/Konservasi Air Dalam Perspektif Islam

Konservasi Air Dalam Perspektif Islam

 

Konservasi Air Dalam Perspektif Islam

Dr. Ir. H. Hayu S. Prabowo[1]

Islam adalah agama pembangunan yang mengatur tata hidup dan kehidupan manusia dalam hubungannya dengan Allah, sesama manusia dan alam semesta dalam suatu keseimbangan untuk menuju kebahagiaan dan kesejahteraan hidup lahir-batin dan dunia-akhirat. Oleh karenanya hakikat pembangunan rakyat Indonesia seutuhnya merupakan tanggung jawab umara (pemerintah), ulama, dan umat. Penyampaian khusus melalui bahasa agama berupa firman Allah SWT maupun sabda Nabi Muhammad SAW disertai contoh permasalahan yang timbul di masyarakat akan lebih mudah diterima dan dapat langsung masuk kedalam relung hati. Dorongan internal keagamaan dari diri sendiri ini akan melengkapi keberhasilan penerapan dan penegakan hukum positif kebijakan pemerintah yang bersifat eksternal berupa aturan dan penegakan hukum yang mengikat.

Umat Islam Indonesia sebagai bagian terbesar dari rakyat Indonesia merupakan golongan yang paling berkepentingan atas tersedianya air suci yang menyucikan. Ajaran Islam sangat memperhatikan air karena menempatkan air bukan sekadar sebagai minuman bersih dan sehat yang dibutuhkan untuk kelestarian hidup semua makhluk-hidup, melainkan juga menjadikannya sebagai sarana penting yang sangat menentukan bagi kesempurnaan iman seseorang dan ke-sah-an sejumlah aktivitas ibadah. Dalam setiap hukum pembahasan ibadah selalu didahului dengan pembahasan tentang bersuci (thaharah) sebagai persyaratan wajib pelaksanaan ibadah tersebut. Dalam setiap pembahasan tentang bersuci, air selalu menjadi faktor utama, karena air dalam fikih adalah alat bersuci yang paling utama.

Kedudukan dan Pentingnya Air Dalam Kehidupan

 

Kedudukan dan pentingnya air dalam kehidupan beragama dan bernegara dijelaskan dalam Al-Qur’an, Hadits dan Undang-Undang Dasar RI 1945. Al-Qur’an dan Hadits menyatakan dengan jelas tentang konservasi air bahwa (i) pasokan air tetap, dan (ii) air tidak boleh disia-siakan.

  1. Al-Qur’an, “…Dan Kami jadikan dari air itu segala sesuatu yang hidup….” (QS. Al  Anbiya’ [21]:30). Sejalan dengan ayat ini kita dapat melihat kenyataan bahwa kehidupan di alam ini sangat berkepentingan dengan air.
    1. Pasokan air adalah tetap, dan oleh karena itu, harus dikelola karena pasokan tidak dapat ditingkatkan:”Dan kami turunkan air dari langit menurut suatu ukuran dan kami jadikan air itu menetap di bumi” (QS. Al Mu’minuun [23]:18).
    2. Air tidak boleh disia-siakan karena diperlukan oleh seluruh makhluk. “Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah Saudara-saudara syaitan” (QS. Al Israa’ [17]:27).
  1. Hadits, diriwayatkan oleh Ahmad dan Abû Dâwud bahwa “Manusia berserikat dalam tiga hal: dalam padang rumput, air, dan api”. Yang dimaksud hak milik umum ialah sesuatu yang digunakan bagi keperluan umum. Mata air dan sumur wajib dimanfaatkan bagi orang umum. Seseorang yang mempunyai sumber air wajib mengizinkan orang lain mengambil airnya, tidak dibenarkan memonopoli untuk diri dan keluarganya saja. Islam juga melarang membuang kotoran ditempat-tempat yang mengakibatkan tercemarnya air sehingga tidak dapat dimanfaatkan kembali. “sesungguhnya Nabi melarang kencing di air yang tidak mengalir.” (HR. Muslim). Hadits-hadits ini menyatakan dengan jelas tentang pengelolaan air. Pertama, pasokan air tetap, dan kedua, tidak boleh disia-siakan.
  2. Pasokan air adalah tetap, Rosulullah Saw bersabda bahwa “membasuh, atau mandi dengan satu sha’ hingga lima mud, dan berwudlu dengan satu mud.” (HR. Bukhari). Satu mud setara dengan 2/3 liter dan satu sha adalah 4 Mud. Hadits ini menunjukkan pendekatan logis untuk penggunaan air yang berkelanjutan di tandus Arab tempat Nabi tinggal.
  3. Air tidak boleh disia-siakan. Namun meskipun dalam keadaan air melimpahpun, Nabi juga melarang pemborosan air. Nabi Saw melihat Sa’ad yang sedang berwudhu, lalu beliau berkata, “Pemborosan apa itu, hai Sa’ad?” Sa’ad bertanya, “Apakah dalam wudhu ada pemborosan?” Nabi menjawab, “Ya, meskipun kamu (berwudhu) di sungai yang mengalir.” (HR. Ahmad)
  1. Undang-Undang Dasar RI 1945, pasal 33 ayat 3 bahwa “Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat”. UUD ini semakin memperkuat lagi kedudukan dan kepentingan air bagi semua jenis kehidupan. Sehingga bagi umat muslim Indonesia, kewajiban menjaga air dituntut dari sisi agama dan negara.

