/Green Growth and Sustainability dalam Timbangan Maqasid Syari’ah

Green Growth and Sustainability dalam Timbangan Maqasid Syari’ah

Share tulisan ini di social media

Indonesia merupakan negara dengan kekayaan alam yang sangat kaya, namun kegiatan produksi yang hanya mementingkan pertumbuhan ekonomi dapat menghilangkan kekayaan alam Indonesia. Keberlanjutan menjadi pertimbangan utama dalam kegiatan produksi agar anak-cucu penerus Bangsa Indonesia dapat memiliki akses dan pemanfaatan yang sama dengan kita terhadap sumber daya alam.

Sektor lingkungan tidak bisa dengan mudahnya dikorbankan demi mengingkatkan pertumbuhan ekonomi suatu negara. Sektor lingkungan tetap perlu dijaga untuk mengamankan fungsi alam sebagai sistem penyangga kehidupan. Tantangan di era modern ini adalah bagaimana suatu negara dapat meningkatkan laju pertumbuhan ekonominya dan sekaligus melestarikan sumber daya alam yang ada di negara tersebut. Dari berbagai alternatif yang ada, pembangunan yang menganut konsep Pertumbuhan Hijau dan keberlanjutan dianggap menjadi solusi yang tepat untuk menjawab tantangan tersebut.

Konsep keberlanjutan juga harus diintegrasikan ke dalam setiap kegiatan pembangunan. Konsep keberlanjutan ini bukan hanya pada sisi lingkungan, tetapi juga keberlanjutan di sisi teknologi, ekonomi, dan bahkan sosial. Penerapan konsep keberlanjutan pada pola pembangunan yang bertumpu pada Pertumbuhan Hijau ini diharapkan akan menjadikan kegiatan pembangunan akan lebih lestari dan mencapai tujuan yang diharapkan. Dalam penerapannya kemudian, konsep keberlanjutan ini kemudian diimplementasikan di berbagai sektor, termasuk di sektor industri.

Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) menerbitkan sebuah rencana pembangunan yang bernama Delivering Green Growth for a Prosperous Indonesia. Rencana Pembangunan tersebut menggarisbawahi kesempatan, metodologi, dan 50 aksi prioritas untuk mencapai pertumbuhan yang inklusif dan adil, berkelanjutan, menjaga ekosistem agar tetap sehat dan produktif, sekaligus mengurangi Gas Rumah Kaca.

Islam mempunyai pandangan dan konsep yang sangat jelas terhadap pertumbuhan ekonomi dan pengelolaan sumber daya alam, karena manusia sebagai khalifah Allah di bumi diperintahkan untuk berperilaku baik dan tidak berperilaku merusak.

Selanjutnya, Khalifah yang merupakan tugas yang diberikan oleh Allah SWT kepada manusia untuk menjadi makhluk pengelola di muka bumi, untuk memperbaiki apa yang telah dilakukan pada masa sebelumnya. Dalam surat Al-Baqarah ayat 30 dijelaskan:

“Dan (ingatlah) tatkala Rabbmu berkata kepada malaikat, ‘Sesungguhnya Aku hendak menjadikan di bumi seorang khalifah’. Berkata mereka, ‘Apakah Engkau hendak menjadikan padanya orang yang merusak di dalamnya dan menumpahkan darah, padahal kami bertasbih dengan memuji Engkau dan memuliakan Engkau?’. Dia berkata, ‘Sesungguhnya Aku lebih mengetahui apa yang tidak kamu ketahui” (QS. Al-Baqarah: 30)

makna khalifah adalah amanah yang diberikan Allah untuk memelihara dan merawat alam dan tidak untuk sebaliknya yaitu menciptakan kerusakan dan pertumpahan darah.

Dalam penerapan pertumbuhan berkelanjutan, pemerintah perlu memperhatikan lima keperluan dasar manusia yang harus dipenuhi yaitu: Pemeliharaan terhadap keselamatan agama (al-Din), Jiwa (al-Nafs), Akal (al-Aql), Keturunan (al-Nasl) dan Harta benda (al-Maal).

Standar hidup manusia yang diberikan oleh Islam ini merupakan standar hidup yang sudah mengatur segala hal. Melalui pendekatan maqashid syari’ah inilah Green Growth dilaksanakan. Oleh karena itu pertumbuhan hijau merupakan usaha yang dilakukan untuk menciptakan kebaikan yang harus mendatangkan faedah atau manfaat, karena tanpa pertumbuhan yang tidak sesuai dengan ajaran agama Islam kesejahteraan tidak mungkin dicapai. Apabila penerapan konsep ini berlaku dalam sistem pemerintahan maka akan terjalin mashlahat bukan hanya bagi muslim tetapi juga masyarakat yang lebih luas.

Islam telah memberikan maqashid syar’iah sebagai cara untuk mencapai kesejahteraan. Karena, tidak adanya solusi atas prilaku serakah manusia yang merupakan sumber masalah dan membuat pembangunan yang direncakan sulit tercapai.

Oleh sebab itu program Eco Masjid bisa menjadi bentuk implementasi Pertumbuhan Hijau yang tepat dan dapat merangkul banyak target, mengingat besarnya jumlah umat Muslim di Indonesia. Program Eco Masjid memerankan institusi masjid yang peduli akan lingkungan; seperti tidak membuang-buang air wudhu, mematikan lampu di masjid ketika tidak dipakai, menjaga kebersihan masjid dll. Program Eco Masjid yang disosialisasikan di masjid-masjid mampu memobilisasi potensi keagamaan sehingga dapat menjangkau dan menyadarkan masyarakat luas bahwa perilaku ramah lingkungan baik untuk kelestarian alam dan juga merupakan amal shaleh yang akan mendapat pahala disisi Allah SWT.

Oleh: Abdurrahman Hilabi