/HAKIKAT PUASA RAMADHAN; UPAYA MELATIH JIWA UNTUK TIDAK MERUSAK

HAKIKAT PUASA RAMADHAN; UPAYA MELATIH JIWA UNTUK TIDAK MERUSAK

Share tulisan ini di social media

Puasa berasal dari kata bahasa arab “shaum” yang berarti ”imsak”, menahan diri dari sesuatu. Menurut Sayid sabiq dalam bukunya Fiqih Sunah, secara umum pengertian shaum adalah: ”Menahan diri dari segala perbuatan yang membatalkan, dilakukan sejak terbit fajar hingga terbenam matahari disertai niat berpuasa”.

Dalam sebuah Hadits Rasulallah saw bersabda:

لَيْسَ الصِّيَامُ مِنَ الأَكْلِ وَالشُّرْبِ، إِنمَا الصِّيَامُ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ. فَإِنْ سَابَكَ أَحَدٌ أَوْ جَهْلِ عَلَيْكَ فَقُل: إِنِّى صَائِمٌ إِنِّى صَائِمٌ

Puasa itu bukan hanya meninggalkan makan dan minum. Akan tetapi, puasa itu meninggalkan hal-hal yang keji. Jika kamu dicaci atau dibodo-bodohi orang lain, maka katakanlah, ‘aku sedang puasa.., aku sedang puasa.” (H.R. Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hiban dan Hakim)

Dari uraian di atas makna shaum memiliki dua pengertian: menahan diri dari segala perbuatan yang mufthirat (membatalkan) dan menahan diri dari segala perbuatan yang muhlikat (merusak).

Mufthirat adalah segala tuntutan jasmaniah seperti: makan, minum, dan hubungan suami isteri. Menahan diri dari mufthirat  berarti menghentikan segala kegiatan jasmaniah tadi sejak terbit fajar hingga terbenam matahari selama bulan Ramadhan, dilandasi keimanan dan ketaatan terhadap Allah SWT, serta mengharapkan keridhaan-Nya semata-mata. Padahal pada hari-hari di luar Ramadhan semua perbuatan itu dibolehkan.

Muhlikat adalah segala tuntutan nafsu dan syahwat yang menjurus kepada perbuatan dosa (munkar dan maksiat) seperti berdusta, menista, memfitnah, menghasut, menggunjing, mengadu domba, menipu, dan perbuatan keji tidak terpuji lainnya. Semua perbuatan muhlikat tadi diharamkan bagi manusia mukmin.

Menahan diri dari perbuatan mufthirat dan muhlikat  itulah yang dimaksud dengan ibadah puasa dalam syariat Islam. Nabi Muhammad SAW bersabda:

”Barang siapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta, dan beramal dengannya, maka tidak ada penilaian Allah atas jerih payahnya meninggalkan makan dan minum itu”. (H.R. Jamaah).

Dari hadits di atas memberi gambaran pada kita bahwa puasa seseorang tidak dianggap oleh Allah takala moralnya buruk, baik melalui lidahnya ataupun panca indra yang lain. Karena Ibadah puasa merupakan perjuangan besar, dilakukan dengan menahan diri dari segala tuntutan nafsu yang menjurus kepada perbuatan negatif.

Kerusakan di darat dan laut, kata Allah akibat ulah dari manusia. Pada tahap ini hawa nafsu manusia itu berperan penting. Bila ulah manusia yang tidak terkendali dengan baik maka akan menimbulkan kerusakan dan kerugian yang besar kepada manusia itu dan kepada lingkungan hidup dan alam semesta.

Kerusakan alam akibat penebangan hutan secara tidak terkendali disebabkan hawa nafsu manusia itu yang ingin untung cepat. Hutan alam dibabat habis demi keuntungan pribadi tanpa mengingat bahwa hutan juga menjadi hak generasi mendatang.

Akibat hutan alam gundul, maka banjir terjadi di alam ini. Ketersediaan air bersih semakin langka, cuaca panas yang sangat ekstrim. cuaca yang tidak menentu membuat petani sulit untuk bercocok tanam. Udara tidak sehat, kerusakan alam terjadi di mana-mana, bencana alam terjadi silih berganti.

Akibat buang sampah sembarangan, ikan mati, makhluk hidup lainnya pun terancam, sungai dan laut menjadi tercemar.

Hal ini bisa dilakukan jika hawa nafsu manusia itu bisa dikendalikan. Eksploitasi alam semesta yang tak terkendali disebabkan manusianya yang tidak bisa mengendalikan hawa nafsu.

EcoRamadhan yang digagas Lembaga Pemuliaan Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam  MUI ini merupakan upaya menunaikan ibadah puasa ramadhan yang lebih syamil, diantaranya peduli terhadap pelestarian lingkungan hidup.

EcoRamadhan merupakan kesempatan bagi kita untuk melatih jiwa dalam mengendalikan hawa nafsu dari pelanggaran serta penyimpangan moral, sehingga kita dapat menjaga bumi ciptaan Allah, yang telah menyediakan beragam kebutuhan bagi kehidupan kita. Sebagai penutup mari kita baca kembali makna surat Al-A’raf Ayat 56:

Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik. (Surat Al-A’raf: 56).