 

Kontribusi Majelis Ulama Indonesia dalam Konservasi Air

Majelis Ulama Indonesia (MUI) sebagai wadah musyawarah para ulama, zu’ama dan cendikiawan muslim bertujuan mengamalkan ajaran Islam untuk ikut serta mewujudkan masyarakat yang aman, damai, adil, dan makmur rohaniah dan jasmaniah yang diridhoi Allah SWT dalam negara Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila. Untuk mencapai tujuannya, usaha MUI, antara lain, adalah memberikan tuntunan dan bimbingan kepada umat Islam dalam mewujudkan kehidupan beragama dan bermasyarakat, serta memberikan nasihat dan fatwa mengenai masalah keagamaan dan kemasyarakatan kepada pemerintah dan masyarakat. Kepengurusan MUI meliputi perwakilan dari seluruh ormas Islam yang mencakup dari tingkat pusat, provinsi hingga kabupaten.

Beberapa hal yang telah dilakukan MUI atas kepedulian konservasi air diantaranya adalah:

  1. Melakukan kajian bersama UNICEF, Kementrian Kesehatan dan Kementrian Agama mengenai Air, Kebersihan dan Kesehatan Lingkungan pada tahun 1992.
  2. Melakukan kajian fikih dan teknis dan menetapkan fatwa MUI Nomor: 02 Tahun 2010 tentang Pemanfaatan Air Daur Ulang, dimana air daur ulang adalah suci mensucikan, sepanjang diproses sesuai dengan ketentuan fikih. Fatwa ini ditetapkan mengingat penggunaan air daur ulang dalam masyarakat meningkat seiring dengan peningkatan pesat kebutuhan air dan penurunan kualitas sumber air akibat dari peningkatan jumlah penduduk, laju urbanisasi dan perkembangan industri.
  3. Membentuk Lembaga Pemuliaan Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam pada tahun 2010 sebagai manifestasi Islam yang rahmatan lil ‘alamin, sebagai agama yang tumbuh ditengah kehidupan masyarakat yang dapat memberikan rahmat di dunia maupun di akhirat melalui kedamaian dan kasih sayang bagi bumi beserta seluruh makhluk hidupnya.
  4. Program EcoMasjid dan EcoPesantren. Dengan tujuan agar keberadaan masjid dan pesantren yang tersebar di seluruh pelosok Indonesia menjadi sarana strategis untuk pendidikan, sosialisasi serta memberikan contoh yang baik dalam hal konservasi air. Dalam hubungan ini pengembangan dakwah dilakukan secara lisan (bil lisan) dan perbuatan nyata (bil hal).

Pilot project di Pesantren dan Masjid Al-Amanah Sempon-Wonogiri serta Masjid Azzikra Sentul-Bogor telah dilakukan dengan program sbb:

  1. Sistem Tadah Air Hujan (Rain Water Harvesting System) dan Sumur Resapan.

Sistem Tadah Air Hujan merupakan adalah sistem tertutup penampungan dan pemanfaatan air hujan guna memenuhi kebutuhan air untuk bersuci dan sanitasi. Sistem ini dibuat terintegrasi dengan mengalirkan air hujan dari talang atap bangunan ke tangki penampung sedimikan rupa sehingga kotoran bisa terbuang luberan air nya dimasukan ke akuifer sumber air tanah melalui sumur resapan. Penerapannya memberikan keuntungan ekonomi dan proses nya memberikan dampak positif pada lingkungan hidup sbb:

