/Olah Sampah Jadi Berkah; Bio Daur Ulang Sampah Rumah Tangga
Sampah-organik-dapur-anda-dapat-menjadipakan-ayam

Olah Sampah Jadi Berkah; Bio Daur Ulang Sampah Rumah Tangga

Sampah masih menjadi masalah di kota-kota besar di Indonesia, seperti Jakarta yang masyarakatnya diperkirakan memproduksi sampah hingga 7.800 ton per hari atau sekitar 0,65 kg per orang per hari. Sumber sampah ini sebagian besar adalah sampah rumah tangga. Oleh karenanya pengolahan sampah di tingkat rumah tangga sebagai sumber sampah menjadi kunci utama. Apalagi mengingat pertambahan jumlah penduduk di perkotaan yang pesat serta gaya hidup yang konsumtif  berdampak terhadap peningkatan jumlah sampah yang di hasilkan. Peningkatan jumlah sampah yang tidak diikuti oleh perbaikan dan peningkatan sarana dan prasarana pengelolaan sampah mengakibatkan permasalahan sampah menjadi komplek, antara lain sampah tidak terangkut dan terjadi pembuangan sampah liar, sehingga dapat menimbulkan berbagai pencemaran, penyakit, bau tidak sedap, dan lain-lain.

Islam adalah agama yang sangat keras melarang perbuatan israf dan tabdzir yaitu menghambur-hamburkan harta atau menyia-nyiakan sesuatu yang bisa dimanfaatkan sehingga timbulan sampah berkurang. MUI telah menetapkan Fatwa Nomor  47 Tahun 2014 tentang Pengelolaan Sampah Untuk Mencegah Kerusakan Lingkungan

  1. Setiap muslim wajib menjaga kebersihan lingkungan, memanfaatkan barang-barang gunaan untuk kemaslahatan serta menghindarkan diri dari berbagai penyakit serta perbuatan tabdzir dan israf.
  2. Mendaur ulang sampah menjadi barang yang berguna bagi peningkatan kesejahteraan umat hukumnya wajib kifayah.

Oleh karenanya, seorang muslim haruslah dapat mengelola sampahnya. Mengolah sampah organik menjadi kompos merupakan salah satu alternatif yang bisa dilakukan yang bernilai ekonomis dan ibadah. Beberapa kelompok masyarakat sudah mulai melakukan pengomposan dengan menggunakan bakteri. Namun, pengomposan menggunakan bakteri memerlukan tenaga dan waktu yang lebih banyak karena harus diaduk secara berkala.

Selain menggunakan bakteri, pengomposan juga bisa menggunakan teknik bio daur ulang (bio recyclers) dengan menggunakan ayam dan cacing tanah seperti yang dilakukan Dr. Hayu Prabowo, Ketua Lembaga Pemuliaan Lingkungan Hidup dan Sumberdaya Alam-MUI.

Ayam Sebagai Bio Daur Ulang

Ada banyak alasan berternak ayam di rumah, selain sebagai binatang peliharaan juga dapat digunakan sebagai bio daur ulang sampah dapur dan sampah pekarangan. Menjadikan ayam sebagai mitra zero waste. Bagaimana caranya?

“Sampah organik dapur anda dapat menjadi “pakan ayam”. Sisa nasi, sisa lauk pauk, makanan basi, bisa menjadi didaur ulang atau dikompos dengan bantuan ayam. Namun agar ayam mendapatkan nutrisi yang lengkap, anda masih harus memberikan pakan tambahan secukupnya.” ujar Hayu.

Sampah-organik-dapur-anda-dapat-menjadipakan-ayam
Sampah organik dapur anda dapat menjadi pakan ayam

 

Meskipun ayam tidak memakan semua sampah dapur, seluruh sampah organik rumah tangga tetap bisa diolah menjadi kompos. Kotoran ayam memiliki komposisi nitrogen, fosfor, kalium (N-K) rasio sekitar 1,1:0,8:0,5.

Campur kotoran ayam “hijau” yang kaya nitrogen dengan sampah pekarangan “cokelat” yang kaya karbon untuk dijadikan kompos. Jadi selain sisa makanan, ayam juga dapat membantu mengubah sampah pekarangan menjadi kompos yang dapat memperbaiki struktur tanah.

