/Konsep air, sanitasi dan kebersihan (WASH) dalam perspektif Islam
sanitasi-air

Konsep air, sanitasi dan kebersihan (WASH) dalam perspektif Islam

KONSEP AIR, SANITASI DAN KEBERSIHAN

(WASH) DALAM PERSPEKTIF ISLAM[1]

Oleh: Didin Hafidhuddin[2]; Bahagia[3]

بسم الله الرحمن الرحيم

  1. Air adalah merupakan salah satu nikmat yang utama yang diberikan Allah kepada makhluq-Nya, yang dengan sebab air Dia menciptakan, memelihara, menumbuhkan dan mengembangkan seluruh makhluq yang ada di muka bumi ini. Firman-Nya dalam QS. An-Nur [24]: 45:

وَاللهُ خَلَقَ كُلَّ دَابَّةٍ مِن مَّاء فَمِنْهُم مَّن يَمْشِي عَلَى بَطْنِهِ وَمِنْهُم مَّن يَمْشِي عَلَى رِجْلَيْنِ وَمِنْهُم مَّن يَمْشِي عَلَى أَرْبَعٍ يَخْلُقُ اللهُ مَا يَشَاءُ إِنَّ اللهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ. ﴿النور: ٤٥﴾.

“Dan Allah telah menciptakan semua jenis hewan dari air, maka sebagian dari hewan itu ada yang berjalan di atas perutnya dan sebagian berjalan dengan dua kaki, sedang sebagian (yang lain) berjalan dengan empat kaki. Allah menciptakan apa yang dikehendaki-Nya, sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. An-Nur [24]: 45).

Air yang Allah turunkan dalam bentuk air hujan (yang berasal dari awan) menjadi anugerah yang sangat luar biasa bagi kehidupan umat manusia. Tanpa air tidak mungkin manusia dapat mempertahankan hidup dan kehidupannya. Firman-Nya dalam QS. Al-Waqiah [56] ayat 68-70:

أَفَرَأَيْتُمُ الْمَاء الَّذِي تَشْرَبُونَ ﴿٦٨﴾ أَأَنتُمْ أَنزَلْتُمُوهُ مِنَ الْمُزْنِ أَمْ نَحْنُ الْمُنزِلُونَ ﴿٦٩﴾ لَوْ نَشَاء جَعَلْنَاهُ أُجَاجاً فَلَوْلَا تَشْكُرُونَ ﴿٧٠﴾. {الواقعة: 68-70}.

“Maka terangkanlah kepadaku tentang air yang kamu minum (68) Kamukah yang menurunkannya dari awan ataukah Kami yang menurunkan? (69) Kalau Kami kehendaki niscaya Kami jadikan dia asin, maka mengapakah kamu tidak bersyukur? (70).” (QS. Al-Waqi’ah [56]: 68-70).

Ayat tersebut secara eksplisit menyebutkan dengan tegas fungsi utama air yang rasanya tawar, sehingga bisa dikonsumsi oleh manusia (dalam bentuk minuman). Disamping itu, air berfungsi untuk membersihkan tubuh dari berbagai macam hadats dan kotoran, dan berfungsi pula sebagai wasilah/sarana ibadah kepada Allah SWT, seperti mandi, istinja’/membersihkan dari kotoran dan wudhu, yang semuanya merupakan persyaratan untuk ibadah kepada Allah SWT.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلاةِ فاغْسِلُواْ وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُواْ بِرُؤُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَينِ وَإِن كُنتُمْ جُنُباً فَاطَّهَّرُواْ …. ﴿المائدة: ٦﴾.

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kamu junub maka mandilah…” (QS. Al-Maidah [5]: 6).

Demikian pula dengan sebab air Allah menumbuhkan tanaman yang bermacam-macam, yang semuanya bisa dinikmati oleh manusia sesuai aturan yang ditetapkan-Nya.

أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللهَ أَنزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَسَلَكَهُ يَنَابِيعَ فِي الْأَرْضِ ثُمَّ يُخْرِجُ بِهِ زَرْعاً مُّخْتَلِفاً أَلْوَانُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرّاً ثُمَّ يَجْعَلُهُ حُطَاماً إِنَّ فِي ذَلِكَ لَذِكْرَى لِأُوْلِي الْأَلْبَابِ. ﴿الزمر: ٢١﴾.

