecahkan masalah kehidupan seluruh mahluk di bumi ini sebagai ungkapan rasa tanggung jawabnya terhadap pemeliharaan kelestarian alam dan sekaligus mencegah derasnya polusi akibat perbuatan manusia sendiri sebagai khalifah Allah. “Sudah bertebaran kerusakan dan penghancuran di daratan dan lautan (juga di udara) karena akibat usaha yang dilakukan tangan manusia, biar Allah merasakan kepada mereka akan sebagian akibat pekerjaan mereka. Semoga mereka (sadar) kembali.” (Q.S. Ar-Rum : 41).

PENDEKATAN SISTEM NILAI DAN NORMA

Islam merupakan risalah atau ajaran yang disampaikan Allah kepada Nabi sebagai petunjuk seluruh manusia. Islam sebagai petunjuk sempurna bagi manusia dalam penyelenggaraan kehidupan di bumi dan mengatur hubungan serta tanggung jawab secara vertikal kepada Allah dan secara horisontal kepada dirinya, masyarakat, serta alam semesta. Di dalamnya terdapat sistem nilai bagi manusia untuk memecahkan beragam masalah kehidupan yang dihadapi. Sistem nilai Islam merupakan perangkat keyakinan dan identitas yang mewarnai motivasi dan pola pemikiran, perasaan, keterikatan, perilaku, dan tujuan hidupnya. Sedangkan norma merupakan penjabaran nilai dalam bentuk peraturan atau petunjuk pelaksanaannya.

Bagi muslim tersedia sumber nilai dan norma ilahiyah yaitu Quran dan Sunnah serta nilai duniawiyah yaitu pikiran dan kenyataan alam. Sumber nilai duniawiyah atau mondial digunakan sepanjang tidak menyimpang dari sistem nilai ilahiyah.

Q.S. Al-An’am (6) : 153, “Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalanKu yang lurus, maka ikutilah ia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dan jalanNya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertaqwa”.

Pengaruh sistem nilai dan norma Islam terhadap perilaku manusia dapat secara integral (kaffah) atau parsial bergantung kepada beberapa faktor: keyakinan total terhadap sistem nilai norma, daya serap untuk menggunakan sistem nilai tsb, pengaruh interdependensi dengan sistem nilai dan norma lainnya, kondisi fisiologik, psikologik dan fisik, dan kendala atau hambatan lainnya yang tidak dapat dihindari. Dengan demikian dapat dijumpai perilaku yang beragam dari muslim dalam menempatkan posisi dirinya pada dam semesta maupun kepada masyarakat dan Allah PenciptaNya. Dan akibatnya ialah adanya perbedaan persepsi manusia terhadap risalah Islam dan akhirnya terjadi keragaman perilaku.

Dengan sistem nilai dan norma Islam kita dapat mendekati dan membaca berbagai aspek kehidupan dan lingkungan hidup serta dimensi alam semesta. Dan dengan keterikatan sepenuhnya secara kuat terhadap sistem nilai ilahiyah maka manusia tidak akan cenderung antroposentris, artinya bila ia melakukan sesuatu untuk mempertahankan, memelihara, mengembangkan dan meningkatkan kualitas hidupnya tidak hanya terarah kepada diri manusia sendiri. Manusia yang demikian akan selalu mengingat (dzikir) Allah sambil berdiri, duduk atau berbaring, dan memikirkan (fikir) tentang penciptaan langit dan bumi. Dan akhirnya ia menghayati rasa tanggung jawab terhadap mutu kehidupan dan menyerahkan penilaiannya kepada Allah. Lihat firman Allah. Q.S. Ali lmran (3): 191, “(Yaitu) orang yang mengingat Allah ketika berdiri, duduk dan waktu berbaring; dan mereka memikirkan kejadian langit dan bumi (sambil berkata) : Ya Tuhan kami, bukanlah Engkau jadikan ini dengan percuma, Maha Suci Engkau, maka peliharakanlah kami dari siksaan neraka.”

