/Menjadikan Mall Sebagai Destinasi Wisata Islami

Menjadikan Mall Sebagai Destinasi Wisata Islami

Jakarta, 21 September 2018. Lembaga Pemuliaan Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam, Majelis Ulama Indonesia (Lembaga PLH & SDA MUI) telah memprakarsai FGD “Menjadikan Pusat Belanja Sebagai Destinasi Wisata Islami” dengan narasumber Kementerian Pariwisata, Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia dan Pengusaha Pusat Perbelanjaan. FGD bertujuan untuk mendukung realisasi Indonesia sebagai destinasi wisata muslim dunia. Hal ini mengingat  jumlah wisatawan muslim mancanegara meningkat tajam yang merupakan potensi pasar besar bagi Indonesia sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia. Pusat belanja sebagai salah satu destinasi wisata perlu memposisikan dirinya untuk menangkap peluang ini dengan memberikan fasilitas, barang dan jasa sesuai dengan kebutuhan wisatawan muslim domestik maupun mancanegara.

Kegiatan ini dilatarbelakangi bahwa tujuan orang berwisata karena di motivasi tiga hal karena keindahan alam, budaya dan obyek buatan manusia. Aspek alam dan budaya merupakan atraksi di destinasi wisata sebesar 95%. Indonesia merupakan negara kepulauan dengan beragam kekayaan alam maupun budaya, sangat potensial untuk dikembangkan menjadi salah satu tujuan wisata mancanegara. Untuk mendukung ini, telah ditetapkan Permen Pariwisata 14/2016 tentang Pedoman Destinasi Pariwisata Berkelanjutan bahwa pembangunan kepariwisataan harus bertumpu pada konservasi, edukasi dan pemberdayaan masyarakat.Tujuan ini sangat selaras dengan tujuan Lembaga PLH & SDA MUI, sehingga prakarsa wisata Islami ini diambil sebagai salah satu program lembaga untuk konservasi lingkungan dan sumberdaya alam.

Mengingat Indonesia sebagai negara dengan jumlah umat muslim terbesar di dunia, dimana masyarakatnya hidup harmoni bersama dengan agama lain dan terbuka serta toleran terhadap perbedaan, maka timbul gagasan untuk mengembangkan wisata muslim (muslim friendly tourism) atau wisata Islami. Wisata Islami menjadikan kegiatan wisata biasa sebagai kegiatan ibadah. Oleh karenanya penyelenggaraannya memadukan antara nilai wisata umum dan nilai-nilai keislaman.

Berbelanja adalah kegiatan yang paling populer bagi wisatawan. Oleh karenanya pusat perbelanjaan dapat menangkap peluang ini dengan memberikan kemudahan bagi pengunjung dan wisatawan Muslim untuk memenuhi kebutuhannya, mulai dari tempat makan halal, tempat ibadah, kamar kecil serta komoditas untuk umat muslim. Berdasarkan survey yang telah dilakukan beberapa pusat belanja di Jakarta, memberikan fasilitas-fasilitas untuk pengunjung Muslim telah memberikan peningkatan jumlah pengunjung serta menambah waktu pengunjung berada di pusat belanja.

Mal berserta fasilitas dan komunitas didalamnya haruslah memberikan pengalaman berbelanja bagi pengunjungnya baik atmosfirnya, hiburan, berbagai barang dan jasa yang ditawarkan merupakan suatu kesatuan yang tidak terpisah yang menyatu dalam suatu komunitas antara pengunjung, pengelola dan penyedia barang dan jasa dalam sebuah mal. Pemenuhan makanan halal serta penyediaan fasilitas-fasilitas yang ramah terhadap muslim juga merupakan hak konsumen dalam mendapatkan barang dan jasa sesuai dengan kebutuhannya. Amanah ini telah ditetapkan pada UU 8/1999 tentang Perlindungan Konsumen, khususnya pada Pasal 4 mengenai Hak Konsumen terkait dengan (1) hak atas kenyamanan, keamanan, dan keselamatan dalam mengkonsumsi barang dan/atau jasa; dan (2) hak atas informasi yang benar, jelas, dan jujur mengenai kondisi dan jaminan barang dan/atau jasa. Ditegaskan oleh ketua YLKI pak Tulus Abadi bahwa konsumen muslim memiliki hak yang di jamin undang-undang untuk mendapatkan serta mendapatkan info tentang kehalalan suatu produk, baik produk konsumsi maupun non-konsumsi (mis, kosmetik, produk2 kulit, dll).  

Kebutuhan wisata muslim sekurang-kurangnya ada enam: makanan & produk halal, fasilitas sholat, toilet dengan fasilitas bersuci, layanan Ramadhan/Puasa, tidak ada aktivitas maksiat dan fasilitas tertentu terpisah antar gender. Dalam konsep mal Islami, sebuah mal harus mencantumkan kehalalan sebuah produk konsumsi maupun non-konsumsi, sehingga konsumen mendapatkan informasi untuk mendapatkan ataupun mengkonsumsi produk yang sesuai dengan kebutuhannya.

Mal atau pusat perbelanjaan dapat menangkap tantangan dan peluang ini, baik untuk pengunjung lokal ataupun wisatawan muslim mancanegara yang jumlahnya meningkat tajam. Apalagi Indonesia sangat berpotensi sebagai tujuan destinasi wisatawan muslim mancanegara yang saat ini masih kalah populer dibanding negara-negara tetangga. Oleh karenanya, perlu dibangun suatu kesatuan pandangan dan aksi nyata yang sinergis menumbuhkembangkan destinasi dan industri pariwisata muslim Indonesia dengan merealisasikan Muslim Friendly Mall dan Muslim Friendly Tourism (Wisata Islami).

 

Oleh: Dr. Hayu Prabowo