“Apakah kamu tidak memperhatikan, bahwa sesungguhnya Allah menurunkan air dari langit, maka diaturnya menjadi sumber-sumber air di bumi kemudian ditumbuhkan-Nya dengan air itu tanam-tanaman yang bermacam-macam warnanya, lalu ia menjadi kering lalu kamu melihatnya kekuning-kuningan, kemudian dijadikan-Nya hancur berderai-derai. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal.” (QS. Az-Zumar [39]: 21).

  1. Air hujan yang jatuh ke bumi sebagiannya masuk ke dalam tanah dan menetap di dalamnya. Tetapi tidak semua air hujan diserap, ada juga yang masuk ke danau, diserap tumbuhan dan bagian yang menguap ke atas karena terkena panas sinar matahari, yang kemudian setelah menggumpal menjadi awan lalu diturunkan lagi. Keberadaan pepohonan dan rerumputan sangat penting untuk mendukung ketersediaan air di bumi, dengan fungsinya menahan penguapan air. Karena itu, kewajiban kita semuanya untuk menjaga, memelihara, dan menyelamatkan air, dengan cara yang sudah digariskan dalam al-Qur’an dan Hadits maupun dalam regulasi yang ada.
  2. Ajaran menghemat air

Untuk menghemat sumberdaya air maka Islam melarang memakai dan mengkonsumsi air secara berlebih-lebihan. Rasulullah SAW memberi contoh dengan menakar air saat mandi maupun wudlu.

حَدَّثَنَا أَبُو نُعَيْمٍ قَالَ حَدَّثَنَا مِسْعَرٌ قَالَ حَدَّثَنِي ابْنُ جَبْرٍ قَالَ سَمِعْتُ أَنَسًا يَقُولُ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَغْسِلُ أَوْ كَانَ يَغْتَسِلُ بِالصَّاعِ إِلَى خَمْسَةِ أَمْدَادٍ وَيَتَوَضَّأُ بِالْمُدِّ. {رواه البخاري}.

“Telah menceritakan kepada kami Abu Nu’aim berkata, telah menceritakan kepada kami Mis’ar berkata, telah menceritakan kepadaku Ibnu Jabar berkata, “Aku mendengar Anas berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam membasuh, atau mandi dengan satu sha’ hingga lima mud, dan berwudlu dengan satu mud.”

Dalam riwayat lain yang diterima dari Abu Salamah r.a. menceritakan, “Saya dan seorang saudara laki-laki Aisyah masuk ke dalam rumah Aisyah. Saudara Aisyah itu menanyakan kepadanya tentang cara nabi SAW mandi. Maka Aisyah minta ambilkan sebuah bejana berisi air kira-kira segantang. Lalu Aisyah mandi dan menuangkan air di atas kepalanya. Antara kami dan Aisyah ada Hijab (tabir).” Sumber: Al-Iman Al-Bukhary (2009), hadits Shahih Bukhari, nomor hadits  167.

Hadits ini sejalan dengan firman Allah dalam QS. Al-A’raf [7] ayat 31.

يَا بَنِي آدَمَ خُذُواْ زِينَتَكُمْ عِندَ كُلِّ مَسْجِدٍ وكُلُواْ وَاشْرَبُواْ وَلاَ تُسْرِفُواْ إِنَّهُ لاَ يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ. ﴿الأعراف: ٣١﴾.

“Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (QS. Al-A’raf [7]: 31).

  1. Larangan Mencemari Air

Dalam realitas kehidupan kita menyaksikan bahwa kawasan-kawasan tertentu seperti kawasan terminal, kawasan stasiun, kerap kali tidak bersih dari kotoran, padahal kebersihan itu adalah bagian dari iman dan memiliki pengaruh yang signifikan dengan perilaku manusia.

