/Peningkatan Kualitas Sarana Dan Prasarana Ibadah Melalui Program Masjid Ramah Lingkungan (EcoMasjid)

Peningkatan Kualitas Sarana Dan Prasarana Ibadah Melalui Program Masjid Ramah Lingkungan (EcoMasjid)

Pada 19 Februari 2016, Majelis Ulama Indonesia dan Dewan Masjid Indonesia telah memprakarsai program ecoMasjid yang diluncurkan di Masjid dan pondok pesantren Azzikra Sentul, Bogor yang dibina oleh KH. M. Arifin Ilham. Beberapa tindak lanjut telah dilakukan terutama dalam hal mendukung fungsi utama masjid sebagai tempat Ibadah, khususnya dalam peningkatan akses air dan sanitasi sebagai sarana bersuci (thaharah) untuk sahnya ibadah serta merupakan kebutuhan masyarakat paling mendasar yang saat ini dirasakan keadaannya semakin kritis.

Untuk mendukung akses air dan sanitasi ini Majelis Ulama Indonesia (MUI) melalui Musyawarah Nasional MUI di Surabaya tahun 2015 telah membahas dan menetapkan Fatwa MUI no. 001/MUNAS-IX/MUI/2015 Tentang Pendayagunaan Harta Zakat, Infaq, Sedekah & Wakaf Untuk Pembangunan Sarana Air Bersih dan Sanitasi Bagi Masyarakat. Diharapkan dana sosial keagamaan ini dapat membantu umat dalam pemenuhan kebutuhan dana untuk pembangunan akses air bersih dan sanitasi bagi masyarakat, terutama masyarakat miskin.

 

I. PENDAHULUAN

Setiap aspek kehidupan dan ibadah manusia dan seluruh makhluk hidup di bumi tidak terlepas dari jasa ekosistem. Ekosistem berjasa menjalankan proses alami fisika, kimia dan biologi untuk menyediakan barang dan jasa yang diperlukan seluruh makhluk hidup. Proses ekosistem ini dikendalikan oleh keanekaragaman hayati dalam suatu sistem dan keberlangsungannya dilakukan oleh dan untuk seluruh makhluk hidup itu sendiri dalam sistem tersebut. Sebagai makhluk paling sempurna, manusia berperan paling penting dalam menjaga keberlangsungan proses ekosistem ini.

Krisis lingkungan hidup dengan berbagai manifestasinya, sejatinya adalah krisis moral, karena manusia memandang alam sebagai obyek bukan subyek dalam kehidupan semesta. Maka penanggulangan terhadap masalah yang ada haruslah dengan pendekatan moral. Pada titik inilah agama harus tampil berperan melalui bentuk tuntunan keagamaan serta direalisasikan dalam bentuk nyata dalam kehidupan sehari-hari umat manusia. Keberhasilan menciptakan kehidupan yang ramah lingkungan merupakan penjelmaan dari hati bersih dan pikiran jernih umat beragama dan merupakan titik-tolak upaya menciptakan negeri yang asri, nyaman, aman sentosa: baldatun thoyyibatun wa Robbun Ghafur.”

Jika kita masih berkeinginan untuk menjaga dan menyelamatkan kelangsungan hidup bumi ini termasuk manusia sendiri, maka perlu ada upaya sistematis untuk membangun kesadaran baru tentang lingkungan hidup, mengubah kerangka pandangan yang akan berimplikasi terhadap perlakuan kita kepada alam. Alam adalah bagian dari kehidupan dan alam itu sendiri hidup. Alam bersama isinya semuanya senantiasa bertasbih kepada Allah dengan caranya sendiri-sendiri. Semua makhluk mempunyai fungsi untuk menjaga keseimbangan alam. Kerangka pandang ini menempatkan manusia sebagai bagian dari alam, sebagal salah satu unsur yang menjaga keseimbangan alam. Itulah khalifah yang dimaksudkan dalam Al-qur’an.

Manusia sebagai khalifah di bumi memiliki amanah dan tanggung jawab untuk memakmurkan bumi seisinya. Islam merupakan rahmat bagi seluruh alam (rahmatan lil‘alamin). Islam yang kehadirannya ditengah kehidupan masyarakat harus mampu memberikan rahmat di dunia maupun di akhirat melalui kedamaian dan kasih sayang bagi bumi beserta seluruh makhluk hidupnya. Namun umat muslim sebagai potensi terbesar bangsa yang seharusnya menjadi subyek sekaligus obyek gerakan perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup dan sumber daya alam itu sendiri, justru masih kurang sadar akan hak serta kewajiban dalam hal pelestarian lingkungan hidup dan pengelolaan sumber daya alam.

Pandangan dari mayoritas pakar lingkungan hidup bahwa tindakan praktis dan teknis perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup dan sumber daya alam dengan bantuan sains dan teknologi ternyata bukan solusi yang tepat, yang dibutuhkan adalah perubahan perilaku dan gaya hidup yang beretika. Maka masjid perlu berperan aktif untuk meningkatkan kesadaran umat muslim sebagai potensi terbesar bangsa dalam perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup guna kelangsungan kehidupan seluruh makhluk di bumi. Sesuai dengan fungsi keberadaannya, masjid perlu turut melestarikan lingkungan melalui dakwah secara lisan maupun melakukan aksi nyata berdasarkan semangat keislaman:

Orang Mukmin itu bagaikan lebah, jika ia makan sesuatu ia makan yang baik, jika ia mengeluarkan sesuatu ia keluarkan yang baik. Dan jika ia hinggap di ranting yang sudah lapukpun, ranting itu tidak dirusaknya.” (HR. Tirmidzi)