la akan selalu berusaha berpikir, menggunakan akalnya secara sistematik sehingga menemukan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk mengelola sumber-sumber alami yang disediakan Allah bagi kehidupan, tanpa lepas dari dzikir. Dengan demikian kegiatan ilmiahnya tetap terjalin dengan nilai ilahiyah. Lihat firman Allah, Q.S. Luqman (31): 20, “Tidakkah kamu perhatikan bahwa Allah menundukkan (memudahkan) untukmu apa yang dilangit dan yang dibumi dan menyempurnakan untukmu ni’matNya lahir dan batin. Diantara manusia ada yang membantah tentang (keesaan) Allah tanpa ilmu, tanpa petunjuk dan tanpa kitab yang terang.”

Q.S. An-Naba’ (78): 6-16, “Bukankah kami yang menjadikan bumi (sebagai) hamparan (tempat mereka). Dan gunung-gunung sebagai tiangnya. Dan kami ciptakan kamu berpasangan (pria-wanita). Dan Kami jadikan tidurmu untuk beristirahat. Dan kami jadikan malam sebagai selimut (menutupi kamu dengan kegelapannya). Dan Kami jadikan siang untuk mencari penghidupan. Dan Kami bangun diatas kamu tujuh (langit) yang kuat. Dan kami adakan lampu (matahari) yang terang benderang. Dan Kami turunkan dari awan air yang tercurah (hujan) supaya Kami tumbuhkan dengan air itu biji dan tanaman. Dan kebun-kebun yang berlapis-lapis.”

Dengan sistem nilai ilahiyah dapat dibaca dengan terang proses iterasi ekosistem sumber-sumber alami dan insani untuk mencapai tujuan kehidupan yang baik di dunia yang diridhoi Allah.

Pada Gambar di atas tampak bahwa dari manapun kita membaca dan manalar ekosistem semuanya tidak terlepas dari pengadilan nilai dan norma Islam. Sumber daya alami & hayati adalah anugerah dan karunia Allah yang diamanahkan kepada manusia sebagai khalifahNya; ilmu dan teknologi digali, ditemukan, dimanfaatkan dan di kembangkan dalam mengelola sumber daya merupakan ibadah; untuk mencapai tujuan kebahagiaan hidup di dunia & akhirat yang dijauhkan dari siksa neraka. Adanya hidup akhirat karena adanya hidup di dunia. Hadis Nabi : “Kamu lebih mengetahui urusan duniamu”.

KONSEP ALAM SEMESTA

Proses penciptaan alam semesta oleh Allah tidaklah fragmentaris atau parsial. CiptaannNya yang satu mempunyai hubungan dan kaitan sistemik dengan ciptaan-Nya yang lain dan merupakan kesatuan yang utuh dalam suatu sistems atau pranata yang besar. Universum yang eksak, kokoh, teratur rapih dan harmonis. Alam nyata yang merupakan medan empiri diciptakan Allah sesuai dengan keperluan hidup manusia dan mahluk hidup lainnya. Air, tanah, udara, matahari, semuanya merupakan kehidupan manusia, yang menjadi bukti kesengajaan penciptaan yang direncanakan secara sistematik, dan tidak mungkin terjadi secara kebetulan. Kejadian alam semesta yang sistemik ini mengarahkan manusia agar mampu menghayati wujud, keesaan dan kebesaran Allah. Q.S. Al Ghasyiyah (88) : 17-22, artinya “Tidakkah mereka memperhatikan unta, bagaimana is dijadikan? Dan (memperhatikan) langit, bagaimana ia ditinggikan? Dan (memperhatikan) gunung-gunung, bagaimana ia ditegakkan? Dan (memperhatikan bumi, bagaimana ia didatarkan? Maka berilah (mereka) peringatan, engkau hanya memberi peringatan. Engkau bukan memaksa mereka.”