Dalam sebuah hadits shahih, Rasulullah SAW memperingatkan manusia untuk tidak melakukan kerusakan pada lingkungan air dengan cara tidak melakukan pembuangan kotoran pada kawasan tertentu. Cara Islam sangatlah mudah dipahami dan dilaksanakan yaitu dengan cara melarang orang yang sedang junub mandi di air yang tenang. Maksudnya, jika orang junub mandi di air yang tenang maka airnya tidak akan mengalir, sehingga orang lain juga akan terkena dampak akibat dari sisa-sisa junub tersebut. Cara lain yang dilakukan adalah dengan melarang kencing di air yang tenang dan menggunakannya untuk mandi. Apabila seseorang kencing pada air yang tidak mengalir sebenarnya bukan hanya orang tersebut yang akan terkena dampaknya, tetapi juga orang lain  akan merasakannya.

Pengetahuan semacam itu merupakan pengetahuan yang sangat penting yang perlu diketahui oleh kita semua.  Sehingga kita bisa menjaga kelestarian air untuk kepentingan  sekarang dan masa yang akan datang. Beberapa hadits yang menjelaskan hal itu antara lain sebagai berikut:

حَدَّثَنَا حَسَنٌ حَدَّثَنَا ابْنُ لَهِيعَةَ حَدَّثَنَا أَبُو الزُّبَيْرِ عَنْ جَابِرٍ قَالَ زَجَرَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يُبَالَ فِي الْمَاءِ الرَّاكِدِ. {رواه أحمد}.

“Telah menceritakan kepada kami Hasan telah menceritakan kepada kami Ibnu Lahi’ah telah menceritakan kepada kami Abu Az Zubair dari Jabir berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarang kencing di air yang menggenang.” (HR. Ahmad).

Sekarang ini kita banyak menjumpai orang-orang yang kencing sembarangan seperti di terminal, stasiun, atau di sudut-sudut bangunan yang sepi. Jika dibandingkan dengan pencemaran sungai tentu tindakan itu belum seberapa. Parahnya pencemaran sungai dapat kita ketahui dari  air yang mengalir sudah berwarna hitam karena banyaknya limbah yang dibuang di sungai-sungai tersebut, baik limbah pabrik maupun limbah rumah tangga. Jika hal ini dibiarkan tentu akan menyebabkan masalah yang lebih parah. Salah satunya adalah kelangkaan air bersih. Dengan banyaknya air yang tercemar maka akan menghambat makhluk hidup untuk mengambil dan memanfaatkan air untuk kelangsungan hidup. Masalah lain juga akan bermunculan seperti makin buruknya tingkat kesehatan. Bahkan hewan dan tumbuhan pun tidak dapat memanfaatkan air itu lagi. Karena itu perlu segera dipikirkan solusi mengatasi masalah krisis air yang sudah banyak terjadi di beberapa daerah ini.

  1. Penetapan Kawasan Perlindungan Air/Hariem

Hariem merupakan daerah di tetapkan untuk  konservasi lingkungan alam yang berupa lautan. Dalam Islam ada yang disebut dengan HARIEM, yaitu tempat yang harus dijaga dan dilindungi yang berupa daerah laut. Sumber: Abu Abdullah Muhammad bin Yazid Ibnu Majah, Terjamaah Sunan Ibnu Majah Jilid III, Penerbit C.V. Asy Syfa Semarang, Nomor hadits 2487.

Kawasan yang dilindungi adalah daerah-daerah sumber kehidupan seperti air, rerumputan dan hutan, serta lautan. Heriamnya air bisa berupa daerah aliran sungai, danau, rawa-rawa, dan sumur yang digali (mata air). Perlindungan terhadap kawasan tersebut harus dilakukan dengan tujuan untuk menghindari kerusakan lingkungan. Hal ini merupakan salah satu acuan yang bisa kita jadikan rujukan mengingat permasalahan kerusakan lingkungan air terutama kawasan daerah air (sumur). Sekarang ini pertumbuhan penduduk semakin meningkat karena itulah pencemaran  air sumur juga akan terjadi. Sebagai sumber kehidupan air digunakan untuk keperluan minum, memasak, mencuci, dan berwudlu. Tetapi sumber air  untuk kepentingan sehari-hari juga bisa berdekatan dengan tempat pembuangan kotoran seperti WC, pembuangan limbah pabrik, dekat dengan sungai-sungai yang tercemar. Kondisi itu tentu berakibat buruk pada kualitas air yang bisa mengancam kehidupan kita.

