/Karbonisasi Memanfaatkan Energi Panas Tungku Bakar Sampah

Karbonisasi Memanfaatkan Energi Panas Tungku Bakar Sampah

Sampah merupakan limbah dari kegiatan dan kehidupan manusia. Tanpa pengelolaan yang baik, sampah akan menimbulkan permasalahan yang berdampak pada kehidupan sosial, ekonomi serta kesehatan masyarakat. Berdasarkan data tahun 2017 dari Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, penduduk DKI Jakarta memproduksi sekitar 7.000 ton/hari sampah, 60% adalah sampah rumah tangga yang terdiri dari sekitar 54% organik.

Salah satu pengelolaan sampah yang paling umum di pedesaan dan pulau terpencil adalah membakarnya di tempat terbuka. Sebuah cara membakar yang lebih ramah lingkungan adalah dengan menggunakan Tungku Bakar Sampah (TBS) yang dilengkapi dengan perangkat “pencuci asap” menggunakan air sebagai filter untuk menangkap partikel-partikel asap.

Disamping masalah, sampah organik dipandang sebagai salah satu sumber energi biomassa yang potensial yang berkesinambungan. Potensi energi bimassa sampah dari empat kota besar, Jakarta, Surabaya, Bandung dan Medan akan menghasilkan daya panas ekuivalen 1.300 MW (Budiman, 2018). Dengan pengolahan yang tepat, konversi biomassa menjadi energi di Indonesia dapat membantu meningkatkan ketahanan energi nasional.

Energi panas yang dihasilkan dari TBS tersebut dapat dimanfaatkan ataupun dikonversikan ke energi lainnya, misal menjadi gas melalui gasifikasi biomassa, ataupun listrik melalui teknik thermoelectric generator.

Salah satu pemanfaatan panas TBS adalah untuk memanaskan biomassa, dalam hal ini adalah kayu bakar. Melalui proses pemanasan dalam suatu bejana dengan oksigen terbatas akan memaksimalkan jumlah massa produk padatan dengan mengurangi kadar oksigen sekaligus meningkatkan kadar karbon pada biomassa tersebut. Biomassa hasil karbonisasi adalah arang dengan manfaat sbb:

a. Mengecilkan ukuran dan memudahkan penanganan dan penyimpanan biomassa. Menyerap air yang lebih sedikit selama penyimpanan.

b. Meningkatkan efisiensi gasifikasi biomassa tersebut sehingga bahan bakar biomassa yang lebih bersih dengan kandungan asam yang lebih rendah pada asap pembakarannya. Sehingga sangat cocok untuk kompor biomassa.

c. Dapat dibuat pellet biomassa dengan kualitas dan kadar energi volumetris yang tinggi.

Gambar menunjukkan TBS yang telah dilengkapi dengan unit pencuci asap dan pembuatan arang kayu dengan memanfaatkan api dari TBS. Hasilnya sangat memuaskan selain mendapatkan arang, ternyata suhu dalam TBS meningkat tajam karena terjadi proses gasifikasi dari unit pembuat arang sehingga pembakaran sampah dan pembuatan arang menjadi lebih efisien.

Dr. Hayu Prabowo

Ketua Lembaga Pemuliaan Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam Majelis Ulama Indonesia