Titik pusat alam semesta ialah manusia yang diciptakan Allah dalam keadaan paling balk, karena itu kepadanyalah Allah menyerahkan tugas pengelolaan, pembudayaan dan memakmurkan di bumi dan langit. Q.S. Hud (11) : 61, “(Telah Kami utus) kepada Tsamud, seorang saudaranya, Shalih. la berkata : Hai kaumku, sembahlah Allah, tidak ada bagimu Tuhan selain dari pada Nya. Dia menjadikan kamu dari bumi, dan memakmurkanmu, sebab itu minta ampunlah kamu, kemudian taubatlah kepadaNya. Sesungguhnya Tuhanku Maha dekat lagi memperkenankan (permintaan)”

Alam semesta yang integral (utuh) ciptaan Allah memiliki karakter sebagai berikut:

  • Baik dan indah. QS Al-Mulk (67) : 2-4, “Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa diantara kamu yang lebih baik amalannya, dan Dia Maha Perkasa lagi Pengampun. Yang menjadikan tujuh langit bertingkat-tingkat; tidakkah engkau lihat kekurangan (tidak sesuai) pada mahluk Rahman (Allah); maka engkau ulanglah melihatnya (langit itu), adakah engkau lihat (disana) pecah belah (rusak)?” Kemudian engkau ulanglah melihatnya dua kali Iagi, niscaya kembali mata engkau menjadi hina dan silau.”
  • Bermanfaat, sebagai organisasi/pranata hesar dengan keseimbangan ekologik. QS Ad-Dukhaan (44) : 38, “Bukanlah Kami jadikan langit, bumi, dan apa yang diantara keduanya dengan bermain-main (percuma).”
  • Dapat dipelajari, dengan akal manusia. QS Al-Jaatsiyah (45) : 13, artinya “Dia menundukkan untukmu apa yang dilangit dan apa yang dibumi semuanya (sebagai karunia) dari padaNya. Sungguh pada demikian itu beberapa ayat (keterangan) bagi kaum yang berpikir.”
  • Tunduk dan patuh kepada Allah Penciptanya. QS Ali lmran (3) : 83, artinya “Mengapakah mereka mencari (agama) selain dari agama Allah, padahal telah tunduk kepadaNya siapa yang dilangit dan dibumi, dengan sukarela atau terpaksa dan kepadaNya mereka dikembalikan.”
  • Berubah menjadi tua, rusak dan berakhir.QS Al-Qashash (28) : 88, artinya, “Janganlah engkau sembah Tuhan Yang lain bersama Allah; tidak ada Tuhan melainkan Dia; tiap sesuatu akan binasa kecuali zatNya, BagiNya hukum (putusan) dan kepadaNya kamu dikembalikan.” Baca juga QS Ar-Rahman (55) : 26.27, “Tiap siapa (orang, hewan) yang diatas bumi akan fana (binasa). Dan tinggallah zat Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemurahan.

Karakter ciptaan Allah berupa alam semesta itu utuh. Sedangkan ciptaan manusia, yang hakikatnya memproses apa yang diciptakan Allah untuk hidupnya, bersifat fragmentaris, karena manusia tidak menguasai sistem alam semesta, sehingga bisa mengakibatkan kerugian bagi manusia sendiri walau pada mulanya bertujuan untuk kebaikan. Lihat QS Al-Kahfi (18) : 103-104, artinya “Katakanlah: Maukah Kami kabarkan kepadamu, tentang orang-orang yang amat merugi perbuatannya? (Yaitu) orang-orang yang sesat perbuatannya waktu hidup didunia, sedangkan mereka mengira bahwa mereka mengerjakan pekerjaan itu sebaik-baiknya.”

