/Konsep Alam dalam Islam
konsep-alam-dalam-islam-mui-lplhsda

Konsep Alam dalam Islam

Dalam Tafsir Ibn Katsir menjelaskan, kata âlam’ sebagai segala sesuatu yang ada selain Allah. âlam merupakan jama’ yang tidak memiliki bentuk mufrad. Al-’awâlim, berarti berbagai macam makhluk yang ada di langit, bumi, daratan, maupun lautan. Dan setiap angkatan dalam kurun zaman atau generasi juga disebut sebagai âlam.  Menurut Ibn Katsir sendiri, kata ” عالم” berasal dari kata “العلامة” (tanda), karena alam merupakan bukti yang menunjukkan adanya Pencipta serta keesaan-Nya.[1] Menurut para ulama, âlam didefenisikan sebagai segala sesuatu selain dari Allah Swt. Sementara itu, para filosof muslim mendefinisikannya sebagai kumpulan jauhar yang tersusun dari maddat (materi) dan shurat (bentuk) yang ada di bumi dan di langit. Dengan demikian kata ini menunjukkan banyaknya alam yang diciptakan dan diperlihara oleh Allah, dan sebagian darinya tidak diketahui oleh manusia sesuai penjelasan QS. al-Nahl [16]: 8.[2]

Mengutip pendapat Ikhwan as-Shafa’, alam (universe) adalah all the spiritual and material beings who populate the immensity of the skies, who constitute the reign of multiplicity which extends to the spheres, the stars, the elements, their products and to man (Semua wujud spiritual maupun material yang menghuni keluasan langit, yang membentuk kekuasaan yang serbaragam meliputi lapisan-lapisan (langit), bintang-bintang, elemen dasar, produknya hingga manusia). Lebih lannjut ia menjelaskan bahwa âlam tersebut, sering disebut sebagai kota (city) atau makhluk (animal), akan tetapi selalu berbeda dari kesatuan ilahiyah (divine unity) terkait Tuhan dengan eksistensinya (wujud), keabadiannya (baqa’), keparipurnaannya (tamam), dan kesempurnaannya (kamal).[3]

Secara semantik dalam pandangan Islam terdapat kaitan konseptual antara ilmu (‘ilm), alam dan Allah sebagai al-Khâliq. Kata ‘ilm yang berasal dari akar kata ‘alima mengandung makna ‘alâmah, yang berarti ‘petunjuk arah’. Rosenthal mengakui hal tersebut, bahwa konsep umum ilmu (‘ilm) berhasil berkembang dari proses konkret yang berkenaan dengan “tanda jalan” (way sign).[4] Al-Raghib al-Ashfahani menjelaskan bahwa ‘âlam adalah al-atsar alladzi ya’lamu bihi asy-syai’ (jejak yang dengannya sesuatu menjadi diketahui.[5] Dengan demikian, alam adalah sebuah petunjuk atau tanda. Ia juga adalah kata yang salam yang dipakai dalam bahasa Arab untuk menunjukkan kata ‘bendera’[6]. Bendera adalah simbol atau lambang yang menunjukkan representasi dari apa yang diwakilinya, seperti negara, kelompok, pasukan dan lain-lain. Hal itu juga berlaku bagi alam ini. Dimana ia adalah tanda yang merujuk pada keberadaan satu external power yang menjadi desainernya.

Dengan demikian menjadi jelas, hubungan antara ‘âlam dan ‘ilm, yang dalam bahasa Indonesia disebut semesta atau kosmos. Alam semesta tidak hanya melingkupi benda-benda di luar diri manusia, melainkan juga termasuk manusia sendiri. Dalam islam dikenal istilah ‘âlam as-shagir (mikrokosmos) dan ‘âlam al-kabiir (mikrokosmos).[7]

Prof. Alparslan Acikgenc mengatakan bahwa terdapat dua jenis alam dalam pandangan hidup Islam, yaitu alam syahadah (yang terlihat) dan alam ghaib (tidak terlihat).[8] Pembagian seperti ini sering diungkapkan dalam al-Qur’an, untuk menegaskan eksistensi kedua alam ini. Diantaranya bisa dilihat di Qs. Az-Zumar: 46, al-Mu’min: 92, al-Hasyr: 22, dan at-Taubah: 105. Alam Syahadah (alam materi atau Tabi’i) adalah segala sesuatu yang dapat dipersepsi oleh indera seperti manusia, hewan, tumbuhan, air, dan benda mati lainnya, serta keseluruhan langit dan bumi. Alam ini diketahui lewat pengamatan dan penyelidikan manusia dengan menggunakan sarana akal dan panca inderanya. Adapun alam jenis kedua adalah alam yang berada di luar kemampuan panca indera untuk mempersepsikannya, seperti malaikat, jin, setan, iblis, surga, neraka, dan lain-lain. Tidak ada yang mengetahuinya kecuali Allah Swt sendiri. Tidak ada perintah Allah untuk menyelidiki alam ini secara langsung. Sebab keberadaannya hanya mutlak diketahui lewat wahyu.[9]Penolakan atasnya adalah bentuk pengingkaran yang berakibat pada rubuhnya sistem iman dan agama Islam yang dianut seseorang.

