/Masjid Berkelanjutan Menurut Ajaran Islam dan Konsep Bangunan Hijau

Masjid Berkelanjutan Menurut Ajaran Islam dan Konsep Bangunan Hijau

Share tulisan ini di social media

Masjid adalah bangunan tempat beribadah umat Islam. Bangunan masjid secara umum berfungsi sebagai sentral pengaturan umat (ri’ayatul ummah) baik yang bersifat penghambaan pada Allah, ataupun hubungan (mu’amalah) antar manusia. Menurut Dewan Masjid Indonesia (2014), Indonesia memiliki kurang lebih 731.096 masjid yang tersebar di seluruh Indonesia. Jumlah masjid tersebut merupakan angka yang cukup signifikan dalam kontribusinya pada lingkungan jika masjid-masjid tersebut menjadi masjid yang bangunannya menganut prinsip berkelanjutan. Oleh karena itu, pada tanggal 19 Februari 2016 Majelis Ulama Indonesia (MUI), Dewan Masjid Indonesia (DMI) dan Gerakan Siaga Bumi telah mempelopori tercetusnya program EcoMasjid dengan masjid Az-Zikra sebagai masjid percontohannya. EcoMasjid adalah tempat beribadah tetap umat Islam yang mempunyai kepedulian terhadap hubungan timbal balik berkelanjutan antar makhluk hidup dan lingkungannya (Prabowo 2017).

Berdasarkan hasil invesigasi awal peneliti, selain Masjid Az-Zikra , sudah ada masjid-masjid lain yang juga secara parsial melakukan praktek berkelanjutan dalam pengelolaan bangunan masjidnya. Oleh karena itu, penelitian tentang pencapaian keberlanjutan dari masjid-masjid tersebut serta penentuan komponen dan kriteria bangunan masjid berkelanjutan berdasarkan ajaran islam dan best practices yang ada di masjid perlu dilakukan. Hasil tersebut sangat berguna sebagai langkah awal di Indonesia untuk memiliki panduan khusus penilaian bangunan masjid yang berkelanjutan.

Pada penelitian ini dilakukan pengambilan data primer terhadap pencapaian praktek keberlanjutan menurut konsep bangunan hijau pada masjid-masjid yang dijadikan objek penelitian, yaitu Masjid Az-Zikra, Masjid Al-Irsyad, Masjid Daarut Tauhiid, Masjid Salman ITB, dan Masjid Al-Safar. Data-data tersebut selanjutnya dinilai dengan rating tool GREENSHIP HOMES Ver.1 dan dijelaskan secara deskriptif. Selain hal tersebut, untuk menentukan preferensi terhadap komponen dan kriteria bangunan berkelanjutan menurut ajaran Islam dan konsep bangunan hijau dilakukan wawancara dengan bantuan kuesioner pada responden ahli yang dipilih secara purposive. Data yang diperoleh dianalisis dengan AHP (Analtytical Hirarcy Process).

Hasil penelitian dengan rating tool GREENSHIP HOMES menunjukkan bahwa Masjid Az-Zikra, Masjid Salman ITB, dan Masjid Al-Irsyad adalah tiga masjid yang dapat dijadikan contoh terbaik dalam implementasi bangunan hijau karena mencapai rating gold. Dalam hasil sintesa masjid berkelanjutan berdasarkan ajaran Islam dan konsep bangunan hijau dengan rating tool GREENSHIP HOMES, ditemukan satu komponen tambahan, lima kriteria dan tolok ukur – tolok ukur yang bersumber dari best practices. Komponen tambahan yang dimaksud adalah karakteristik masjid dengan lima kriteria di dalamnya yaitu nilai inheren masjid, fungsi masjid, kesiapan idaaroh masjid, kesiapan imaaroh masjid, dan kesiapan ri’aayah masjid.

Hasil analisis menggunakan AHP pada tujuh komponen masjid berkelanjutan menunjukkan bahwa komponen yang secara relatif paling diminati hingga yang paling tidak diminati oleh pakar terhadap implementasi masjid berkelanjutan adalah komponen kebersihan dan kenyamanan dalam ruang (indoor health and comfort/ IHC) , manajemen lingkungan bangunan (building environment management/ BEM), konservasi air (water conservation / WAC), efisiensi dan konservasi energi (efficiency and energy conservation/ EEC), tepat guna lahan (appropriate site development / ASD), sumber dan siklus material (material resource and cycle / MRC), dan karakteristik masjid. Alternatif implementasi komponen dan kriteria masjid berkelanjutan menunjukkan bahwa masjid pemerintah menjadi alternatif yang paling diminati pakar dalam praktek konsep berkelanjutan pada masjid.

Eka Rahmat Hidayat, MSi

___________________________________________________________________________

Journal of Islamic Architechture : Volume 5 No 1 2018

ECOMASJID: THE FIRST MILESTONE OF SUSTAINABLE MOSQUE IN INDONESIA

Eka Rahmat Hidayat

Abstract

On November 11, 2017, MUI (Indonesian Council of Ulama), DMI (Indonesian Mosque Council) have launched the national program named eco masjid. Eco masjid is a program of sustainable mosque through efforts to preserve the environment and natural resources oriented to on aspects of idarah (management), imarah (prosperity activities), and ri’ayah (maintenance and facilities) which dominantly related to its building. In Indonesia, sustainable building principles are widely promoted by GBCI (Green Building Council Indonesia) and have been applied to various types of buildings. However, it has been realized that the study on the implementation of sustainable principle in the mosque is very rare. The research was carried out qualitatively by using direct observation on the pilot mosque to capture all implemented sustainable building principle. Based on the questionnaire to 44 participants which reflected 44 DKM (Dewan Kemakmuran Masjid), the result came up that applying water efficient faucet, using the LED lamp and sticker posting are the most achievable sustainable practices in the existing mosques. The authors suggest to all related bodies to determine the standard on how to assess the implementation of eco Masjid program.