/Hablun Minal ’Alam: Memakmurkan Lingkungan Hidup
hablun-minal-alam

Hablun Minal ’Alam: Memakmurkan Lingkungan Hidup

Oleh: Dr. H. Wajidi Sayadi, M.Ag.

 

اَلْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ اْلعَالَمِيْنَ وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ عَلَى اُمُورِاْلدُنَّيَا وَالّدِين. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِله إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَه رَبُّ الَعَالَمِينَ وَقَيُّومُ السَّمَوَاتِ وَاْلأَرَضِينَ ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ الْمَبْعُوثُ لأُتَمِّمَ مَكَارِمَ أَخْلاَقِ الْمَخْلُوْقِيْنَ , رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ , اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَالتَابِعِينَ وَالْعَامِلِيْنَ بِسُنَّتِهِ ، وَالدَّاعِيْنَ إِلَى شَرِيْعَتِهِ ، الرُّحَمَاءُ فِيْمَا بَيْنَهُمْ إِلَى يَوْمِ الدِّيـْنِ . أَمَّا بَعْدُ فَيَا عِبَادَ اللهِ ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ ، وَتَزَوَّدُوْا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى فَقَالَ اللهُ تَعَالَى: يَاأَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ.

 

Kaum Muslimin yang dirahmati Allah

Alhamdulillah kita senantiasa bersyukur berterima kasih kepada Allah atas segala limpahan rahmat-Nya sehingga kita masih sempat bernafas dan menghirup udara segar dan sehat dapat melaksanakan tugas kewajiban sebagai umat Islam. Salah satu keistimewaan Islam adalah ajarannya bersifat komprehensif, Islam tidak hanya mengajarkan bagaimana hablun min Allah (hubungan dengan Allah), hablun minannas (hubungan sesama manusia), tapi juga meliputi hablun minal alam (hubungan dengan alam dan sesama makhluk).

Suatu hal yang sangat memprihatinkan bersama hingga saat ini adalah terjadinya kerusakan alam lingkungan hidup. Padahal lingkungan ini sangat mempengaruhi perkembangan kehidupan kita manusia baik langsung maupun tidak langsung. Kita makan, minum, bekerja, belajar, menjaga kesehatan, semuanya memerlukan lingkungan. Kita bernapas memerlukan udara dari lingkungan sekitarnya. Kerusakan lingkungan muncul, salah satu faktornya adalah karena ulah manusia itu sendiri. Misalnya pencemaran udara, air, dan tanah sebagai akibat dari pembakaran lahan yang serampangan dan pabrik industri yang melanggar amdal. Terjadinya banjir setiap saat musim hujan di banyak tempat, sebagai dampak buruknya drainase atau sistem pembuangan air, dan kesalahan dalam memelihara daerah aliran sungai. Terjadinya tanah longsor juga sebagai dampak dari pengrusakan hutan dan lingkungan.

 

Kaum Muslimin yang dirahmati Allah

Beberapa tahun belakangan ini, kita bangsa Indonesia dilanda berbagai macam bencana, misalnya banjir, tsunami, tanah longsor, gempa bumi, gunung meletus, dan lain-lain. Berbagai macam teori dikemukakan sebagai penyebabnya termasuk karena kerusakan lingkungan hidup serta boleh jadi disebabkan oleh peningkatan suhu bumi yang luar biasa karena dipicu oleh pemanasan global (global warming). Kenyataan semua ini sekarang menjadi fokus perhatian kita umat manusia di berbagai belahan dunia.

Sebetulnya jauh sebelumnya, Islam sudah memberikan solusi dari permasalahan kerusakan lingkungan tersebut. Islam mengajarkan kepada kita bahwa di antara tugas kewajiban kita selain beribadah kepada Allah juga diberi tugas agar memakmurkan bumi, dalam artian bagaimana kita melestarikan dan mengelola lingkungan. Sebagaimana dalam firman Allah.

هُوَ أَنْشَأَكُمْ مِنَ الْأَرْضِ وَاسْتَعْمَرَكُمْ فِيهَا

Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya“. (QS. Hud [11]: 61).

Dalam ayat ini kata اسْتَعْمَرَ ada penambahan huruf sin dan ta’ mengandung perintah. Maksudnya Allah memerintahkan kita agar memakmurkan bumi. Memakmurkan dalam arti memelihara, menyelamatkan, dan mengelolanya dengan baik dan benar, sehingga menghasilkan kemakmuran bagi manusia dan lingkungan.

 

Kaum Muslimin yang dirahmati Allah

Dalam al-Qur’an, beberapa surat diberi nama dengan nama hewan, seperti surat al-Baqarah (sapi), al-An’am (binatang ternak), al-Fil (gajah), al-‘Adiyat (kuda), an-Naml (semut), an-Nahl (lebah), al-‘Ankabut (laba-laba), dan nama tumbuh-tumbuhan, seperti ath-Thin (sejenis tumbuh-tumbuhan), dan nama lainnya, seperti al-Hadid (tambang), adz-Dzariyat (angin yang menerbangkan sesuatu), an-Najm (bintang), al-Syams (matahari), al-Lail (malam), dan sebagainya. Semuanya ini mengandung isyarat agar kita manusia menyadari bahwa kita ada hubungan dan terikat dengan alam lingkungan dan tidak boleh lalai dalam menjalankan kewajiban untuk melestarikan alam lingkungan.

