/MUI Hadirkan Fatwa Ziswaf untuk Pembangunan Sarana Air Bersih dan Sanitasi Bagi Masyarakat pada Workshop Mentoring Wirausaha Sanitasi di Bandung
workshop-mentoring-wusan-lplh-sda-mui

MUI Hadirkan Fatwa Ziswaf untuk Pembangunan Sarana Air Bersih dan Sanitasi Bagi Masyarakat pada Workshop Mentoring Wirausaha Sanitasi di Bandung

Air bersih dan sanitasi masih menjadi masalah besar bagi Indonesia. Setiap tahun, air limbah yang tidak diolah menghasilkan 6 juta ton kotoran manusia yang dibuang ke badan air, dan aktivitas buang air di tempat terbuka menjadi sebagai salah satu sumber utama pencemaran. Kondisi sanitasi buruk menimbulkan tingginya kasus penyakit yang ditularkan melalui kotoran, seperti tipus dan diare yang diderita 11 persen anak di Indonesia tiap dua minggu. Kedua penyakit tersebut terkait langsung dengan sekitar 40.000 kematian anak berumur di bawah lima tahun di Indonesia tiap tahunnya. Semakin banyaknya pencemaran dari kotoran manusia juga meningkatkan biaya produksi air minum, yang di beberapa lokasi bisa menimbulkan kenaikan hingga 25 persen.

Wirausaha sanitasi (wusan) adalah merupakan suatu terobosan inovatif bidang kesehatan menuju Indonesia Stop Buang air besar Sembarangan (SBS) Tahun 2019. Dalam kegiatan ini masyarakat desa dilatih untuk mampu menciptakan peluang usaha bidang sanitasi khususnya pembuatan jamban sehat. Sebelum menjadi seorang pengusaha sanitasi, mereka dibekali dengan kemampuan untuk melihat peluang pasar, cara berpromosi, mengembangkan produk dan layanan sanitasi sesuai yang di butuhkan pasar sanitasi pedesaan dan secara konsisten melakukan tertib administrasi pembukuan dan keuangan. Pelatihan wirausaha sanitasi dikembangkan secara maksimal untuk menjamin supply sanitasi dan memastikan pasar sanitasi pedesaan. Tantangan dalam kegiatan supply adalah tingkat keberhasilan wirausaha sanitasi paska pelatihan. Sebagian besar calon wirausaha yang sudah dilatih tidak berhasil dalam mengembangkan dan mengaktifkan kegiatan usaha sanitasi. Pengalaman di beberapa daerah khususnya Jawa Timur, untuk menciptakan wirausaha sanitasi yang sukses adalah adanya kegiatan mentoring secara langsung kepada calon wirausaha paska mengikuti kegiatan pelatihan. Kegiatan mentoring akan memudahkan calon wirausaha sanitasi menghadapi berbagai permasalahan dan tantangan dalam memulai usaha.

Tantangan lain yang dihadapi oleh calon Wirausaha Sanitasi paska pelatihan adalah ketersediaan modal usaha. Tidak jarang sebagian besar calon Wirausaha sanitasi tidak bisa berproduksi bahkan berhenti di awal karena permasalahan modal usaha. Untuk itu MUI hadir dengan melahirkan fatwa No. 001/MUNAS-IX/MUI/2015 Tentang Pendayagunaan Harta Zakat, Infaq, Sedekah & Wakaf Untuk Pembangunan Sarana Air Bersih dan Sanitasi Bagi Masyarakat. Fatwa ini lahir untuk meningkatkan peran masyarakat  dalam upaya pembangunan sarana air dan sanitasi secara mandiri berbasis STBM ( Sanitasi Total Berbasis Masyarakat ), sesuai strategi pemerintah bidang air dan sanitasi. Pengertian “Berbasis Masyarakat” dalam STBM adalah kondisi yang menempatkan masyarakat sebagai pengambil keputusan dan penanggungjawab dalam rangka menciptakan/meningkatkan kapasitas masyarakat untuk memecahkan berbagai persoalan terkait pendanaan untuk pembangunan sarana air dan sanitasi secara mandiri.