SUMBER DAYA INSANI

Dalam alam semesta ini dan diantara sumber daya hayati, manusialah sebagai faktor penentu kehidupan sebagai khalifah Allah yang ditugaskan sebagai manajer sistem tunggal yang meliputi bumi dan yang tunduk dan taat kepada Pengatur dan Pencipta sistem. “Sesungguhnya kami menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya” (QS 9 : 4), sebagai khalifah dimuka bumi (QS 2 : 30), dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan mahluk yang telah Kami ciptakan (QS 17 : 70).

Kelebihan manusia dari mahluk lainnya baik nabati maupun hewani karena “Allah telah mengajarkan kepada Adam nama-nama benda seluruhnya (QS 2 : 31), dan meniupkan kedalamnya roh (ciptaan) Ku (Q.S. 15 : 29), agar supaya manusia bersifat mulia dan mempunyai akal dan ilmu. Dan Allah telah menunjukkan kepadanya dua jalan (QS 90 : 8-10) yaitu kemampuannya membedakan antara kebaikan dan kejahatan. Allah memberi pula kebebasan berpikir kepada manusia untuk memilih apabila Allah bertanya “maka apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya semua-nya menjadi orang yang beriman?” (QS 10 : 99).

Diantara manusia sendiri ada perbedaan derajat, “Allah meninggikan sebagian kamu atas sebagian yang lain beberapa derajat untuk mengujimu tentang apa yang diberikanNya kepadamu” (QS,6 : 165), agar supaya diketahui “siapakah yang terbaik perbuatannya” (QS 18 : 8) terhadap “hartamu dan dirimu sendiri” (Q 3 : 186). Selain bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri dan hartanya, manusia memikul tanggung jawab pula terhadap sesamanya, dan seluruh alam ini. QS 33 : 72, artinya “Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanah kepada langit, bumi, dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanah itu dan mereka khawatir akan menghianatinya, dan dipikullah amanah itu oleh manusia sesungguhnya manusia itu amat lalim dan bodoh.”

Manusia sebagai khalifah Allah dibumi mendapat amanah agar memelihara dan mendayagunakan alam dengan sebaik-baiknya, dan mengendalikan penggunaan alam beserta sumber-sumbernya menurut kehendakNya. Allah menciptakan manusia untuk satu tujuan tertentu ialah “Dan Aku tidak men-ciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi (beribadah) kepadaKu” (QS 51 : 56), dengan meni’mati segala macam rizki yang disediakan di alam ini. “Hai manusia, sembahlah Tuhanmu Yang telah menciptakanmu dan orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertaqwa. Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu dengan hujan itu dihasilkan segala buah-buahan sebagai rizki untukmu; karena itu janganlah menyekutukan Allah padahal kamu mengetahui” (QS 2 : 21 – 22).

Manusia mendapat ni’mat di bumi dengan sempurna sesuai dengan kebutuhannya. “Dialah Allah yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu” (QS 2 : 29), dan Allah menundukkan seluruh alam un-tuk manusia (QS 14 : 32-34; 16:10-16; 22:65; 31:20; 45:12-13), dan memberi kuasa atas hewan ternak (QS 16 : 5-8; 36:71-73), dan Allah menjadikan bumi itu mudah bagi kamu” (QS 67 : 15).

Walaupun manusia ditempatkan Allah dalam posisi dan derajat yang lebih tinggi dari mahluk lainnya, tetapi tidak berarti bahwa mereka memiliki kekuasaan yang tanpa batas terhadap alam dan isinya. “Tiadalah binatang-binatang yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya melainkan ummat (juga) seperti kamu ” (QS 6 : 38). “Dan Allah telah meratakan bumi untuk mahluk Nya; di bumi itu ada buah-buahan dan pohon kurma yang mempunyai kelopak mayang. Dan biji-bijinya yang berkulit, dan bunga-bunga yang harum baunya. Maka ni’mat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?” (QS 55 : 10-13, lihat juga 11:6; 15:20; 41:10)

Allah menjelaskan pula tentang sumber daya nabati (flora) dalam QS 15 : 19, 21-22; 16-10-11; 26:6; 27:60; 31:10; 50:7-9; 55:7111), dan sumber daya hewani (fauna) dalam QS 6:38, 141-145. Flora dan fauna adalah mahluk hidup yang ummat juga dan harus mendapat bagiannya dalam pengelolaan keseimbangan ekologik dari alam ini oleh manusia.