Alam lingkungan itu tidak boleh dirusak, sebab mereka punya kehidupan juga sebagaimana kita manusia. Dalam Al-Qur’an dengan tegas disebutkan.

وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ وَلاَ طَائِرٍ يَطِيرُ بِجَنَاحَيْهِ إِلاَّ أُمَمٌ أَمْثَالُكُمْ

Dan tiadalah binatang-binatang yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan umat-umat (juga) seperti kamu”. (QS. Al-An’am [6]: 38).

 

Bahkan lebih tegas disebutkan

وَلاَ تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلاَحِهَا ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

“Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi sesudah Tuhan memperbaikinya. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika betul-betul kamu orang-orang yang beriman“. (QS. Al-A’raf [7]: 85).

 

Kaum Muslimin yang dirahmati Allah

Di antara yang bisa dilakukan dalam upaya memakmurkan alam ini adalah menggalakkan penanaman pohon dan tanam-tanaman. Hal ini sudah diinsruksikan Nabi SAW. dalam sabdanya:

مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَغْرِسُ غَرْسًا ، أَوْ يَزْرَعُ زَرْعًا ، فَيَأْكُلُ مِنْهُ طَيْرٌ أَوْ إِنْسَانٌ أَوْ بَهِيمَةٌ ، إِلاَّ كَانَ لَهُ بِهِ صَدَقَةٌ

Tak seorang pun muslim yang menanam pohon atau tanaman, lalu dimakan oleh burung, manusia, atau hewan lainnya, kecuali akan menjadi sedekah baginya. (HR. Bukhari).

Perintah menanam pohon dan tanam-tanaman dalam hadis ini ternyata fungsinya adalah semakin banyak pohon dan tanam-tanaman akan banyak menyerap gas-gas yang bisa membahayakan kehidupan manusia dan lingkungan. Pepohonan dan tanam-tanaman akan mengeluarkan uap air sehingga udara bisa bersih dan sehat, sehingga semakin berkurang dan rusaknya pepohonan dan tanam-tanaman ini akan menyebabkan produksi oksigen bagi atmosfir akan semakin berkurang.

Di samping itu Rasulullah SAW. juga mengajarkan bahwa kehidupan ini merupakan siklus dan ketergantungan antara manusia, tumbuhan, hewan, dan alam. Terputusnya salah satu mata rantai dari sistem tersebut akan mengakibatkan gangguan dalam kehidupan. Oleh karena itu, upaya untuk melestarikan flora dan fauna merupakan hal mutlak dalam rangka menjaga dan memelihara kelangsungan hidup. Antara lain dengan cara: selain menggalakkan kegiatan penghijauan, juga mendirikan cagar alam dan suaka margasatwa, dan melarang kegiatan perburuan liar. Hal ini ditegaskan oleh rasulullah SAW. dalam sabdanya:

مَا مِنْ إِنْسَانٍ يَقْتُلُ عُصْفُوراً فَمَا فَوْقَهَا بِغَيْرِ حَقٍّ إِلَّا سَألَهُ اللهُ عز وجل عَنْهَا ، قِيْلَ : يَا رَسُوْلَ اللهِ، وَمَا حَقُّهَا ؟ قَالَ : يَذْبَحُهَا فَيَأْكُلُهَا ، وَلَا يَقْطَعُ رَأْسَهَا ويَرمِي بِهَا».

Tak seorang pun yang membunuh seekor atau lebih burung pipit tanpa hak, kecuali Allah akan memintai pertanggungjawabannya. Sahabat bertanya, wahai Rasulullah, apa haknya? Beliau menjawab: “Dia disembelih lalu dimakan, tidak dipotong kepalanya lalu dibuang. (HR. Nasai dan Hakim).


Kaum Muslimin yang dirahmati Allah

Kita mengelola dan memanfaatkan alam tidak boleh sampai menimbulkan kerusakan, tapi harus diiringi dengan usaha untuk melestarikan secara produktif. Pada hakekatnya apa yang ada di alam ini juga beribadah dengan cara bertasbih kepada Allah, sebagaimana dalam firman Allah.

 أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ يُسَبِّحُ لَهُ مَنْ فِي السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ وَالطَّيْرُ صَافَّاتٍ كُلٌّ قَدْ عَلِمَ صَلَاتَهُ وَتَسْبِيحَهُ وَاللَّهُ عَلِيمٌ بِمَا يَفْعَلُونَ

“Tidakkah kamu tahu bahwasanya Allah: kepada-Nya bertasbih apa yang di langit dan di bumi dan (juga) burung dengan mengembangkan sayapnya. Masing-masing telah mengetahui (cara) sembahyang dan tasbihnya, dan Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan”. (QS. An-Nur [24]: 41).

 

Dengan demikian, Islam adalah agama yang ramah lingkungan. Islam adalah agama yang mengajarkan agar memanfaatkan dan mengelola alam dengan tetap menjaga kelestarian dan keberlangsungannya dengan damai dan nyaman serta sejahtera.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ ، وَنَفَعَنَا وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيم