/PENGEMBANGAN DAN PEMBIAYAAN SYARIAH ENERGI BARU DAN TERBARUKAN UNTUK RUMAH IBADAH

PENGEMBANGAN DAN PEMBIAYAAN SYARIAH ENERGI BARU DAN TERBARUKAN UNTUK RUMAH IBADAH

Jakarta, 25 Agustus 2017. Lembaga Pemuliaan Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam, Majelis Ulama Indonesia bersama Global Muslim Climate Network dan Green Faith mengadakan FGD Energi Baru dan Terbarukan Bagi Rumah Ibadah. FGD ini sebagai upaya sosialisasi dan pengembangan program masjid ramah lingkungan (ecoMasjid) yang telah diluncurkan Majelis Ulama Indonesia dan Dewan Masjid Indonesia pada 19 Februari 2016 di Masjid Azzikra Sentul. Sejak peluncuran ecoMasjid tersebut telah dikembangkan program akses air dan sanitasi yang terkait erat dengan Thaharah (bersuci) sebagai syarat sahnya ibadah. Saat ini program ecoMasjid mulai dikembangkan ke bidang energi yang berkelanjutan melalui pengembangan  energi baru dan terbarukan (EBT).

Krisis lingkungan hidup dengan berbagai manifestasinya sejatinya adalah krisis moral, karena manusia memandang alam sebagai obyek bukan subyek dalam kehidupan semesta. Maka, penanggulangan terhadap masalah ini haruslah dengan pendekatan moral. Pada titik inilah agama harus tampil berperan. Selaras dengan pandangan ini, pada Agustus 2015 para pemimpin Muslim dari sekitar 20 negara—termasuk Ketua MUI, Prof. Din Syamsuddin—mengeluarkan ‘Deklarasi Islam tentang Perubahan Iklim” yang menyepakati tentang perlunya perhatian dan kepedulian bersama menghadapi masalah perubahan iklim.

Peran masjid sebagai rumah ibadah sangat penting dalam mendorong dan membentuk umat serta meningkatkan peran masyarakat dalam perlindungan lingkungan hidup yang tercermin dalam tindakan dan perilaku kehidupan umat muslim sehari-hari dalam melaksanakan ibadah dan muamalahnya. Dalam konteks EBT, Rasulullah SAW bersabda bahwa “manusia berserikat dalam tiga hal yaitu air, padang rumput gembalaan dan api”. Dalam konteks kekinian hadits tersebut menuntun kita agar secara bersama-sama menjaga air, makanan & energi. Konteks tersebut sangat selaras dengan konsep kekinian pembangunan berkelanjutan (sustainable development) guna menghadapi peningkatan populasi dunia, urbanisasi, serta perubahan pola makan dan pertumbuhan ekonomi.

Beberapa negara Muslim sedang giatnya membangun energi surya untuk rumah ibadahnya. Pemerintah Maroko pada tahun 2016 telah meluncurkan program Green Mosque (masjid Hijau) melalui pemasangan panel surya untuk 15.000 masjid pada tahun 2019. Program ini termasuk pendidikan terhadap para ulama dan dai tentang pengetahuan tentang khutbah berbasis lingkungan hidup. Nana Firman dari Global Muslim Cilmate Network, USA, menyatakan bahwa saat ini sedang dipersiapkan suatu program Global Multi-faith Campaign on Fossil Fuel Divestment and Clean Energy Investment. Program lintas agama ini, bertujuan diantaranya untuk (i) kampanye dana keagamaan untuk menarik investasinya dari industri penghasil bahan bakar fosil, dan menginvestasikan kepada energi bersih dan (ii) mengentaskan kemiskinan energi sekitar 1 milyar masyarakat dunia, termasuk Indonesia. Energi sangat diperlukan untuk meningkatkan kualitas kehidupan dan ekonomi masyarakat miskin yang umumnya hidup di daerah terpencil. Oleh karenanya Indonesia, sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar didunia, perlu berperan dalam penyediaan energi ramah lingkungan melalui pembiayaan syariah.

Konsumsi energi untuk bangunan mencapai 50% (listrik> 70%) dari total konsumsi energi nasional; kontribusi emisi gas rumah kaca mencapai 30%. Indonesia memiliki potensi untuk menurunkan jumlah emisi ini melalui pemanfaatan potensi EBT yang melimpah. Abdul Kholiq dari BPPT menyoroti teknologi biogas merupakan salah satu EBT melalui pemanfaatan sampah organik yang melimpah di Indonesia. Seperti halnya LPG, biogas dapat digunakan sebagai bahan bakar untuk memasak atau untuk menggerakan mesin / pembangkit listrik.