Kedua alam ini meski berbeda, namun tidaklah terpisah. Keduanya terhubung sangat erat satu dengan yang lain. Dengan kata lain, fenomena alam bukanlah sesuatu yang terhasilkan dari rantai sebab-akibat yang berasal dari alam syahâdah semata, melainkan juga memiliki kaitan dengan alam ghaib. Misalnya Allah yang menurunkan hujan, Malaikat yang membawa rezki, datangnya bencana karena maksiat, dan lain-lain. Hal tersebut menunjukkan bagaimana dunia syahâdah tidak lepas dari aspek dunia ghaib.[10]

Sebagai landasan bagi Falsafah Pendidikan Islam, al-Toumy al-Syaibani menjelaskan prinsip-prinsip dasar pandangan Islam tentang alam semesta yang disederhanakannya menjadi 10 prinsip dasar sebagai berikut:[11]

  1. Yang dimaksud dengan alam adalah segala sesuatu selain Allah, meliputi cakrawala, langit, bumi, bintang, manusia, hewan, tumbuhan, benda dan sifat benda, makhluk benda dan bukan benda.
  2. Alam Wujud ini terdiri dari unsur Ruh dan Materi sekaligus. Prinsip ini mengandung pengertian keseimbangan antara ruh dan materi.
  3. Alam semesta dan seluruh isinya senantiasa berubah sesuai kehendak Allah Swt.
  4. Alam berkembang dan bergerak terus sesuai dengan hukum yang telah digariskan oleh penciptanya.
  5. Setiap unsur dan bagian dari alam ini senantiasa terikat pada hukum umum yang tertentu dan berdasarkan pada hubungan yang teratur yang menunjukkkan kesatuan koordinasi dan pengaturan.
  6. Pada alam semesta berlaku Hukum Umum sebab akibat.
  7. Alam semesta diciptakan bagi kesejahteraan dan kemajuan manusia.
  8. Alam bersifat baharu, yang kemudian mengalami perubahan sampai pada akhirnya menemui saat kehancurannya. Setiap unsur alam memiliki titik permulaan dan titik akhir penghabisan.
  9. Penerimaan akan hakikat baharunya alam, berarti menerima Wujud Pencipta alam. Dalam hal ini, berarti alam diciptakan dari tidak ada oleh Allah Swt dan memeliharanya.
  10. Allah Swt adalah Sang Pencipta yang memiliki ciri-ciri keunggulan sebagai Tuhan yang mutlak dan bersifat kesempurnaan.

Al-Faruqi menyebutkan bahwa dalam islam, alam adalah ciptaan dan anugerah. Sebagai ciptaan, ia bersifat teleologis, sempurna dan teratur; sebagai anugerah ia merupakan kebaikan yang tak mengandung dosa yang disediakan untuk manusia. Tujuannya adalah memungkinkan manusia melakukan kebaikan dan mencapai kebahagiaan. Tiga penilaian ini, menjadi ciri utama pandangan islam terhadap alam.[12]

Al-Faruqi kemudian menjelaskan lebih jauh ketiga penilaian tersebut, bahwa Tauhid yang mendasari pola pikir muslim mengharuskannya untuk melihat perbuatan Tuhan dalam setiap objek dan peristiwa, dia mengikuti prakarsa ilahi karena hal itu berasal dari Tuhan. Mengikutinya dalam alam tidak lain adalah hukum-hukum kealaman. Sebab prakarsa Ilahi dalam diri sendiri atau dalam masyarakat berarti mempelajari kemanusiaan dan ilmu-ilmu sosial. Di mata seorang muslim, alam adalah suatu panggung hidup yang digerakkan oleh perintah dan tindakan Tuhan. Lebih tegas, ia mengungkapkan bahwa, Pengesaan Tuhan berarti pengakuan bahwa Dialah yang menjadi sebab pertama dari segala sesuatu, dan bahwa tidak ada lainnya yang seperti itu. Dia tidak pantas disebut deus otiousus, Tuhan yang telah pensiun. Sebab Dialah satu-satunya pelaku hakiki dari segala peristiwa, sebab dari semua wujud.[13]

