/Hari Ciliwungku

Hari Ciliwungku

Indonesia adalah negeri kepulauan dimana sungai mengalir di beberapa wilayah, sungai-sungai ini menjadi sumber air bersih di beberapa wilayah, ada lebih dari 5.590 sungai utama dan 65.017 anak sungai. Sayangnya 75% dari air sungai – yang menjadi sumber kehidupan bagi masyarakat di sekitarnya – tercemar berat, akibat limbah rumah tangga dan industri yang digelontorkan langsung ke dalam sungai.

Sungai Ciliwung adalah salah satu sungai strategis di Indonesia, karena mengalir di tengah ibukota Jakarta. Sungai Ciliwung memiliki dampak yang paling luas ketika musim hujan karena melintasi banyak perkampungan, perumahan padat dan
pemukiman­pemukiman kumuh.

Sungai ini juga dianggap sungai yang paling parah mengalami perusakan dibandingkan 13 sungai lain yang mengalir di Jakarta, hal ini tentunya menjadi keprihatinan kita bersama, mengingat sungai ini sebagai salah satu sumber air di Jakarta yang dimanfaatkan sebagai sumber air baku bagi air minum.

Sudah banyak usaha yang telah dilakukan oleh individu, kelompok masyarakat, pemerintah dan dunia usaha untuk membersihkan dan melestarikan Ciliwung. Namun saat ini sungai Ciliwung masih kotor dengan sampah, penuh sedimen, tercemar limbah, keanekaragaman hayatinya merosot, dan menyebabkan banjir secara rutin. Kita harus bekerjasama terus menetus untuk memulihkan sungai ini agar Ciliwung bisa menjadi salah satu pengungkit majunya peradaban di Indonesia.

Ciliwung sebagai Awal Peradaban Jakarta

Sungai Ciliwung yang biasa dikaitkan dengan sampah, bau busuk, banjir, dan  penggusuran, ternyata menyimpan sejarah masa keemasan pada zaman dulu. Salah satu wilayah tertua awal peradaban Jakarta ialah Sungai Ciliwung. Awal peradabannya terjadi di muara sungai tersebut yang bersentuhan langsung dengan Laut Jakarta di utara.

Tercatat sejak abad 15, sungai Ciliwung sepanjang 120 kilometer ini sudah menjadi sarana transportasi perdagangan kerajaan Padjadjaran dari ibu kota kerajaan di Pakuan (Bogor) menuju pelabuhan di pantai utara seperti Banten, Tangerang, dan Sunda Kelapa.

Jakarta yang kini menuju kota megapolitan pada tahun 2018 ini, usia Jakarta menginjak 491 tahun. Hari lahir Jakarta merujuk pada tanggal pertempuran tentara Demak pimpinan Sultan Fatahillah dengan pasukan Portugis di Pelabuhan Sunda Kelapa, tanggal 22 Juni 1527. Fatahillah menang dalam pertempuran itu. Daerah yang berhasil dipertahankannya diberi nama baru, Jayakarta atau sekarang Jakarta.

Namun jauh sebelum pertempuran tersebut terjadi beberapa wilayah Jakarta ternyata sudah diperebutkan. Antara lain oleh kerajaan zaman Hindu-Budha juga pasca kejayaan kerajaan Mataram Islam.

Malang nasibnya kini. Sungai Ciliwung sering membawa bencana banjir bagi warga nya. Berita baiknya adalah, warga Jakarta banyak yang ingin melestarikan sungai Ciliwung, bukan tidak mungkin Sungai ini akan menjadi ikon wisata Jakarta. Banyak masyarakat menginginkan sungai ini menjadi tempat wisata yang bisa dikunjungi masyarakat.

Potensi Wisata Kali Ciliwung

Sebagai Kota terpadat di Indonesia, Ibukota Jakarta memang seharusnya mempunyai banyak ikon wisata, agar tidak hanya dikenal sebagai Kota yang super macet dan padat saja. Di negara-negara maju, wisata sungai di pusat kota sudah menjadi hal yang lumrah, karena memang sungainya mempunyai aliran yang jernih dan nyaman untuk dinikmati. Contohnya Sungai Han di Korea, Yellow River di China, Sungai Mississippi di AS yang dialiri banyak ikan, atau sungai-sungai di Belanda yang bahkan airnya tak kalah jernih dengan air kolam.

Sungai-sungai yang terjaga kelestariannya tersebut mampu menarik banyak wisatawan setiap tahunnya, dimana para wisatawan bisa berperahu, menikmati fasilitas wisata lainnya yang tersedia di sepanjang sungai. Karena Ciliwung juga kaya dengan sejarah dan budaya, wisata juga akan memperkaya khasanah pengetahuan para generasi muda atas peran sungai Ciliwung dari jaman pra sejarah.

Bayangkan jika Jakarta bisa mempunyai wisata serupa, pasti akan menambah daftar destinasi wisata yang bisa dikunjungi di Jakarta. Apalagi aliran sungai Ciliwung melewati daerah-daerah warga, sehingga melalui parawisata ini akan tercipta konservasi, edukasi dan pemberdayaan masyarakat setempat. Pariwisata harus dapat mendorong pertumbuhan ekonomi yang membawa manfaat pada kesejahteraan masyarakat melalui pembangunan kepariwisataan bertumpu pada keanekaragaman, keunikan dan kekhasan budaya dan alam yang berkelanjutan.

Surga yang dibawahnya mengalir Sungai-Sungai

Pengelolaan sungai bersih perlu dilakukan terus menerus secara berkelanjutan oleh seluruh masyarakat, pemerintah, dunia usaha dan terutama umat muslim sebagai mayoritas penduduk Indonesia yang tentu mayoritas warga yang tinggal disepanjang bantaran Ciliwung. Dalam Al-qur’an Allah SWT menggambarkan bahwa sungai merupakan tempat yang sangat menarik, dimana surga selalu dikaitkan dengan sungai-sungai yang mengalir dibawahnya. Ini mengindikasikan tempat yang bagus selalu terdapat sungai-sungai yang lestari mengalir untuk kehidupan warganya.
Sungai-sungai yang mengalir bersih dan lestari, merupakan surga dunia bagi umat manusia dan keselurahan makhluk.

Oleh: Dr. Hayu Prabowo

Ketua Lembaga Pemuliaan Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam Majelis Ulama Indonesia