/Menjadikan Masjid Mandiri Energi Dengan Listrik Tenaga Surya

Menjadikan Masjid Mandiri Energi Dengan Listrik Tenaga Surya

Jakarta, 12 Oktober 2017.  Asosiasi Energi Surya Indonesia (AESI), Perkumpulan Pengguna Listrik Surya Atap (PPLSA) dan Lembaga Pemuliaan Lingkungan Hidup dan Sumberdaya Alam, Majelis Ulama Indonesia melakukan pertemuan di gedung BPPT untuk melakukan sinergi Gerakan Nasional Sejuta Surya Atap dengan program Masjid Ramah Lingkungan (ecoMasjid).

Gerakan nasional sejuta surya atap diluncurkan untuk memicu masyarakat dengan inisiatifnya sendiri untuk memasang listrik tenaga surya dalam rangka mendukung program pemerintah memenuhi target energi listrik tenaga surya sebesar 6,3 GW tahun 2025 dari kapasitas saat ini hanya 80 MW. Ini setara setiap tahun harus menambah kapasitas sekitar 800 MW.

Disisi lain program ecoMasjid memiliki tujuan dasar mempersiapkan kemandirian umat dalam menghadapi ancaman kelangkaan air dan energi yang semakin hari dirasakan semakin nyata. Program ecoMasjid dilakukan dengan berorientasi pada aspek idarah (manajemen), imarah (kegiatan memakmurkan), dan riayah (pemeliharaan dan pengadaan fasilitas). Hal ini dilakukan baik secara lisan (dakwah bil lisan) melalui tuntunan agama dan aksi nyata (Dakwah bil hal), diantaranya membangun fasilitas-fasilitas: (i) Air berupa pengelolaan PAM berbasis Masjid, Tadah Air Hujan, sumur resapan, penghemat air keran. (ii) Energi: Biogas pengelola limbah cair dan Pembangkit Listrik Tenaga Surya.

Energi Listrik Masjid Yang Maslahat

Masjid sebagai pusat pengembangan peradaban Islam dalam menjalankan fungsinya sebagai tempat ibadah, tempat pendidikan dan tempat kemasyarakatan memerlukan pasokan listrik dan air yang kontinyu. Diantaranya untuk:

  • Adzan sebagai seruan untuk memanggil sholat. Agar panggilan ini efektif, maka umumnya digunakan loud speaker.
  • Penyediaan fasilitas air dan sanitasi sebagai sarana yang sangat menentukan bagi kesempurnaan iman seseorang dan kesahan sejumlah aktivitas ibadah yang mengharuskan pelakunya suci dari segala hadas dan najis. Fiqh menetapkan bahwa alat suci dari hadas dan najis yang paling utama dan terpenting adalah air, melalui wudhu atau mandi (ghusl). Penyediaan ini umumnya menggunakan pompa listrik.

Dalam hal pendidikan dan kemasyarakatan listrik digunakan sebagai sarana untuk meningkatkan efetivitas dakwah masjid. Beberapa masjid di daerah pesisir dengan air payau, listrik digunakan untuk pemurnian air melalui penyaringan Reverse Osmosis (RO) untuk penyediaan air minum.

Hal tersebut diatas menunjukkan pentingnya kesinambungan penyediaan tenaga listrik untuk dakwah masjid modern. Tenaga listrik yang saat ini dibangkitkan  menggunakan bahan bakar fosil (minyak, gas dan batubara) yang terbatas jumlahnya karena sifatnya tidak terbarukan maka bahan bakar ini akan habis dalam beberapa dasawarsa kedepan. Selain jumlahnya terbatas, penggunaan bahan bakar fosil ini menghasilkan gas korbondioksida yang mengakibatkan kerusakan lingkungan (mafsadat) yang tentu harus kita hindari. Oleh karenanya bila kita tidak segera mencari alternatif energi, maka akan terjadi mafsadat lebih besar dengan terjadinya krisis energi dan kerusakan lingkungan lebih hebat yang akan dialami oleh keturunan kita nanti.

Sejalan dengan tujuan syari’at Islam, komponen dasar kehidupan manusia ada lima (5) hal sebagaimana dikenal dengan al-dlaruriyat al-khams,  salah satunya adalah memelihara keturunan (hifdzun nasl). Islam menuntut kita untuk meninggalkan keturunan yang kuat, oleh karenanya masjid perlu melihat potensi energi  yang terbarukan dan ramah lingkungan sebagai salah satu fasilitasnya sebagai peningkatan ibadah sosial (ghairu mahdhah).

Beberapa alternatif energi baru dan terbarukan (EBT) telah tersedia, salah satunya yang paling populer adalah Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS). PLTS ini tidak hanya tersedia secara melimpah, namun juga ramah lingkungan dan dapat menghemat biaya. Berdasarkan pengalaman AESI dan PPLSA, teknologi listrik surya (fotovoltaik) akan menurunkan biaya tagihan listrik dan biaya investasi akan kembali sekitar 7 tahun. Setelah itu Masjid akan menikmati keuntungan dari biaya listrik yang lebih murah untuk memakmurkan masjid dan akan terhindar dari mafsadat krisis energi dan lingkungan.

