/Pendekatan Moral Keagamaan Dalam Pengendalian Pembakaran Hutan & Lahan

Pendekatan Moral Keagamaan Dalam Pengendalian Pembakaran Hutan & Lahan

PENDEKATAN MORAL KEAGAMAAN DALAM
PENGENDALIAN PEMBAKARAN HUTAN DAN LAHAN
Dr. Ir. Hayu Prabowo

Dahulu Indonesia sering disebut sebagai paru-paru dunia karena memiliki area hutan yang sangat luas. Hutan dianggap memiliki peran sentral sebagai penghasil oksigen bagi umat manusia. Sayangnya, kasus kebakaran hutan yang melanda Indonesia membuat area hutan di Indonesia makin menyempit. Luas hutan yang terbakar pada tahun 2015 mencapai 2,7 juta ha dengan total kerugian ekonomi mencapai 16,2 Milyar USD atau sebesar 242 Trilyun Rupiah atau dua kali lipat dana rehabilitasi Tsunami Aceh.  Kerugian ini terutama dari nilai ekonomi yang terkena dampak termasuk kegiatan penerbangan, kegiatan perekonomian yang terhenti akibat kebakaran serta kerugian hasil panen. Dampak dari kesehatan serta nilai total hutan belum dihitung secara total termasuk jasa lingkungan hutan karena rusaknya ekosistem dan  keanekaragaman yang merupakan kerugian yang sangat besar masa sekarang dengan masa mendatang. Jumlah yang sangat fantastis jika dibandingkan dengan kerugian-kerugian dalam kasus manapun.

  • Kebakaran hutan yang melanda sebagian wilayah Indonesia tersebut merupakan ulah beberapa oknum yang memang disengaja untuk mencari keuntungan. Dimana daerah kebakaran di Sumatra yang terbesar adalah Kawasan Hutan Produksi 51% dan perkebunan 30%. Jadi sekitar 80% kebakaran terjadi di konsesi. Dan bila ini bisa ditangani maka masalah kebakaran bisa diatasi.
  • Tahun 2015, jumlah korban rakyat Indonesia yang terpapar asap mencapai 40 juta orang dan 500 ribu di antaranya terserang Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) dan dampak kabut asap ini juga mencapai negara tetangga seperti Malaysia, Singapura, dan Thailand.
  • Menurut Global Fire Emissions Database (GFED) emisi CO2 Indonesia meningkat menjadi satu milliar ton, melebihi emisi tahunan negara Jerman. Pada saat kebakaran hutan, Indonesia mengeluarkan emisi karbon dan mencemari atmosfer rata rata 15-20 juta ton karbon per hari atau melebihi emisi 14 juta ton emisi harian AS untuk dalam mendukung pabrik dan mobil-mobilnya untuk menjalankan perekonomian.
  • Bencana kebakaran hutan telah dianggap masyarakat di berbagai daerah sebagai agenda tahunan. Bencana kebakaran ini sering terjadi saat musim kemarau panjang di berbagai wilayah seperti Pulau Sumatera dan Kalimantan.Berdasarkan pengamatan Kementrian LHK, 99% kebakaran hutan dan lahan di Indonesia Kebakaran hutan dan lahan dapat dipastikan terjadi karena adanya campur tangan manusia dengan cara membakar hutan dan lahan untuk dimanfaatkan. Jadi sejatinya, masalah kebakaran hutan dan lahan adalah krisis moral, karena manusia memandang alam sebagai obyek bukan subyek dalam kehidupan semesta. Maka, penanggulangan terhadap masalah yang ada haruslah dengan pendekatan moral. Pada titik inilah agama harus tampil berperan dengan penyadaran manusia agar menahan diri melakukan pembakaran. Dari tahun ke tahun, pemerintah telah mencangkan cegah kebakaran hutan namun setiap tahun kebakaran hutan juga tetap terjadi. Oleh karenanya perlu dilakukan revolusi mental melalui jalur agama dengan memberikan tuntunan agama serta penetapan hukum syariah berupa fatwa agar kebakaran hutan dan lahan dapat dicegah melalui peningkatan kepedulian dan perubahan perilaku bagi masyarakat Indonesia yang mayoritas muslim.
  • Kejadian kebakaran hutan dapat dipastikan karena campur tangan manusia melalui kegiatan pemanfaatan hutan dan lahan dengan membakar. Kebakaran semakin menjadi-jadi terutama pada lahan gambut yang telah kering (drainage) terutama di Sumatra dan Kalimantan. Propinsi Sumatra Selatan, Riau, Jambi, Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat menjadi propinsi dengan tingkat intensitas kebakaran yang sangat tinggi dari tahun ke tahun. Kegiatan pembakaran oleh manusia ini harus dapat dihentikan demi masa depan hutan lahan sebagai sumber pakan, pangan dan sandang di Indonesia.

Kebakaran hutan dan lahan dapat dan harus dicegah melalui perubahan perilaku dan peningkatan kepedulian. Pesan sosial tentang lingkungan saat ini hanya mengandalkan Iptek. Untuk itu diperlukan suatu bentuk pesan sosial lainnya berupa hukum normatif keagamaan (imtaq). Pendekatan dengan bahasa agama dapat melengkapi pesan rasionalis sehingga pesan lebih persuasif dan memotivasi masyarakat untuk menjalani kehidupan lebih baik di dunia dan akhirat nanti. Program perlindungan ekosistem melalui pelestarian satwa langka dalam kearifan islam merupakan paduan pendekatan rasionalitas dan keagamaan.

Pipit yang Memadamkan Api Ketika Nabi Ibrahim Dibakar

Saat Nabi Ibrahim as dibakar oleh Raja Namrudz dan kaumnya, ada seekor burung pipit yang menyaksikan peristiwa tersebut. Ia kemudian terbang bolak-balik mencari air. Burung pipit itu mengisi air di dalam paruhnya kemudian dilepaskannya ke atas unggun api yang membakar Nabi Ibrahim. Itulah yang dilakukannya berulang kali hingga Nabi Ibrahim as diselamatkan oleh-Nya.

Perbuatan burung pipit itu diperhatikan oleh makhluk Allah yang lain, lantas bertanyalah mereka kepada burung kecil itu, “Mengapa kamu bersusah-payah bolak-balik mengambil air, sedangkan kamu tahu api besar yang membakar Nabi Ibrahim takkan hilang dengan sedikit air yang kamu siramkan itu?“

Lalu dijawab oleh burung kecil, “Walaupun aku tahu aku tidak akan mampu memadamkan api tersebut, namun aku mesti berusaha untuk menegakkan kebenaran dengan segenap kemampuan yang kumiliki. Allah tidak akan bertanya kepadaku apakah aku berhasil memadamkan api itu atau tidak. Tapi aku lebih takut Allah akan menanyakan apa yang aku lakukan saat melihat kezaliman di depan mataku. Aku tidak tinggal diam, aku telah melakukan sesuatu.”

Jangan berdiam diri, ambil bagian dalam perjuangan ini. Besar atau kecil tak jadi soal sebab Allah yang menilai dan memandang.

Agama ini dibawa dan didukung oleh manusia-manusia yang mengambil peran, manusia-manusia yang bekerja dan tak tinggal diam, manusia-manusia yang maju dan bergerak dengan segala dan berbagai kemampuan. Dengan tenaganya, dengan pikirannya, dengan hartanya, dengan kemampuannya, dengan doanya, dengan waktunya. Sekarang kita yang mengambil peran. Jangan tinggal diam!. Allahu Akbar!.

Ketua Lembaga Pemuliaan Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam Majelis Ulama Indonesia