Dari uraian di atas maka dalam mengeloIa sumber daya alam, manusia haruslah memenuhi kriteria sebagai berikut:

  • Memberi tempat wajar kepada mahluk lainnya dan juga terhadap sesama manusia di bumi ini. “Kepada masing-masing golongan Kami berikan bantuan dari kemurahan Tuhanmu” (QS 17 : 20).
  • Tidak berIebih-lebihan atau bersifat kerakusan (greed).”Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah pada tiap (memasuki) masjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan” (QS 7 : 31; lihat juga QS 6 : 141).
  • Memelihara keseimbangan takaran yang telah ditentukan Allah. “Dan Kami menghamparkan bumi dan menegakkan gunung-gunung di atasnya dan Kami tumbuhkan diatasnya segala sesuatu menurut ukuran” (QS 15 : 19; lihat juga 55: 7 — 8).
  • Menggunakan akal (yang menghasilkan ilmu untuk manfaat) dan rasa (yang mencerminkan keindahan, seni), yang bertujuan membawa manusia kepada tauhid sebagai prinsip asas Islam. Lihat QS 87:1 — 5;6 : 96; 10 : 5;36: 38-39).
  • Bersyukur. (QS 30 : 46; 31 : 31 ; 42 : 33).

Ketidaksempumaan kriteria pengelolaan sumberdaya alam oleh manusia, telah kita saksikan dengan jelas akibatnya, yaitu kerusakan kehidupan dan lingkungan hidup: kemiskinan, kebodohan, kerakusan, polusi daratan dan lautan, kejahatan dan dekadensi moral lainnya yang melanda dunia beserta isinya.

ILMU UNTUK KEHIDUPAN

Perkembangan ilmu-ilmu teologi, filsafat dan sains, yang merupakan konsep berpikir dalam merenungkan Pencipta dan Mahluk-Nya telah membawa peradaban manusia ke tingkat tertentu. Manusia menggali ilmu-ilmu tersebut dari sumber Quran dan Hadits, dirinya sendiri dan alam semesta untuk manfaat kehidupan yang patuh dan taat kepada perintah Allah (QS 2 : 164), 41:53 51 : 20-21 untuk mencari tanda-tanda keesaan dan kebesaran Allah, semuanya ini memberi warna dan nilai ilmu yang tinggi dalam Islam. Allah memerintahkan seluruh manusia supaya merenung tentang alam semesta agar manusia menyadari keesaan dan kebesaran Allah dan tanda-tandaNya. Tanda-tanda tersebut adalah bagi manusia yang memikirkan (QS 13 : 3; 30 : 21; 45 : 13), yang mengetahui (QS 6 : 97; 10 : 5; 30 : 22), yang berakal (QS 3 : 190;30 : 24; 45 : 5), yang memiliki penglihatan (QS 24 : 44), yang mendengarkan (QS 30 : 23), yang sabar (QS 31 : 3; 30 : 33), yang bertaqwa (QS 10: 6), yang bersyukur (QS 30 : 46; 31 : 31; 42 : 33), yang yakin (QS 45 : 4; 51 : 20), dan yang beriman QS 6 : 99; 45 : 3).

Keterangan-keterangan tentang dorongan agar manusia dengan akal pikiran dan ilmunya menjadi manfaat bagi semesta, lihat QS 3:190-191; 6 : 95 – 99; 10 : 5-6; 12 : 105; 13 : 2-4; 17 : 12; 24 : 41-46; 30 : 20-27, 46; 31: 31-32; 36 : 33-34; 41 : 39-40,53; 42 : 29, 32-35; 45 : 3-6,13; 51 : 20-23.