Gerakan Nasional Sejuta Surya Atap

Teknologi listrik surya (fotovoltaik) ini sudah diperkenalkan sejak tahun 1980 an. Tetapi ada beberapa kendala yang mengakibatkan pemanfaatan di Indonesia kurang cepat dibandingkan dengan negara-negara lain yang sudah memasang dengan kapasitas dalam skala Giga Watt. Di Indonesia baru terpasang sekitar 80 MW yang mungkin sebagian sudah tidak beroperasi dan umumnya ini adalah proyek-proyek pemerintah.

Persoalan utama listrik tenaga surya adalah karena investasi awal yang masih mahal, tapi dalam 2 tahun ini biaya investasinya turun sangat drastis, maka muncul inisiatif-inisiatif perorangan untuk menggunakan sendiri. Oleh karenanya ini merupakan peluang terjadinya peningkatan kapasitas dari inisiatif masyarakat. Apalagi pemerintah sudah memiliki target dalam kebijakan energi nasional maupun bahwa listrik surya ini di targetkan menjadi 6,3 GW tahun 2025. Sehingga dari kapasitas terpasang saat ini hanya 80 MW, maka setiap tahun harus menambah kapasitas sekitar 800 MW.

Oleh karenanya gerakan nasional sejuta surya atap diluncurkan  untuk memicu masyarakat dengan inisiatifnya sendiri untuk memasang listrik tenaga surya. Gerakan nasional sejuta surya atap ini di inisiasi oleh asosiasi-asosiasi dan beberapa kementerian. Untuk menangkap peluang berkembangnya pasar 6,3 GW,  ini maka perlu ditumbuhkan  industri sistem fotovoltaik dalam negeri yang berdaya saing tinggiuntuk dapat  mengganti produk impor dan meningkatkan pertumbuhan ekonomi dalam negeri. Inisiatif ini juga diharapkan dapat mendorong dan memobilisasi partisipasi masyarakat untuk ikut menggunakan energi ramah lingkungan untuk mengurangi ancaman perubahan iklim. Untuk mempercepat realisasinya, tentu harus ada insentif dari pemerintah terutama dalam masalah pembiayaan.

 Pembiayaan PLTS

Karena masalah utama dalam penggunaan listrik surya adalah biaya investasi awal pembelian modul, biaya operasi dan perawatannya tidak menjadi masalah. Saat ini biaya investasi untuk kapasitas 1 KW yang paling murah adalah sekitar Rp. 15 juta. Saat ini ASEI sedang menggodok mekanisme pendanaannya dan dtargetkan selesai pada bulan Desember.

Ada beberapa alternatif pembiayaan pembangunan PLTS  yang saat ini bisa dilakukan, diataranya yaitu:

  1. Kementerian ESDM telah membuat MoU dengan Real Estate Indonesia. Dalam hal ini REI akan menjual rumah yang dibundling dengan fotovoltaik ini yang akan mendapat kredit perbankan yang murah.
  2. Pembiayaan dari Green Climate Fund yang kompetitif.
  3. Pembiayaan pembangunan bidang energi juga sedang dipersiapkan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). OJK telah meluncurkan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) No. 51/POJK.03/2017 Tentang Penerapan Keuangan Berkelanjutan Bagi Lembaga Jasa Keuangan, Emiten, dan Perusahaan Publik. Ini artinya seluruh lembaga jasa keuangan tersebut harus menyalurkan pembiayaan pada program-program yang ramah lingkungan. Beberapa hal yang dibutuhkan untuk pengembangan Keuangan Berkelanjutan telah tercakup dalam rencana kerja strategis keuangan berkelanjutan meliputi tiga area:
    • Peningkatan supply pendanaan ramah lingkungan hidup.
    • Peningkatan demand bagi produk ramah lingkungan hidup.
    • Peningkatan pengawasan dan koordinasi implementasi keuangan berkelanjutan.
  4. Untuk masjid, maka tersedia alternatif pembiayaan oleh umat Islam adalah wakaf PLTS untuk masjid yang dapat dikumpulkan dan dikelola melalui Perbankan, Pasar Modal, maupun Urun Dana (Crowd funding).

    Oleh karenanya Gerakan Nasional Sejuta Surya Atap dan ecoMasjid adalah sejalan dan dapat saling mengisi sehingga secara bersama dapat melakukan sinergi program kerja dalam hal sosialisasi, promosi, instalasi, dan pembiayaan guna kepentingan masyarakat luas. Tindak lanjut dari pertemuan ini adalah pembuatan modul sosialisasi, membentuk tim untuk membuat pilot proeject bersama di 1 atau 2 masjid.

Oleh: Dr. Hayu S. Prabowo

 

Ketua Lembaga Pemuliaan Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam Majelis Ulama Indonesia