  • Menyediakan swasembada pasokan air yang berkualitas tinggi, lembut dan rendah mineral
  • Mengurangi biaya dan energi untuk memompa air tanah maupun pompa distribusi. Hal ini dilakukan dengan menempatkan tangki air lebih tinggi dari keran pemakaian.
  • Mengurangi dampak perubahan iklim dan pemanasan global.
  • Meningkatkan kualitas air tanah melalui saat diisi ulang kembali kedalam akuifer sumber air tanah. Sehingga air tanah dapat tersedia untuk penduduk sekitar.
  • Mengurangi erosi tanah & banjir di daerah perkotaan.
  • Menangkap intrusi air laut di wilayah pesisir.
  1. Daur ulang air wudhu melalui proses Reverse Osmosis, yaitu proses yang menyaring berbagai molekul besar dan ion-ion dari suatu larutan sehingga najis dapat dipisahkan dan air kembali menjadi suci (fatwa MUI Nomor: 02 Tahun 2010).
  2. Penghijauan dan tanaman-tanaman yang disebut dalam Al-qur’an.
  3. Pendidikan mengenai pentingnya lingkungan hidup.
  4. Khutbah dan ceramah mengenai hablum minal alam, yaitu bagaimana manusia berhubungan, mengelola dan memanfaatkan ‘alam.

Peningkatan Peran Tokoh Agama Dalam Perilaku Konservasi Air

Meskipun sudah jelasnya petunjuk agama mengenai konservasi air namun hal ini belum secara luas untuk mempromosikan konservasi air di negara-negara mayoritas muslim. Masalah air adalah masalah dunia dan kehidupan perlu menjadi perhatian semua pihak, termasuk para agamawan. Umat Muslim akan mendengar, mendukung dan mencontoh suatu bentuk kebaikan bila disampaikan oleh para pemuka agama mereka. Sebuah survei memperlihatkan bahwa 64 persen dari responden percaya bahwa imam harus memainkan peran penting dalam pendidikan lingkungan dan kesadaran masyarakat, tetapi hanya 34 persen merasa bahwa imam juga harus sudah melakukannya.

Perubahan perilaku kita masing-masing terhadap konservasi air merupakan hal yang paling efektif dalam mengatasi masalah ini. Tiap individu harus menjadi teladan dalam konservasi air yang dimulai dari diri sendiri, rumah tangga, lingkungan kita sendiri – Umar bin Khattab mengatakan “Mulailah dari dirimu sendiri”. Oleh karenanya praktek konservasi air merupakan tanggung jawab tiap individu yang ingin menghemat air dengan menggunakannya lebih bijaksana. Muslim bertanggung jawab memastikan bahwa saudara-saudara kita memiliki akses mudah untuk air bersih. Rasulullah Saw bersabda: “Kamu akan melihat orang-orang mukmin dalam hal saling mengasihi, mencintai, dan menyayangi bagaikan satu tubuh. Apabila ada salah satu anggota tubuh yang sakit, maka seluruh tubuhnya akan ikut terjaga dan panas (turut merasakan sakitnya).”  (HR. Bukhari).

Menyadari hal ini, banyak pakar lingkungan berpendapat bahwa tindakan praktis dan teknis perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup dan sumber daya air dengan bantuan sains dan teknologi ternyata bukan solusi yang tepat. Yang dibutuhkan adalah perubahan perilaku dan gaya hidup yang beretika. Menyadari hal ini pembuat kebijakan mulai menyadari pentingnya nilai-nilai agama dan budaya dalam strategi kesadaran publik dan pendidikan karena spiritualitas dan etika sangat penting untuk mempengaruhi perilaku. Ajaran Islam tentang konservasi air mulai dimasukkan dalam strategi konservasi air di negara-negara mayoritas Muslim. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) meluncurkan program pendidikan kesehatan melalui masjid. Program ini mencakup pelatihan imam tentang praktek kesehatan yang layak, konservasi air dan pentingnya air bersih, sanitasi yang layak, dan kebersihan dalam pencegahan penyakit. Para imam kemudian menyiapkan dan memberikan ceramah dan khutbah Jum’at terkait konservasi air.

[1] Ketua Lembaga Pemuliaan Lingkungan Hidup & Sumber Daya Alam, Majelis Ulama Indonesia. Email: hayu.prabowo@mui-lplhsda.org,