/Listrik Kerakyatan

Listrik Kerakyatan

Share tulisan ini di social media

Sebagai tindak lanjut dari pertemuan FORUM ENERGI DKI , 24 Januari 2019, Ketua Lembaga PLH & SDA MUI bersilaturahim ke Sekolah Tinggi Teknik PLN yang diterima oleh tim STT PLN yang diketuai Dr. Supriadi Legino. Saat ini kedua organisasi memiliki fokus program yang sama yaitu sedang berusaha mengolah sampah menjadi energi dan sama-sama telah membuat sendiri beberapa peralatan, termasuk gasifier, tungku bakar sampah, kompor biomasa serta pengelolaan sampah.

STT PLN saat ini sedang mengembangkan program yang dinamakan “Listrik Kerakyatan”, yaitu model penyediaan dan pengembangan energi listrik yang terdiri dari bauran pembangkit sederhana skala kecil dari energi bersih yang tersedia di sekitar komunitas sehingga dapat dibangun sendiri dilakukan secara bergotong-royong oleh berbagai kelompok masyarakat di tingkat kelurahan di seluruh tanah air.

Dengan semangat semangat 5R, yaitu Reduce, Reuse, Recycle, Regenerative dan Recovery, program listrik kerakyatan ini dilakukan dengan menggunakan sampah sebagai sumber energi sampah karena dipandang bisa menjawab permasalahan sampah perkotaan serta masalah energi di daerah pelosok dan pulau terpencil. Sampah di rubah menjadi pelet melalui teknik Tempat Olah Sampah Setempat (TOSS) dan dilakukan “peuyeumisasi”, dalam waktu 10 hari sampah baru dirubah menjadi pelet sebagai bahan bakar untuk gasifier ataupun untuk memasak.

Landasan pemikiran Listrik Kerakyatan adalah suatu model pembangkitan skala kecil tersebar yang dilakukan secara mandiri oleh masyarakat. Berbeda dengan sistem konvensional terpusat, konsep pembangkitan kecil tersebar (distributed generation) memasok daya listrik dari sejumlah pembangkit skala kecil di sisi beban atau konsumen yang dihubungkan ke jaringan tegangan rendah atau tegangan menengah. Model ini memiliki keunggulan utama yaitu bisa dibangun hampir di setiap lokasi dan waktu penyelesaian yang jauh lebih cepat dibandingkan dengan pembangkit konvensional skala besar.

Aljabar Listrik Kerakyatan adalah: 1000 x 1 = 1 x 1000. Secara matematik, 1000 x 1 = 1x 1000, artinya membangun 1 unit pembangkit dengan kapasitas 1000 MW manfaat atau total kapasitasnya sama persis dengan membangun 1000 unit pembangkit dengan kapasitas masing-masing 1 MW. Untuk membangun pembangkit besar membutuhkan lahan yang luas dan waktu serta investasi per unit pembangkit sangat besar, sehingga hanya negara ataupun pemodal besar saja yang dapat melakukannya. Sebaliknya, pembangkit listrik kecil dapat melibatkan partisipasi masyarakat secara luas, apalagi bila pembangkit bisa menggunakan sampah sebagai sumber energinya.

MUI dan STT PLN akan mencoba melakukan sinergi terutama untuk sosialisasi dan penerapan Fatwa MUI 47/2014 Tentang Pengelolaan Sampah Untuk Mencegah Kerusakan Lingkungan. Ketentuan hukum dari fatwa ini adalah bahwa muslim wajib menjaga kebersihan lingkungan, memanfaatkan barang-barang gunaan untuk kemaslahatan serta menghindarkan diri dari berbagai penyakit serta perbuatan tabdzir dan israf dan mendaur ulang sampah menjadi barang yang berguna bagi peningkatan kesejahteraan umat hukumnya wajib kifayah.

Oleh: Dr. Hayu Prabowo