/Krisis Hutan Hujan: Keprihatinan Moral dan Prioritas Agama

Krisis Hutan Hujan: Keprihatinan Moral dan Prioritas Agama

Share tulisan ini di social media

Penggundulan hutan hujan (rainforest) merupakan krisis eksistensi manusia – kita bisa bertindak untuk mengatasinya sekarang, atau membiarkan generasi masa depan hidup dalam ekologi yang sudah hancur. Hutan hujan sangat cepat binasa: dari Amazon ke lembah Kongo ke Asia Tenggara, hutan hujan ditebang dengan kecepatan yang memprihatinkan, dipacu oleh konversi lahan untuk pertanian dan industri ekstraktif. Penghancuran hutan hujan merusak upaya internasional untuk pengentasan kemiskinan, perubahan iklim, konservasi keanekaragaman hayati dan pembangunan berkelanjutan.

Hutan hujan dunia merupakan ciptaan yang tak tergantikan dan penting bagi kehidupan di bumi. Hutan hujan mengandung lebih dari 50 persen spesies tumbuhan dan hewan di planet ini dan memberi ratusan juta orang di seluruh dunia makanan, air, obat-obatan, dan mata pencaharian. Hutan hujan juga penting untuk memerangi perubahan iklim. Hutan adalah satu-satunya solusi alami yang terjamin, terbukti, dan tersedia untuk menangkap dan menyimpan karbon. Penggundulan hutan hujan (deforestasi) merupakan sumber utama emisi gas rumah kaca yang menyebabkan perubahan iklim. Perlindungan, restorasi dan pengelolaan hutan yang berkelanjutan merupakan sepertiga bagian solusi untuk memerangi perubahan iklim.

Indonesia memiliki lebih dari 90 juta hektar hutan hujan, wilayah terbesar ketiga di dunia setelah Brasil dan Republik Demokratik Kongo. Pada tahun 1960-an, 82% persen dari Indonesia berhutan. Tutupan hutan hujan terus menurun dan sekarang, hanya tinggal 49% dari tutupan hutan asli. Sebagian besar dari tutupan yang tersisa ini terdiri dari hutan bekas tebangan dan hutan kritis.

Lahan gambut Indonesia menyimpan sekitar 35 miliar ton karbon. Ketika lahan gambut ini dikeringkan, dibakar, dan dijadikan perkebunan, maka ribuan ton karbon dioksida terlepas ke udara dan penyebab  utama kebakaran hutan. Akibatnya Indonesia sekarang merupakan penghasil emisi gas rumah kaca terbesar ketiga di dunia setelah AS dan China, dengan 85% profil emisinya berasal dari hutan hujan serta degradasi dan kehilangan lahan gambut.

Hanya dalam 70 tahun manusia telah menghancurkan setengah dari hutan dunia, dimana bumi memerlukan waktu hingga 100 juta tahun untuk menumbuhkannya. Ketika hutan hujan dihancurkan, konsekuensinya sangat serius dan tidak dapat diubah:

  • Hewan dan tumbuhan yang unik hilang selamanya.
  • Orang-orang kehilangan tempat tinggal mereka dan jatuh ke jurang kemiskinan.
  • Temperatur dunia naik dan cuaca lokal menjadi ekstrim (sangat kering, hujan sangat lebat, sangat dingin, sangat panas, angin topan, dll) yang berdampak pada hasil pertanian serta ekonomi dunia serta kehidupan makhluk di bumi.
  • Antara 10 dan 15 persen dari emisi gas rumah kaca dunia terjadi sehubungan dengan penggundulan hutan.

Peran Penting Umat Agama Dunia

Religions for Peace (Agama untuk Perdamaian) adalah mitra pendiri Interfaith Rainforest Initiative (inisiatif Lintas Agama untuk hutan hujan ) merupakan badan pelaksana inti pada tingkat global di Brasil, Kolombia, Republik Demokratik Kongo, Indonesia dan Peru – lima negara dengan lebih dari 70 persen hutan hujan  yang tersisa di dunia. Melalui Religions for Peace, Interfaith Rainforest Initiative meluncurkan deklarasi ‘Faiths for Forests‘ dan agenda aksi untuk memobilisasi kepemimpinan, komitmen, dan momentum baru dalam isu kritis ini.

