/PENELITI LIPI: WASPADAI PENURUNAN PERMUKAAN TANAH JAKARTA

PENELITI LIPI: WASPADAI PENURUNAN PERMUKAAN TANAH JAKARTA

Peneliti Pusat Penelitian Geoteknologi LIPI, Robert M Delinom, mengingatkan tentang runtuhnya Jembatan Sarinah sepanjang 40 meter pada 1981 mengindikasikan bahwa aspek lingkungan bawah permukaan Jakarta harus menjadi pertimbangan dalam penataan wilayah. Hal ini menunjukan penurunan permukaan tanah yang terus bertambah setiap tahunnya.

Robert juga menambahkan, peristiwa instrusi air laut ke dalam air tanah dan sumur penduduk di kawasan Jakarta Utara juga menjadi alasan mengapa aspek lingkungan harus diperhitungkan dalam menata Jakarta.

“Penelitian yang sudah dilakukan menunjukan bahwa pengaruh penurunan muka air tanah, pengaruh beban bangunan dan sedimen muda di Jakarta Utara memicu keamblasan tanah,” ungkap Robert.

Hal demikian diungkapkan oleh Robert saat peluncuran  buku Ancaman Bawah Permukaan Jakarta Tak Terlihat, Tak Terpikirkan, dan Tak Terduga pada akhir Agustus 2016 lalu. Sedangkan Robert M Delinom, Peneliti Pusat Penelitian Geoteknologi LIPI dan juga salah satu penulis buku itu.

Menurut Robert, selain menyebabkan kerusakan gedung, keamblasan tanah juga memperlebar daerah genangan banjir dan rob yang pada akhirnya memengaruhi kualitas air tanah dangkal pada beberapa tempat di Jakarta Utara.

Robert menambahkan, selama ini, penelitian yang ada masih sedikit mengulas mengenai kondisi air bawah permukaan Jakarta secara terintegrasi dan multiperspektif. Tak hanya itu, perubahan iklim global, pembangunan industri, dan pertambahan penduduk dapat berdampak pada kondisi bagian bawah permukaan Jakarta.

Melalui buku yang diterbitkan oleh LIPI ini, penulis juga meneliti tentang fungsi sistem aliran air tanah hingga alirannya ke daerah pantai sekaligus keberadaan kontaminasi temperatur bawah permukaan Jakarta.

Kepala UPT Balai Media dan Reproduksi/LIPI Press LIPI, Rahmi Lestari Helmi menjelaskan, buku ini terpilih menjadi salah satu terbitan LIPI yang terbaik pada 2016. Hal yang ingin diungkap dalam buku itu adalah gambaran situasi bawah permukaan Jakarta serta akumulasi dampak dari aktivitas manusia terhadap lingkungannya saat ini.

“Buku ini terbit dalam bunga rampai dan menjadi sumber referensi tepat untuk memahami perkembangan dan permasalahan lingkungan bawah permukaan di Jakarta,” kata Rahmi.

Sumber: geotek.lipi.go.id/