/MUI Hadiri Rakornas Sanitasi Total Berbasis Masyarakat 2017
STBM-mui-lplh

MUI Hadiri Rakornas Sanitasi Total Berbasis Masyarakat 2017

Ketua Lembaga PLH&SDA Majelis Ulama Indonesia hadir sebagai narasumber pada Rakornas Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) Ke 3 Tahun 2017 mengangkat tema Kolaborasi Aksi di Discovery Hotel & Convention Ancol, Jakarta, berlangsung pada tanggal 21-22 Maret 2017.

Ketua Lembaga PLH&SDA MUI, Dr.Ir.H. Hayu S Prabowo, M.Hum mengatakan bahwa ajaran Islam memberikan perhatian yang sangat besar terhadap air, dimana kita akan sering menjumpai pembahasan awal buku-buku fikih ulama terdahulu adalah mengenai air dan permasalahannya. Islam menempatkan air bukan sekadar sebagai minuman bersih dan sehat yang dibutuhkan untuk kehidupan semua makhluk, melainkan juga menjadikannya sebagai sarana penting yang sangat menentukan bagi kesempurnaan iman seseorang dan sah tidaknya sejumlah aktivitas ibadah.

Permasalahan tersebut tambah Hayu, telah menjadi perhatian para ulama, sehingga pada Munas MUI, ditetapkan fatwa tentang pendayagunaan dana Zakat, Infak, Sedekah, dan Wakaf (ZISWAF) untuk pembangunan sarana air bersih dan sanitasi. Dimana dengan penggunaan dana sosial keagamaan ini, diharapkan dapat membantu pemerintah dalam pemenuhan kebutuhan dana untuk pembangunan akses air bersih dan sanitasi bagi masyarakat, terutama masyarakat miskin. Fatwa ini kemudian dijabarkan dengan ditandatanganinya Nota Kesepahaman antara MUI, Bappenas, Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) dan Badan Wakaf Indonesia (BWI) tentang Sinergi Pendayagunaan Harta Wakaf, Zakat, Infak, Sedekah dan Dana Sosial Keagamaan Lainnya dengan Program Pemerintah dalam Penyediaan Layanan Air Minum dan Sanitasi untuk Masyarakat Miskin.

Berkaitan dengan penerapan fatwa MUI tersebut di level masyarakat, pelatihan dai khusus untuk air dan sanitas telah dilakukan dan  diluncurkan oleh Bupati Wonogiri di desa Sempon, Jatisrono, Wonogiri, Jawa Tengah. Pelatihan ini telah memberikan peningkatan kapasitas dan penyamaan persepsi bagi pemuka agama bahwa pembangunan sarana air bersih dan sanitasi dapat dioptimalkan dengan mendayagunakan dana ZISWAF sesuai ketentuan syariah. Sehingga para dai bukan hanya dapat menyebarkan pengetahuan mengenai sanitasi sesuai ajaran islam, tetapi juga dapat mengajak masyarakat secara aktif berpartisipasi dalam penyediaan sarana-sarana tersebut. Para dai ini disebut sebagai “Dai Sanitasi” ini diharapkan dapat memicu masyarakat di lingkungannya atas pentingnya akses air bersih dan sanitasi serta dapat melakukan pengadaannya secara mandiri melalui sumber pendanaan yang berasal dari dana ZISWAF ataupun sumber dana komersial, seperti koperasi syariah atau BMT (Baitul Mal Wa Tamwil).

Pembentukan dai sanitasi ini perlu mendapat dukungan promosi penggalangan dana ZISWAF yang sinergis atas usulan sarana-sarana yang diperlukan oleh masyarakat miskin didaerahnya. Oleh karena itu diperlukan suatu pengembangan produk promosi penggalangan dana ZISWAF baik dari sisi keagamaan maupun dari sisi kemanusiaan sehingga masyarakat bermotifasi untuk melakukan urun dana pada program sosial ini yang merupakan cerminan amal sholeh yang memberikan manfaat di dunia dan akhirat, ujar Hayu.