/Konservasi Air Tanah Melalui Eko-Drainase

Konservasi Air Tanah Melalui Eko-Drainase

A. Pendahuluan

Drainase adalah saluran air di permukaan atau di bawah tanah, baik yang terbentuk secara alami maupun dibuat oleh manusia. Pertambahan penduduk dan perumahan yang semakin pesat tidak diimbangi dengan pengembangan sistem drainase yang baik. Karena alasan kesehatan lingkungan, biasanya air hujan dari lingkungan permukiman dialirkan melalui drainase yang kedap air, tanpa sedikitpun kemungkinan meresapkan kembali ke dalam tanah. Salah satu dampaknya adalah meningkatnya aliran permukaan, menurunnya kuantitas air yang meresap ke dalam tanah, serta menurunnya permukaan tanah mengakibatkan terjadi genangan/banjir pada musim hujan dan kekeringan air di musim kemarau.

Sebagai salah satu sumber daya alam, air merupakan suatu benda alam yang tidak tergantikan yang sangat penting untuk dilestarikan keberadaannya. Jika seluruh air hujan dialirkan melalui drainase langsung ke sungai tanpa ada sedikitpun bagian yang di resapkan ke dalam tanah, akan mengakibatkan terganggunya keseimbangan tata air dan hidro ekosistem lingkungan tersebut.

Oleh karenanya diperlukan adanya suatu perencanaan penerapan sistem drainase berwawasan lingkungan (eko-drainase) agar nantinya kelebihan air terutama air hujan dapat ditampung dan dikendalikan supaya meresap ke dalam tanah sehingga mengurangi luapan air permukaan yang menyebabkan banjir pada musim hujan dan kekeringan pada musim kemarau.

Allah SWT menurunkan hujan menurut ukuran untuk disimpan bumi untuk dimanfaatkan oleh seluruh makhluk hidup. Hujan merupakan nikmat baik untuk kehidupan didunia dan kehidupan di akhirat melalui ibadah. Allah SWT berfirman: “Dan Kami turunkan air dari langit dengan suatu ukuran; lalu Kami jadikan air itu menetap di bumi, dan pasti Kami berkuasa melenyapkannya”. (Al-Mu’minun[23]:18)

Allah SWT berkuasa untuk mencabut nikmat ini. Oleh karenanya kita wajib menjalankan perintahNya dan menjauhi laranganNya. Melakukan konservasi air dengan menyimpan air hujan dengan sebaik-baiknya adalah merupakan amalan wajib amar ma’ruf nahi munkar yaitu perintah untuk mengajak atau menganjurkan hal-hal yang baik dan mencegah hal-hal yang buruk bagi masyarakat.

B. Drainase Konvensional

Dalam konsep drainase konvensional, seluruh air hujan yang jatuh ke di suatu wilayah harus secepat-cepatnya dibuang ke sungai dan seterusnya mengalir ke laut. Drainase konvensional untuk permukiman atau perkotaan dibuat dengan cara membuat saluran-saluran lurus terpendek menuju sungai guna mengatuskan kawasan tersebut secepatnya.Seluruh air hujan diupayakan sesegera mungkin mengalir langsung ke sungai terdekat. Hal ini menyebabkan (i) sungai-sungai akan menerima beban yang melampaui dari kapasitasnya, sehingga sungai meluap dan dapat mengakibatkan terjadinya banjir, erosi dan longsor, dan (ii) berkurangnya air meresap sehingga cadangan air tanah akan berkurang, kekeringan di musim kemarau akan terjadi.

Sangat ironis bahwa semakin baik drainase konvensional di suatu kawasan aliran sungai, maka kejadian banjir di musim hujan dan kekeringan di musim kemarau akan semakin intensif silih berganti. Dampak selanjutnya adalah kerusakan ekosistem, perubahan iklim mikro dan makro disertai tanah longsor di berbagai tempat yang disebabkan oleh fluktuasi kandungan air tanah musim kering dan musim basah yang sangat tinggi.

