/Manusia Berserikat Dalam Air, Pangan dan Energi

Manusia Berserikat Dalam Air, Pangan dan Energi

Share tulisan ini di social media

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda “Manusia berserikat dalam tiga hal: air, padang rumput, dan api” (HR. Abu Dawud).

Dua hal yang dapat kita ambil hikmahnya dari hadits ini:

  1. “Padang rumput” dapat diartikan tumbuh-tumbuhan sebagai makanan, baik untuk ternak dan manusia. Sedangkan “api” saat ini dapat diartikan sebagai energi. Sehingga hadits tersebut dapat diartikan agar manusia berserikat dalam air, pangan dan energi.
  2. Hadits tersebut diatas dapat dimaknai juga bahwa makanan, air dan energi yang kita miliki bukanlah mutlak milik kita 100%. Karena zat tersebut merupakan milik bersama umat manusia. Oleh karenanya kita perlu secara cermat memanfaatkannya sehingga tidak mengunakan hak orang lain dengan cara mubazir dan berlebih-lebihan. Karena nexus atau jaringan alam semesta untuk air-energi-pangan adalah saling terkait untuk kelangsungan kehidupan umat manusia.

Subhanallah, pernyataan Rasulullah SAW lebih dari 14 abad lalu tersebut, selaras dengan pernyataan PBB dalam pembangunan berkelanjutan (sustainable development) atas pentingnya ketahanan air, pangan dan energi. Hadits ini juga  selaras dengan UUD 45 pasal 33 ayat 3 bahwa “Bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh Negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat”.

Maka pada ramadhan ini kita perlu melatih jiwa kita dari pengaruh syahwat kita sendiri, syahwat perut dan syahwat faraj, untuk mencapai kemenangan.

Pangan

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam jika makan makanan, beliau menjilat jari-jarinya sebanyak tiga kali, beliau bersabda: “Jika suapan salah seorang dari kalian jatuh, maka hendaknya ia membersihkannya dari kotoran dan memakannya, dan janganlah ia membiarkannya untuk setan!” Dan beliau memerintahkan kami agar mengusap piring. Beliau bersabda: “Sesungguhnya tidak seorangpun di antara kalian mengetahui dibagian makanan manakah ia diberi berkah.” (HR. Abu Daud)

Berdasarkan data FAO 2016 dan Garda Pangan 2017, negara penghasil sampah makanan terbanyak di dunia, dalam rata-rata per hari per orang, adalah Arab Saudi 427 kg, Indonesia 300 kg dan Amerika 277 kg. Masya Allah. Kita bisa membuang makanan hanya dalam hitungan menit, tapi sadarkah kita bahwa alam membutuhkan waktu bulanan hingga tahunan sebelum sampai ke piring kita.

Hikmah hadits diatas adalah bahwa setiap butir makanan membawa berkah dan kita tidak boleh menyia-nyiakan makanan karena perbuatan mubazir adalah perbuatan setan. Dengan membuang makanan maka kita membuang segala keberkahan yang diberikan Allah kepada kita. Hal ini perlu kita cermati bersama karena Indonesia telah mengimpor beberapa bahan pokok untuk kebutuhan dalam negeri.

Islam mengajarkan pembangunan kedaulatan pangan dalam aspek Produksi, Konsumsi dan Distribusi pangan. Diantara pesan hadits yang terkait adalah

  1. PRODUKSI (pahala menanam tanaman, menghidupkan lahan mati yang belum pernah ditanami (ihya al-mawat), membagi makanan pada tetangga, kewajiban memberi makan pada tetangga kelaparan dan fakir miskin).
  2. KONSUMSI (makan tidak boleh tersisa, memakan makanan yang jatuh, meminum minuman yang kejatuhan lalat).
  3. DISTRIBUSI (Makan dari yang terdekat, harga mekanisme pasar kecuali ada distorsi yang menghambat).