Diperkirakan bahwa setelah tahun 2050 energi tenaga surya akan mendominasi penyediaan energi dunia. Oleh karenanya energi surya mendapat perhatian dunia untuk pemngembangan EBT. Nur Pamudji, mantan Direktur Utama PLN yang saat ini aktif di Perkumpulan Pengguna Listrik Surya Atap (PPLSA) dan Asosiasi Energi Surya Indonesia (AESI) menjelaskan tentang Listrik Surya Atap tanpa batere / accu untuk perumahan (“On-grid rootop Solar PV with Net Metering”). Cara ini memungkinkan terjadinya penurunan tagihan listrik PLN, yaitu dengan cara kelebihan daya listrik dari panel surya di masukan ke jaringan PLN ketika siang hari dan mengambil daya listrik dari jaringan PLN ketika panel surya tidak berproduksi pada malam atau ketika mendung. Dalam hal ini jaringan PLN bertindak seperti “power bank”, dimana tagihan listrik yang dibayar adalah selisih dari penggunaan listrik dari PLN dikurangi dengan listrik yang dialirkan ke jaringan PLN dari panel surya. Besarnya penghematan tagihan listrik tergantung dari besarnya kapasitas panel surya yang sebanding dengan besarnya biaya investasi. Saat ini  pengembalian investasi panel surya diperkirakan kembali 15 hingga 18 tahun. Karena lamanya masa pengembalian investasi tersebut, belum ada bank yang bersedia membiayai proyek ini. Namun pertimbangan pembangunan surya panel, tidak hanya dari pertimbangan ekonomis saja, tapi juga dapat melalui pertimbangan sosial. Misal: Masjid Salman ITB telah memasang sebesar 5,000 watt panel surya, Body Shop dan Loreal membeli daya listrik ramah lingkungan dengan harga mahal karena untuk memenuhi ketentuan green energy di negara asalnya di Eropa. Masih banyak lagi perusahaan-perusahaan asing yang bersedia memberikan harga listrik premium untuk green energy ini.

Industri manufaktur dan keuangan dunia telah menyadari pentingnya keselarasan antara kegiatan ekonomi dan lingkungan hidup. Otoritas Jasa Keuangan Indonesia telah menerbitkan Roadmap Keuangan Berkelanjutan 2015-2019 dan pada Juli 2017 telah ditetapkan peraturan OJK tentang Penerapan Keuangan Berkelanjutan Bagi lembaga Jasa Keuangan, Emiten, dan Perusahaan Publik. Melalui peraturan ini seluruh entitas dibawah pengawasan OJK berkewajiban mengalokasikan dana sosialnya untuk pengembangan berkelanjutan, seperti hal nya perusahaan-perusahaan Eropa.

Kerusakan lingkungan hidup adalah karena konsep ekonomi kapilatistik yang ribawi dengan konsep “time value of money”, yaitu uang diterima saat ini lebih berharga daripada uang yang diterima masa datang. Konsep ini mengakibatkan kegiatan ekonomi yang ekstraktif, dimana seluruh sumberdaya alam harus secepatnya dieksploitasi untuk mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya secepatnya. Hal ini tentu menimbulkan kerusakan lingkungan yang hebat karena alam memiliki daya dukung dan daya tampung tertentu. Di lain pihak produktivitas dan kesinambungan ekonomi sangat bergantung pada kesinambungan interaksi timbal balik antara manusia dan jasa ekosistem yang seimbang. Oleh karena itu konsep keuangan berkelanjutan yang diterapkan OJK sangatlah tepat, karena inti dari ekonomi adalah untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia yang tergantung dari terjaganya fungsi jasa ekosistem yang seimbang. Allah telah memerintahkan kita untuk menjaga bumi dalam mencari rejeki kita, seperti firman Nya dalam Surat Al Baqarah:60 “Makan dan minumlah rezki (yang diberikan) Allah, dan janganlah kamu berkeliaran di muka bumi dengan berbuat kerusakan”.

Saat ini dunia sangat tergantung dari energi fosil yang tidak ramah lingkungan. Tantangan dari pengembangan EBT adalah mengganti penggunaan energi fosil secara ekonomis. Dalam hal ini, EBT harus dapat bersaing dengan energi fosil untuk mendapatkan pembiayaan pengembangannya. Meskipun ada aspek lainnya yang menjadi pertimbangan investasi EBT karena penerapan pada suatu daerah tiap sumber energi memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing.

Umumnya EBT dapat dikembangkan dengan skala kecil sehingga memungkin individu atau sekelompok orang melakukannya. Dalam era ekonomi digital saat ini, sangat memungkinkan untuk meningkatkan daya saing melalui pemangkasan biaya sekaligus meningkatkan keuntungan dengan melakukan aktivitas ekonomi digital. Ekonomi digital merupakan transaksi dan pasar di internet melalui skema transkasi jul-beli, pemasaran, dan pembiayaan tertentu, diantaranya Finance Technology (Fintech), eCommerce, Sharing Economy, bitcoin, dan crowd funding (urun dana).

Dalam konteks pembiayaan EBT yang bersifat sosial keagamaan, Islam mengajarkan ta’awun, yaitu tolong-menolong, gotong-royong, bantu-membantu dengan sesama manusia, seperti perintah Allah pada Surat Al Maidah ayat 2. Dalam hal ini, keuntungan yang diperoleh adalah shadaqah jariah yang pahalanya akan mengalir terus. Program ini dapat dilakukan melalui urun dana (crowd funding) untuk memobilisasi potensi wakaf Indonesia sebesar Rp. 60 Triliun untuk program-program sosial sekaligus pemberdayaan masyarakat, khususnya dalam aspek perlindungan lingkungan hidup. Sebagai contoh wakaf EBT adalah wakaf pemasangan solar panel di masjid Salman ITB dan wakaf reaktor biogas telah dilakukan untuk pondok pesantren dan masjid Azzikra di Sentul, Bogor. Pembangunan fasilitas biogas ini tidak hanya untuk energi, namun juga untuk pengolahan limbah cair dari masjid yang sebelumnya di alirkan ke sungai Cikeas yang tentunya ini dilarang syariat Islam karena menimbulkan kemudharatan. Saat ini beberapa skema pembiayaan urun dana melalui wakaf sedang gencar dikembangkan oleh industri perbankan syariah dan MUI.

Penulis: Dr. Hayu Prabowo (Ketua Lembaga PLH&SDA Majelis Ulama Indonesia)