Dalam ajaran Islam sumur-sumur yang telah digali seharusnya menjadi tempat yang dilindungi. Dengan keyakinan seperti itu maka daerah aliran sungai, danau, dan sungai bawah tanah juga termasuk tempat yang dilindungi karena daerah ini daerah sumber penghidupan bagi manusia. Ketetapan itu sudah jelas dalam hadits nabi.

Mewartakan kepada kami Sahl bin Abush-Shughdi, mewartakan kepada kami Manshur bin Shuqair, mewartakan kepada kami Tsabit bin Muhamad, dari Nafi’Abu Galib, dari Abu Sa’id Al-Hudriy, dia berkata: Rasulalluh SAW bersabda: “Hariem sebuah sumur adalah sejauh panjang tali timbanya.” Sumber: Abu Abdullah Muhammad bin Yazid Ibnu Majah, Terjamaah Sunan Ibnu Majah Jilid III, Penerbit C.V. Asy Syfa Semarang, Nomor hadits 2487.

Hadits itu mengajarkan kita supaya tidak mencemari air dan juga tidak mendekatkan sumber air dengan sumber-sumber limbah. Katakanlah sumur sebaiknya tidak dekat dengan pembuangan kotoran (WC), supaya air sumur tidak tercemar akibat adanya WC yang dekat dengannya. Begitu juga dengan sumber pencemaran lain seperti pencemaran yang berasal dari pabrik. Hadits berikutnya juga menjelaskan tentang luasan hariemnya sumur mencapai empat puluh hasta sebagai tempat pembaringan binatang ternak. Itu adalah jarak luas yang harus diperhatikan dari sumber air. Karena itu, perlindungan bagi daerah-daerah sumur sangat penting artinya bagi manusia. Berikut  haditst yang terkait dengan hal tersebut.

Mewartakan kepada kami Al-Walid bin ‘Amr bin Sukain, mewartakan kepada kami Muhammad bin Abdullah bin Al-Mutsanna, mewartakan kepada kami Al-Hasan bin Muhamad bin Ash-Shabbah: mewartakan kepada kami Abdul wahabbbin ‘Atha Keduanya berkata: mewartakan kepada kami Ismai’il Al-Makkiy dari Al-Hasan, dari Abdullah bin Mughaffal, bahwasannya nabi SAW bersabda: “Barangsiapa menggali sumur (di tanah yang mati), maka ia memperoleh (hak Hariem) Empat puluh hasta sebagai tempat berbaring bagi binatang ternak.” Sumber: Abu Abdullah Muhammad bin Yazid Ibnu Majah, Terjamaah Sunan Ibnu Majah Jilid III, Penerbit C.V. Asy Syifa Semarang, Nomor hadits 2486.

  1. Bersedekah dengan menggunakan air

Islam mengajarkan bersedekah untuk membantu orang-orang yang tidak mampu. Banyak cara bersedekah dalam Islam. Sedekah dalam bentuk materi juga bisa digunakan untuk membantu fakir miskin yang membutuhkan. Banyak  cara lain yang bisa digunakan untuk membantu umat. Yang juga diajarkan Islam adalah bersedekah dengan air. Model sedekah semacam itu dapat mengantarkan kita ke surga. Jika segala jenis air ada di bumi; air sungai, air yang menetap di bumi, air hujan, air danau, air rawa bisa dilestarikan dengan baik, maka hal itu berarti kita peduli keberlangsungan hidup generasi mendatang. Berikut  hadits-hadits yang menyuruh umat untuk bersedekah dengan cara tidak boleh menahan air, mengingat air adalah sumber kehidupan. Hadits berikut ini menjelaskan tentang kisah-kisah di zaman Rasulullah SAW yang menceritakan umat yang bersedekah melalui air untuk keperluan umat manusia. Hadits yang pertama di bawah ini menjelaskan tentang umat yang menjadikan sumur sebagai sumber air minum bagi kaum muslim akan mendapatkan pahala yang banyak.