Air

Dari Anas bin Malik R.A.: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berwudhu dengan satu mud dan mandi dengan satu sha’ hingga lima mud” (HR. Bukhari no. 198 dan Muslim no. 325).

Takaran satu mud adalah setara dengan volume air pada kedua telapak tangan orang dewasa. Beberapa referensi mengatakan bahwa satu mud setara dengan 750 mL atau sekitar kurang 1 botol air mineral 1 liter. Pada kenyataannya banyak dari kita yang berwudhu tidak mengikuti sunnah rasul tersebut dengan menggunakan air secara berlebihan.

Penyediaan air bersih bagi masyarakat masih menjadi salah satu masalah utama pembangunan manusia Indonesia. Karena masalah air mepengaruhi langsung kesehatan masyarakat serta Indeks Pembangunan Manusia. Hal ini menjadi sangat penting karena maslah perubahan iklim, sehingga kota-kota besar terancam akan kekurangan air bersih bila kita tidak mengelolanya dengan baik. Untuk itu kita perlu (1) Simpan Air, melalui penanaman pohon, sumur resapan, memanen air hujan, biopori, dll; (2) Hemat Air, mengurangi penggunaan air sehari-hari; dan (3) Jaga Air, menjaga air yang bersih (misal Sungai, Danau, air tanah, dll) dari sampah padat dan cair.

Energi

Pada saat ini kebutuhan energi Indonesia masih bergantung pada bahan bakar fosil yang tidak terbarukan. Berdasarakan laporan Energi Outlook BPPT tahun 2017 Indonesia akan menjadi net importer seluruh energi fosil: minyak bumi sejak tahun 2004, gas pada tahun 2025 dan batu bara pada tahun 2050. Oleh karenanya kita perlu memperhatikan merubah cara hidup dalam menggunakan energi ini dan mencari energi yang terbarukan untuk kelangsungan kehidupan bangsa.

Allah SWT berfirman: “yaitu Tuhan yang menjadikan untukmu api dari kayu yang hijau, maka tiba-tiba kamu nyalakan (api) dari kayu itu” (QS.Yasin:80)

Firman ini dapat kita ambil hikmahnya adalah bahwa kayu merupakan sumber api (energi) yang dapat kita gunakan seterusnya. Memang kenyataannya kayu bakar merupakan sumber energi selama masa peradaban manusia. Bahkan bahan bakar fosil yang saat ini banyak kita gunakan seperti batubara, minyak dan gas bumi  berasal dari bahan organik dari tumbuh2an dan makhluk hidup lainnya.

Pada jaman yang modern ini, meski sudah tersedia bahan bakar jenis lain yang memiliki nilai kalori lebih tinggi, lebih bersih, dan lebih praktis, namun beberapa jenis kuliner di dunia masih menggunakan kayu bakar untuk memasaknya. Di berbagai tempat, kayu bakar tetap digunakan karena telah menjadi ciri khas. Memasak dengan kayu bakar diyakini memiliki rasa yang berbeda dibandingkan memasak dengan bahan bakar lain.

Kayu bakar juga menjadi mata pencaharian bagi rakyat miskin hingga saat ini. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sungguh seorang dari kalian yang mengambil talinya lalu dia mencari seikat kayu bakar dan dibawa dengan punggungnya kemudian dia menjualnya lalu Allah mencukupkannya dengan kayu itu lebih baik baginya daripada dia meminta-minta kepada manusia, baik manusia itu memberinya atau menolaknya”. (H.R. Bukhari)

Sebagai negara tropis dan penduduk terbesar no. 4 dunia, Indonesia sangat melimpah dengan energi biomasa baik dari sampah kebun dan hutan maupun dari sampah yang saat ini belum tertangani dengan baik. Banyak teknologi pengelolaan biomasa menjadi energi yang bisa digunakan, sebagian ada dalam web ecomasjid.id.

Oleh: Dr.  Hayu Prabowo