Manfaatkan kembali sampah dapur dan sampah pekarangan menjadi black gold (emas hitam) yang berharga bagi anda dan lingkungan. Seekor ayam makan seberat badannya setiap bulan atau sekitar 3,5 kg pakan per bulan atau 42 kg  tahun. Tiap 100 rumah tangga memiliki  5 ayam (atau lebih), maka 21 ton biomassa sampah organik bisa diolah.

Pengomposan dengan Cacing (Vermicomposting)

Vermicomposting adalah proses pengomposan limbah organik menjadi kompos berkualitas tinggi dengan menggunakan cacing tanah. “Alam sudah memberikan contoh bagaimana cacing mengurai bahan organik. Mengapa kita tidak memanfaatkan cacing?” katanya. “Walau tidak memiliki nilai ekonomi yang tinggi kompos cacing sangat baik digunakan media tanam, khususnya model pertanian permakultur,” ujar Hayu.

Pengomposan-dengan-Cacing
Pengomposan dengan Cacing

“Cacing ini yang kita manfaatkan untuk mengolah sampah organik menjadi kompos, hingga mengurangi timbunan sampah rumah tangga,” jelasnya.

Apa yang pertama kali diperlukan untuk mulai mengolah sampah rumah tangga menjadi kompos? Hayu mengatakan yang pertama diperlukan adalah wadah sebagai tempat hidup cacing.

Bila wadah sudah tersedia, langkah selanjutnya adalah mencari bibit cacing dan media hidupnya. Cacing bisa dicari di tanah yang mengandung bahan-bahan organik. Media hidup cacing yang disarankan adalah pupuk kompos yang sudah jadi atau diperoleh di toko tanaman. Cacing bisa dibeli di tempat budidaya Cacing. Satu kilogram cacing dengan media hidupnya bisa dibeli dengan harga Rp. 70 ribu.

Setelah wadah, cacing dan media hidup tersedia yang dibutuhkan berikutnya adalah sampah organik. Untuk tingkat rumah tangga, semua sampah organik yang ada di rumah seperti sisa sayuran dan buah-buahan hingga makanan yang tidak termakan bisa dimanfaatkan.

Sampah-sampah organik itu dituang ke dalam wadah, k emudian tutup dengan media hidup cacing. Setelah itu, taburkan cacing di bagian paling atas. Satu kilogram cacing bisa digunakan untuk dua kotak kontainer ukuran sedang.

Cacing tidak bisa langsung mengurai sampah organik segar, sampah dapur dan pekarangan harus sudah membusuk dan bebas dari garam, minyak dan pedas. Sampah organik yang digunakan umumnya potongan sayuran, daun-daunan, potongan buah2an, dll.

Pengumpulan-sampah-konvensional-vs-Bio-daur-ulang-ayam-cacing-dan-kompos
Pengumpulan sampah konvensional vs Bio daur ulang ayam cacing dan kompos

Setelah cacing bekerja mengolah sampah organik, sampah dan media hidupnya tidak perlu diaduk-aduk seperti halnya pengomposan menggunakan bakteri. Cukup dijaga kelembaban dan periksa apakah sampah organik yang merupakan bahan makanan cacing sudah berubah menjadi pupuk kascing (bekas cacing). Masa Panen pupuk kascing bisa dipanen setelah seluruh sampah organik terurai, kir-kira 2-3 minggu. Namun, sebaiknya tidak seluruh pupuk kascing dipanen karena cacing masih memerlukan media untuk hidup. Bila seluruh sampah sudah terurai, maka kascing diambil dan tambahkan lagi sampah organik baru. Kedalaman pupuk kascing di dalam wadah perlu dijaga tidak lebih dari 25 centimeter.

Selain memeriksa apakah masih ada sampah organik, jumlah cacing di dalam wadah juga perlu diperiksa agar populasinya tidak terlalu padat. Bila jumlah cacing dalam satu wadah sudah cukup banyak, sebaiknya mulai disiapkan wadah lainnya.

“Pupuk kascing ini merupakan pupuk yang sangat bagus, sehingga sebaiknya pemeliharaan bio daur ulang di skala rumah tangga dipadukan dengan urban farming atau kebun perkotaan di pekarangan rumah”.