Interfaith Rainforest Initiative (IRI) merupakan aliansi internasional multi-agama yang berupaya membawa urgensi moral dan kepemimpinan berbasis agama pada upaya global untuk mengakhiri penggundulan hutan hujan.  Interfaith Rainforest Initiative menyediakan platform bagi para pemimpin agama untuk bekerja bahu membahu dengan masyarakat adat, pemerintah, organisasi masyarakat sipil, dan bisnis dalam aksi-aksi yang melindungi hutan hujan.

Inisiatif ini diluncurkan pada Juni 2017 di Nobel Peace Center di Oslo, Norwegia dalam pertemuan puncak pertama para pemimpin Kristen, Muslim, Yahudi, Budha, Hindu dan Tao, ilmuwan iklim, pakar hutan hujan dan perwakilan masyarakat adat dari Brasil, Kolombia, Republik Demokratik Kongo, Indonesia, Meso-Amerika dan Peru.

Sejak deklarasi Prakarsa Lintas Agama untuk Pelestarian Hutan (Interfaith Rainforest Initiative) pada 26 Oktober 2018, umat agama Indonesia sudah masuk dalam aliansi lintas-agama internasional yang bertujuan untuk membawa kepentingan moral dan sumber daya spiritual menjadi upaya global untuk mengakhiri penggundulan hutan hujan (rainforest). Pertemuan ini kemudian dilanjutkan pada 7 September 2019 dengan pembentukan Dewan Penasihat Inisiatif Hutan Hujan Lintas Agama Indonesia (IRI Advisory Council Indonesia) oleh perwakilan:

  • Delegasi Interfaith Rainforest Initiative
  • Bishop Emeritus Gunnar Stalsett, Honorary President, Religions for Peace
  • Rev. Kyoichi Sugino, Deputy Secretary General, Religions for Peace
  • Dr. Lars Lovold, Special Advisor, Rainforest Foundation Norway
  • Dr. Charles McNeill, Senior Advisor, Forests & Climate, UNEP
  • Siaga Bumi (Indonesia Bergerak Selamatkan Bumi), delapan majelis keagamaan yang membentuk forum lintas agama untuk pelestarian lingkungan hidup dan sumber daya alam.
  • AMAN (Aliansi Masyarakat Adat Nusantara), organisasi kemasyarakatan (ORMAS) independen yang beranggotakan komunitas-komunitas Masyarakat Adat dari berbagai pelosok Nusantara.

Dewan Penasihat IRI Indonesia  terdiri dari delapan majelis keagamaan, AMAN serta beberapa Lembaga Swadaya Masyarakat. Peran Dewan Penasihat IRI adalah untuk memberikan saran dan arahan strategis tentang hal-hal substantif terkait dengan Inisiatif Hutan Hujan Lintas Agama di negara mereka masing-masing dan membawa suara para pemangku kepentingan negara untuk mendukung pelaksanaan kegiatan di tingkat negara.

Program IRI di tiap negara meluncurkan dan mendukung jaringan berbasis agama yang berfokus pada perlindungan hutan hujan, melakukan pelatihan bagi para pemimpin agama dan spiritual tentang masalah hutan hujan, dan membangun kapasitas di antara komunitas agama dan agama untuk mengadvokasi kebijakan, peraturan, dan praktik yang melindungi hutan hujan dan hak-hak Masyarakat Adat dan komunitas hutan. Mereka akan mempromosikan kolaborasi lintas sektoral antar agama, Penduduk Asli, masyarakat sipil, bisnis, akademisi dan pemerintah, untuk membantu membawa pengaruh moral, politik dan sosial dari komunitas antaragama untuk mendukung upaya-upaya yang ada untuk perlindungan hutan.

Untuk mencapai tujuan-tujuan ini, program-program IRI adalah untuk memfasilitasi partisipasi aktif dan bermakna oleh para pemangku kepentingan, tidak hanya sebagai penerima manfaat dari inisiatif ini tetapi juga sebagai penggerak strategi dan tindakan yang berpengaruh dan peserta aktif dalam implementasi dan tata kelola program.

Oleh Dr. Hayu Prabowo