Menimba, menggali, menemukan dan men-daya gunakan ilmu merupakan jalan bagi manusia untuk mencapai tujuan hidupnya dan peningkatan kualitas kehidupannya sebagai mahluk beriman.

Firman Allah, sebagai berikut :”Bacalah dengan nama Tuhanmu yang mencipta. la menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah sedang Tuhanmu sangat pemurah. Yang mengajar manusia dengan kalam. la mengajar manusia apa yang tidak mereka ketahui” (QS 96 : 1-5). “Dan katakanlah, Ya Tuhanku, tambahlah ilmu pengetahuanku.” (QS 20:114). “Apakah sama orang yang berilmu dengan orang yang tidak berilmu?” (QS 39:9).

Hadits Nabi Muhammad saw sebagai berikut :

  • “Barangsiapa meninggalkan keluargamu untuk menuntut ilmu maka ia menuju ke jalan Allah.”
  • “Menuntut ilmu itu wajib atas tiap muslim balk pria maupun wanita”
  • “Ilmu itu memberi kepada seorang untuk membedakan antara yang hak dan yang batil serta menuntun ke jalan yang lurus. Ilmu itu teman bagi seorang musafir kelana di gurun sahara. Ia adalah ketenteraman pada waktu sendirian, teman bagi siapa yang tidak mempunyai teman, penuntut ke jalan kebaikan dan tempat bersandar pada waktu kesulitan”
  • “Ilmu itu perhiasan seorang dihadapan teman dan senjata dihadapan musuh.”
  • “Tuntutlah ilmu mulai dari buaian sampai ke liang lahad.”
  • “Tuntutlah ilmu. Menuntut ilmu berarti menuju ke jalan Allah. Menguraikannya sama dengan mengucap syukur kepada Allah. Berusaha mencarinya adalah satu ibadah, dan mengajarkannya kepada manusia adalah zakat.”
  • “Malaikat mengibarkan sayap-sayapnya di-atas kepala penuntut ilmu”.
  • “Pada hari kiamat nanti, tinta para ulama ditimbang dengan darah para syuhada.”

Ilmu-ilmu sebagaimana firman Allah dan Hadits Nabi jelas berkarakter mengenal kekuasaan Allah, dan tidak mengenal sifat-sifat sebagaimana sains non-islamik yang umumnya sekuler, rasionalistik, deterministik, matematikistik, dan mekanistik tanpa mengarah kepada tauhid. Kemanfaatan ilmu-ilmu itu terlihat dalam pemikiran lingkungan hidup tentang misalnya daya tahan ekosistem, pemukiman manusia dan cagar alam, pollusi udara, air, tanah, tingkah laku hidup politik, sosio-ekonomi, moral, teknologi dll, serta pembahasan masalah keterbatasan kapal ruang angkasa yang bernama bumi pada umumnya, yang kesemuanya merupakan topik-topik meja dewasa ini, baik meja bertaraf lokal, regional maupun transnasional.

PENUTUP

Alam semesta, sumber daya, manusia, ilmu dan teknologi adalah kata-kata kunci yang memiliki berbagai dimensi sebagai mahluk. Allah dalam satu sistem keesaan Allah, yang merupakan prinsip asas kehidupan berdasarkan sistem nilai dan norma Islam. Lingkungan hidup yang demikian merupakan ecological morality yang diharapkan dapat membebaskan kemiskinan, kebodohan, kerakusan, dan kerusakan nilai dari pada manusia dewasa ini maupun pada waktu mendatang. Untuk itu pemikiran manusia terhadap sistem nilai dan norma Islam dapat diperbaharui atau diperbaiki, tetapi Islam itu sendiri tidak perlu diperbaharui. Sebab, Islam yang diperbaharui akan menjadi bukan Islam lagi, bahkan menjadi barang yang lain sama sekali. Udkhulu fissilmi kaffah, masuklah kedalam Islam secara keseluruhan!