/Konsep Alam dalam Islam (Bagian II)
konsep-alam-dalam-islam-mui-lplhsda

Konsep Alam dalam Islam (Bagian II)

Dalam islam, konsep alam sangatlah luas dan mendalam. Sebab alam tidak dimaknai secara fisik semata, melainkan juga meliputi dunia non-fisik (ghaib). Hal itulah yang menjadi Prinsip dasar Alam dalam Islam, yaitu ‘integratif’. Dimana alam bukan sekedar terdiri atas material kuantitatif, tetapi juga material kualitatif. Alam semesta berbicara kepada manusia melalui fenomena. Oleh karena itu, setiap fenomena memiliki makna. Alam semesta adalah simbol dari tingkat realitas yang lebih tinggi. Struktur alam semesta mengandung sebuah pesan spiritual bagi manusia. Alam semesta merupakan wahyu yang sumber asalnya adalah sama dengan pengetahuan itu sendiri. Keduanya adalah manifestasi dari intelek universal, logos, dan alam semesta merupakan bagian integral dari seluruh alam semesta.[1]

Pengetahuan mengenai alam semesta merupakan pengetahuan yang titik pandangannya berasal dari pandangan metafisik. Berdasarkan cara pandang ini, kosmologi pada kenyataannya merupakan penjelasan tentang alam semesta yang berasal dari aplikasi prinsip-prinsip metafisik terhadap domain realitas kosmis yang berbeda-beda melalui intelegensi tersebut menyatu dengan intelek dan sama sekali tidak terbatas pada impresi-impresi panca indera. Pengetahuan-pengetahuan tersebut juga berhubungan dengan dunia alam dan melahirkan pengetahuan dunia ilmiah, tetapi tidak semata-mata ilmiah dalam konteks modern.[2]

Prof. al-Attas memberikan pengandaian konsep alam dalam islam dalam struktur pengetahuan islam. Bahwa alam bisa diibaratkan sebagai ‘tanda’ atau penunjuk jalan. Bila kita mengendarai sebuah mobil untuk sampai pada tujuan yang dimaksud, maka caranya adalah dengan membaca tanda yang tertera di pinggir jalan. Jika kita mengenali papan penunjuk tersebut dan mengetahui maksud yang ditunjuk oleh papan tersebut, maka kita kemudian akan meninggalkan papan itu dan beralih kepada arah yang ditunjukkan oleh tanda jalan tersebut. Papan tersebut tidak penting begitu untuk diperindah, yang penting adalah informasi dari apa yang ditunjukkan papan tersebut bisa tersampaikan dengan baik. Sebaliknya, jika papan itu dihiasi dengan ukiran yang indah, dilapisi emas dan permata, namun kita tidak mengetahui maksud dari tanda tersebut, maka papan penunjuk tersebut tidak ada gunanya. Pengandaian ini untuk menunjukkan bagaimana perbandingan antara alam dalam konsep islam dan barat.[3]

Dalam Islam, hubungan ke-takterpisahan (inseparable) antara manusia dan alam, serta antara ilmu-ilmu alam dan agama, dapat ditemukan dalam Quran itu sendiri. Menurut Hossein Nasr, Kitab Ilahi merupakan ‘Logos’ atau ‘Firman Allah’ (words of god). Dengan demikian, Kitab tersebut adalah sumber wahyu yang merupakan dasar agama dan juga ia merupakan penerangan (berita) makrokosmik yang merupakan alam semesta. Baik dalam makna ‘al-Quran kumpulan’ (al-Qur’an al-Tadwin) dan ‘al-Quran Ciptaan’ (al-Qur’an al-Takwin) yang berisi ‘ide’ atau pola dasar dari segala sesuatu. itu sebabnya istilah yang digunakan untuk menandai ayat-ayat Al-Qur’an atau ayah juga berarti peristiwa yang terjadi dalam jiwa manusia dan fenomena di dunia alam.[4] Karena itulah, al-Qur’an bisa menjadi fundamen pengembangan sains. The Qor’an contains statements which science can accept easily, because they are rational statements.[5]

Karena konsepsi manusia dan alam yang demikian kata Nasr, alam tidak pernah dianggap sebagai kotor (profan). Kehadiran doktrin metafisik dan hirarki pengetahuan memungkinkan Islam untuk mengembangkan banyak ilmu yang memberikan pengaruh terbesar pada ilmu pengetahuan Barat tanpa mengganggu bangunan intelektual Islam.[6]

Dalam islam, kesatuan semesta dipandang sebagai citra kesatuan Prinsip Ilahi. Tujuan sains dalam Islam adalah untuk memperlihatkan kesatuan alam semesta, yaitu kesalingterhubungan seluruh bagian dan aspeknya. Oleh karena itu, sains seharusnya berupaya untuk mengkaji semua aspek alam semesta yang beraneka ragam dari sudut pandang yang menyatu dan terpadu.[7]

Karena alam dipandangan sebagai ayat Tuhan, maka ia merupakan sebuah sumber untuk memperoleh pengetahuan tentang kebijaksanaan Tuhan. Sehingga para ilmuwan muslim mempelajari hal-hal seperti bentuk-bentuk, gaya, energi, hukum-hukum dan ritmik-ritmik alami bukan hanya untuk mempelajari pengetahuan ilmiah sebagaimana yang kini dipahami. Sebagian besar ilmuwan kiranya mengatakan hukum alam adalah cerminan matematis atas realitas eksternal yang ada secara mandiri dari pengamat yang melihatnya.[8]

Penulis: Syamsuar Hamka, S.Pd., M.Pd.I  Penulis, Peneliti Filsafat Sains

[1] Humaidi, Paradigma Sains Integratif al-Farabi, hlm. 247

[2] Humaidi, Paradigma Sains Integratif al-Farabi, hlm. 249

[3] Lihat: Syed Muhammad Naquib al-Attas, Islam, Secularism and the Philosophy of Future, dikutip dari Syed Muhammad Naquib al-Attas, Islam dan Filsafat Sains (Penerjemah: Saiful Muzani), Bandung: Mizan, 1995, hlm. 58-59

[4] In Islam the inseparable link between man and nature, and also between the sciences of nature and religion, is to be found in the Quran itself, the Divine Book which is the Logos or the Word of God. As such it is both the source of the revelation which is the basis of religion and that macrocosmic revelation which is the universe. It is both the recorded Quran (al-Qur’an al-tadwin) and the ‘Quran of Creation (al-Qur’an al-takwin) which contains the ‘ideas’ or aschetypes of all things. that is why the term used to signify the verses of the Quran or ayah also means events occuring within the soul of men and phenomena in the world of nature. (Seyyed Hossein Nasr, Man and Nature, London: Unwind Paperbacks, 1990, hlm. 94-95)

[5] Tisna Amidjaja, Ilmu, Iman dan Amal, Bandung: Pustaka ITB, 1983, hlm 75

[6] Seyyed Hossein Nasr, Man and Nature, hlm. 97

[7] Osman Bakar, Tauhid dan Sains (penerjemah: Yulianto Liputo dan LM Nasrullah), Bandung: Pustaka Hidayah, 2008, 151

[8] Stephen Hawking, The Grand Design (penerjemah: Zia Anshor), hlm. 37