Tauhid merupakan penghapusan terhadap setiap kekuatan yang bekerja dalam alam di samping Tuhan, yang prakarsa kekal-Nya adalah hukum-hukum alam yang abadi. Ini berarti mengingkari setiap prakarsa dalam alam dari setiap kekuatan selain Tuhan; dan terutama sekali, ia merupakan penghapusan sihir, ruh, dan semua gagasan perdukunan klenik campur-tangan sesuka hati dalam proses alam oleh suatu agen. Karenanya melalui Tauhid, alam dispisahkan dari dewa-dewa dan ruh-ruh dalam agama primitif, dari takhayul orang-orang yang naif dan bodoh. Seperti yang telah ditunjukkan oleh Syekh Muhammad Ibn Abdul Wahhab dalam karyanya Kitab al-Tauhid. Setiap takhayul, setiap bentuk sihir, melibatkan pelaku pemanfaatnya dalam syirik, atau pelanggaran Tauhid.[14]

Dengan demikian konsep alam yang benar dalam pandangan seorang muslim akan membawa kepada perilaku yang tepat. Bahwa pengenalan akan alam adalah pintu kepada entitas kekuata yang lebih tinggi. Alam menunjuk kepada supranatural power, yang berada di luar alam itu sendiri. Dan bahwa pengetahuan akan alam akan mengantarkan seorang muslim sampai kepada penghambaan yang benar. Bertauhid kepada Allah Azza wa Jalla, dengan segenap jiwa dan raga. Karena ia yakin bahwa, alam yang luas adalah bukti kekuasaan-Nya (Wallohu a’lam bi ash-Showab).

Penulis: Syamsuar Hamka, S.Pd., M.Pd.I (Penulis, Peneliti Filsafat Sains)

[1] Lihat: Ibn Katsir, Lubab at-Tafsir Min Ibn Katsir Jilid I (penerjemah: M. Abdul Ghoffar E.M.), cetakan ke-3, Bogor: Pustaka Imam Syafi’i, 2006, hlm. 25-26

[2] Lihat: Sirajuddin Zar,  Konsep Penciptaan Alam dalam Pemikiran Islam, Sains dan Al Qur’an dalam Moh. Ali, Konsep Alam Semesta Menurut Al-Qur’an Dan Implikasinya Bagi Pendidikan Islam, FIKRUNA, (Vol. 1, No. 1, Juli-Desember), 2012, hlm. 173

[3] Seyyed Hossein Nasr, an Introduction to Islamic Cosmological Doctrines, USA: Thames and Hudson, 1978, hlm. 53

[4] Franz Rosenthal, The Knowledge Triumphant; The Concept of Knowledge in Medieval Islam, Belanda: Brill, 2007, hlm. 10

[5] Lihat al-Ashfahani, Mu’jam Mufradaat alfaaz al-Qur’an dalam Usep Mohammad Ishaq, Menjadi Saintis Muslim, cet. I, Depok: Indie Publishing, 2014, hlm. 20

[6] ‘Alam diantranya diartikan : banner ; flag ; standard, (Lihat: http://www.almaany.com, diakses Selasa, 26 Januari 2016, Pkl. 11.31 WIB)

[7] Usep Mohammad Ishaq, Menjadi Saintis Muslim, hlm. 21

[8] Alparslan Acikgence, a Concept of Philosophy in the Qur’anic Context, dalam Wendi Zarman, Konsep Alam dan Sains dalam Pandangan Islam, Bahan Kuliah Islamic Science Up to 1500 CE, Jakarta: INSIST, 2016, hlm. 37

[9] Wendi Zarman, Konsep Alam dan Sains dalam Pandangan Islam, hlm. 37

[10] Wendi Zarman, Konsep Alam dan Sains dalam Pandangan Islam, hlm. 38

[11] Uraian lengkap dari kesepuluh prinsip tersebut dapat lihat pada alToumy al-Syaibani, Falsafah al-Tarbiyyah al-Islamiyyah (Falsafah Pendidikan Islam), Terj. Hasan Langgulung, (Jakarta: Bulan Bintang. 1979), hlm. 55-100. Dalam Moh. Ali, Konsep Alam Semesta Menurut Al-Qur’an Dan Implikasinya Bagi Pendidikan Islam, FIKRUNA, (Vol. 1, No. 1, Juli-Desember), 2012, hlm. 176-177

[12] Ismail R. al-Faruqi, Tauhid  (terjemahan: Rahmani Astuti), Bandung: Pustaka, 1995, hlm. 51

[13] Ismail R. al-Faruqi, Tauhid,  hlm. 51

[14] Ismail R. al-Faruqi, Tauhid (terjemahan: Rahmani Astuti), hlm. 53