Keadaan tersebut semakin diperparah dengan adanya fenomena perubahan iklim yang mengakibatkan cuaca sangat ekstrim. Dikarenakan meningkatnya suhu bumi, maka penguapan air atas tanah akan semakin besar yang mengakibatkan kekeringan ekstrim. Sebaliknya kandungan besar uap air diudara akan menimbulkan hujan yang sangat lebat dalam jangka waktu singkat. Sehingga akan mengakibatkan cuaca ekstrim, bila kemarau akan terjadi lebih panjang dan bila hujan akan lebat yang bersifat merusak. Keadaan ini akan meningkatkan kegagalan panen petani dan mengancam ketahan pangan nasional dan global.

Beberapa upaya penanganan drainase seperti normalisasi sungai dan saluran drainase atau perbaikan dan penambahan saluran hanya dapat menanggulangi permasalahan drainase untuk jangka pendek. Oleh karena itu diperlukan upaya penanganan yang tidak hanya memecahkan permasalahan drainase dalam jangka pendek, tetapi juga dapat menangani permasalahan drainase secara terintegrasi.

Perencanaan drainase perlu memperhatikan fungsi drainase yang dilandaskan pada konsep pembangunan yang berwawasan lingkungan. Salah satu penanganannya adalah konsep drainase berwawasan lingkungan (eko-drainase). Konsep ini berkaitan langsung dengan usaha konservasi Sumber Daya Air, yang prinsipnya adalah mengendalikan air hujan supaya dapat meresap ke dalam tanah dan tidak banyak terbuang sebagai aliran permukaan.

C. Drainase Ramah Lingkungan (eko-drainase)

Drainase ramah lingkungan didefinisikan sebagai upaya mengelola air kelebihan dengan cara sebesar-besarnya diresapkan ke dalam tanah secara alamiah dan mengalirkan sisanya ke sungai. Dalam drainase ramah lingkungan, justru air kelebihan pada musim hujan harus dikelola sedemikian sehingga tidak mengalir secepatnya ke sungai. Namun diusahakan meresap ke dalam tanah, guna meningkatkan kandungan air tanah untuk cadangan pada musim kemarau.

Drainase Konvensional eko-drainase
Air hujan dan limpasan permukaan merupakan ancaman yang dapat menimbulkan banjir dan genangan Air hujan dan limpasan permukaan adalah aset yang dapat dimanfaatkan untuk berbagi tujuan.
Air hujan dan limpasan permukaan secepat-secepatnya dibuang ke badan air terdekat agar tidak menimbulkan genangan Upaya penanganan air hujan dan limpasan permukaan secara komprehensif dengan cara menampung, menahan dan meresapkan kedalam tanah.
Hanya fokus pada penanganan kuantitas air hujan (banjir) Bertujuan banyak: kuantitas, kualitas, lanskap, estetika, kenyamanan, konservasi, restorasi ekologi, dll


Agus Maryono memperkenalkan eko-drainase dengan metoda TRAP (Tampung, Resapkan, Alirkan dan Pelihara). Tampung dilakukan melalui pemanen air hujan ataupun embung desa atau kolam penampung. Resapan dilakukan melalui peningkatan resapan alami dengan penanaman pohon ataupun perlambatan aliran air hujan, biopori ataupun sumur resapan.  Setelah dilakukan penampungan dan peresapan, maka setelah itu barulah dialirkan ke luar lingkungan dan dilakukan perawatan rutin sistem eko-drainase ini.

Kolam penampung air hujan dan drainase ramah  lingkungan pada pemukiman dan areal pertanian/perkebunan (Agus Maryono)

D. Penerapan TRAP

Sistim dibawah ini menggabungkan penampungan dimana limpahan air hujan dari tangki air akan di resapkan pada sumur resapan atau sumur pompa.

Sistem Pemanen Air Hujan (PAH) mengalirkan air hujan dari talang melalui sistim penyaringan ke tangki penampung dimana luberan air nya diresapkan tanah atau dimasukan ke sumur resapan. Pemanfaatan air hujan akan menambah berkah dengan mengurangi air tanah atau PAM, mengurangi banjir serta mengurangi listrik.