  1. Utsman berkata, Nabi SAW bersabda: “Barangsiapa membeli sumur rumah lalu menjadikan timbanya (bagiannya) pada sumur itu sama seperti timba (bagian) kaum muslimin.” Maka Utsman bin Affan membelinya. Sumber: Ibnu Hajar Al Asqalani (2005), Fathul Baari, Shahih Al Bukhary buku 13.
  2. Imam At-Tarmidzi, An-Nasa’I dan Ibnu Khuzaimah menyebutkannya secara maushul dari jalur Tsumah bin Hazn Al-Qusyairi, dia berkata: Aku pernah melihat tempat tinggal di mana Utsman mendatangi mereka dan berkata, “Aku mohon kepada kalian atas nama Allah dan Islam, apakah kalian mengetahui bahwa Rasulallah SAW datang ke Madinah dan tidak ada air tawar di sana selain sumur rumah? Maka beliau SAW bersabda “Barangsiapa membeli sumur rumah lalu menjadikan timbanya (bagiannya) pada sumur itu sama seperti timba (bagian) kaum muslimin dalam kebaikan, maka baginya adalah surga’. Lalu aku membelinya dengan hartaku.” Mereka menjawab, “Demi Allah benar!. Sumber: Ibnu Hajar Al Asqalani (2005), Fathul Baari, Shahih Al Bukhary buku 13.

 

Berikut ini  kisah yang menjelaskan tentang seseorang yang memberikan air (sedekah air) kepada hewan, sehingga  banyak  pahala yang bisa kita kumpulkan di bumi sebagai bekal pada hari akhir. Berikut  hadits yang terkait dengan hal tersebut.

Dari Abu Shaleh, dari Abu Hurairah ra. bahwa Rasulallah SAW bersabda, “Ketika seorang laki-laki sedang berjalan, lalu dia merasa sangat kehausan, lalu ia turun di satu sumur dan minum darinya. Kemudian dia keluar dan ternyata dia mendapati seekor anjing menjulurkan lidahnya (sambil) menjilat pasir karena kehausan. Laki-laki tersebut berkata, “Sungguh anjing ini sangat kehausan seperti yang aku rasakan.” Kemudian dia turun dan memenuhi kedua sepatunya (dengan air) dan membawa dengan mulutnya seraya naik keatas dan memberi minum anjing itu. Allah bersyukur kepadanya dan memberi ampunan baginya. Mereka (para sahabat) bertanya, “Wahai Rasulallah! Apakah ada bagi kita pahala pada binatang?” beliau menjawab “(menyayangi) setiap makhluk yang bernyawa ada pahalanya.” Sumber: Muhamad Nashiruddin Al Al Bani. 2007. Shahih Sunan Abu Daud. Pustaka Azam. Jakarta.

Tidak ada agama yang tidak mengajarkan kebaikan  pada umatnya. Banyak hal yang bisa dilakukan melalui sedekah. Wujud yang diberikan bisa air minum, pepohonan, dan juga tanah. Bentuk semacam itu malah sesuai untuk kebutuhan umat saat ini. Akibat umat di bumi begitu tidak peduli dengan makna sedekah maka lingkungan alam juga akan semakin rusak. Jikalau umat di bumi masih memahami bahwa terdapat pahala-pahala yang banyak apabila memberikan sedekah dengan menggunakan komponen alam maka bumi akan tetap lestari, tetapi sedekah air atau pohon sudah jarang dilakukan.

والله أعلم بالصواب

[1] Pokok-pokok pikiran disampaikan pada Seminar Nasional Indonesian Women For Water Sanitation and Hygine (IWWASH) Universitas Nasional Jakarta, 18 Pebruari 2015 M/28 Rabiul Akhir 1436 H.

[2] Guru Besar IPB, Dekan Fakultas Pascasarjana UIKA Bogor, Ketua Umum BAZNAS.

[3] Dosen Universitas Ibn Khaldun Bogor