Sumur resapan dapat meresapkan air hujan untuk mengurangi dampak banjir, menjaga ketersediaan air tanah serta menjaga kelembaban udara dan kesuburan tanah. Dikota besar yang sebagian besar masyarakat masih mengambil air tanah, peningkatan resapan air akan mengurangi dampak penurunan tanah serta intrusi air laut kedalam sumber air tanah.

E. Penerapan eko-drainase Pada Taman

Pengaturan lanskap pada daerah perumahan dapat mengakibatkan berkah air hujan akan hilang karena pohon ditanam di atas gundukan dan mengarahkan aliran air hujan langsung ke selokan, tidak melewati tanaman.

Menanam pohon buah-buahan lokal pada cekungan, dan dengan mengarahkan hujan dari jalan melewati cekungan ini, kita dapat menghemat ribuan liter air setiap tahun . Tidak hanya itu,  suburnya tanaman akan menaungi dan mendinginkan rumah kita serta menghasilkan buah-buahan. Ini adalah konsep permakultur – menjaga bumi untuk maslahat manusia.

F. Meningkatkan Resapan Air dengan Guludan & Pohon

Penggunaan air, selain untuk minum, sekitar 25% – 50%  konsumsi adalah untuk menyiram tanaman yang tergantung dimana anda tinggal. Penggunaan air ini bisa dikurangi dengan meningkatkan peresapan melalui pembuatan penumpukan tanah (guludan) searah kontur tanah yang memotong lereng (Swale).

  • Guludan adalah tumpukan tanah yang dibuat memanjang menurut arah garis kontur atau memotong lereng. Tinggi tumpukan tanah sekitar 25 – 30 cm dengan lebar dasar sekitar 30 – 40 cm. Jarak antara guludan tergantung pada kecuraman lereng, kepekaan erosi tanah, dan erosivitas hujan. Semakin curam lereng, semakin pendek jarak guludan; semakin peka tanah terhadap erosi semakin pendek jarak lereng; dan semakin tinggi erosivitas hujan, semakin pendek jarak lereng.
  • Bedengan adalah gundukan tanah yang sengaja dibua untuk menanam tanaman sayuran dengan lebar dan tinggi tertentu. Ukuran bedengan: Panjang= 2- 2,5 m, Lebar= 70 cm, dan kedalaman= 30 cm

Oleh: Dr. Hayu Prabowo

Selengkapnya dapat di lihat di ecoMasjid

Referensi:

Agus Maryono. Eko-Drainase, Konsep Drainase Ramah Lingkungan. https://mediasurviva.wordpress.com/2009/04/20/eko-drainase-konsep-drainase-ramah-lingkungan/

Agus Maryono. 2015. Eko-Drainase (Drainase Ramah Lingkungan) Dengan Metode Drainase “TRAP”. Modul pelatihan. 14 September 2015.

Yayasan Bumi Langit. 2016.  Merancang Sistem Pertanian Terpadu Permakultur. Modul pelatihan untuk pesantren, 14-26 Sep 2016.

Dea Nathisa Muliawati , dan Mas Agus Mardyanto. 2015. Perencanaan Penerapan Sistem Drainase Berwawasan Lingkungan (Eko-Drainase) Menggunakan Sumur Resapan di Kawasan Rungkut. Jurnal Teknik ITS Vol. 4, No. 1, (2015) ISSN: 2337-3539 (2301-9271 Print).

Isri Ronald Mangangka. 2015. Sistem Drainase Berwawasan Lingkungan (Eko-drainase) Untuk Mendukung Sanitasi. Seminar Nasioanal Dies Natalies 54, Universitas Sam Ratulangi.

Planting Justice. Grow Food, Grow Jobs, Grow Community.  http://plantingjustice.org/resources/urban-permaculture/basins/

Ketua Lembaga Pemuliaan Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam Majelis Ulama Indonesia