II. PENGERTIAN

Konsep ecoMasjid berasal dari dua kala Eco (eco) dan Masjid yang masing-masing mempunyai definisi berbeda. “Eco” diambil dari kala (ecology) yang merupakan terminologi yang erat kaitannya dengan lingkungan hidup. Sedangkan Masjid adalah tempat bersujud. Istilah masjid menurut syara adalah tempat yang disediakan untuk shalat di dalamnya dan sifatnya tetap, bukan untuk sementara. Sehingga ecoMasjid adalah tempat beribadah tetap yang mempunyai kepedulian terhadap lingkungan hidup. Oleh karenanya ecoMasjid yang ideal diharapkan:

  1. Meningkatkan kesadaran bahwa ajaran Islam menjadi pedoman yang sangat penting dalam berperilaku yang ramah lingkungan.
  2. Meningkatkan nilai ibadah muamalah melalui penerapan ajaran Islam dalam kegiatan sehari-hari, khususnya dengan ecology sebagai amalan hablum minal alam.
  3. Mensosialisasikan materi dan tindakan praktis lingkungan hidup dalam aktifitas Masjid (pengajian, majelis ta’lim, khutbah Jum’at, dll).
  4. Mewujudkan masjid yang suci dengan kawasan lingkungan yang baik, bersih dan sehat.
  5. Memberdayakan komunitas masjid untuk meningkatkan kualitas lingkungan yang lslami.
  6. Meningkatkan aktifitas yang mempunyai nilai tambah baik secara ekonomi, sosial dan ekologi.
  7. Menjadikan masjid sebagai pusat pembelajaran (center of excellence) yang berwawasan lingkungan. Bagi komunitas masjid dan masyarakat sekitar.

 

III. FUNGSI MASJID

Dalam sejarah, masjid adalah sebuah tempat yang dibangun Rasulullah SAW sebagai sarana penunjang dakwahnya. Pada saat itu masjid sebagai pusat atau sentral dalam segala aspek dan fungsi kehidupan masyarakat di sekitarnya. Masjid memiliki fungsi dan peran yang dominan dalam kehidupan umat Islam terutama dalam:

  1. Ubudiyah (Ibadah). Yaitu, tempat orang bersujud, mendekatkan diri, dan penghambaan kepada Allah SWT. Sesuai dengan namanya Masjid adalah tempat sujud, maka fungsi utamanya adalah sebagai tempat ibadah shalat.

 

  1. Tarbiyyah (Pendidikan/Pembinaan). Yakni, Masjid berfungsi sebagai tempat untuk belajar mengajar, khususnya ilmu agama yang merupakan fardlu ‘ain bagi umat Islam. Disamping itu juga ilmu-ilmu lain, baik ilmu alam, sosial, humaniora, keterampilan, termasuk keilmuan tentang pengelolaan lingkungan hidup dan sumber daya alam.

Penyampaian materi lingkungan hidup kepada jamaah dan anak didik dapat dilakukan melalui kurikulum secara terintegrasi dan terpadu. Model pembelajaran dan metode belajar yang bervariasi dilakukan untuk memberikan pemahaman tentang lingkungan hidup yang dikaitkan dengan rutinitas kehidupan sehari-hari. Pengembangan kurikulum berbasis lingkungan hidup dapat dicapai dengan hal-hal sebagai berikut :

  • Pengembangan model pembelajaran yang terintegrasi.
  • Penggalian dan pengembangan materi tentang lingkungan hidup yang ada di masyarakat.
  • Pengembangan metode belajar berbasis lingkungan lslami.
  • Pengembangan kegiatan kurikuler untuk peningkatan pengetahuan dan kesadaran jamaah tentang lingkungan hidup.
  • Pengalaman ajaran Islam tentang lingkungan dalam kegiatan ecoMasjid.

 

  1. Ijtimaiyyah (Kemasyarakatan). Yaitu, sebagai pusat penanganan segala masalah sosial, ekonomi, politik, hukum, pertahanan dan keamaan yang terjadi dalam masyarakat, dalam hal ini tentu termasuk masalah lingkungan hidup dan sumberdaya alam, karena umat Islam berserikat dalam 3 hal, yaitu air, api dan padang rumput.

Untuk mewujudkan masjid yang ramah lingkungan, jamaah dan masyarakat perlu dilibatkan dalam berbagai aktivitas pembelajaran lingkungan hidup yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat. Kegiatan-kegiatan ini antara lain :

  • Mengadakan kegiatan tadabbur alam.
  • Berperan aktif dalam kegiatan aksi lingkungan hidup yang dilakukan oleh berbagai pihak.
  • Membangun jejaring dan kemitraan dengan lembaga terkait.
  • Memprakarsai pengembangan pendidikan lingkungan hidup di masjid yang kemudian dikembangkan untuk masyarakat sekitar.

 

IV. PENGELOLAAN MASJID

Guna mendukung ketiga fungsi Masjid tersebut diatas, perlu dilakukan pembangunan kapasitas (capacity building) dan penguatan kelembagaan (institutional strengthening) masjid guna mendorong dan membentuk masjid yang peduli dan berbudaya lingkungan. Tiga pemeran utama yang saling terkait untuk merealisasikan ketiga fungsi tersebut, adalah Pengurus Masjid, Jamaah Masjid dan Bangunan Masjid, sebagai berikut:

 

  1. Pengurus Masjid

Fungsi Pengurus masjid adalah sebagai penggerak aktivitas dan jamaah untuk memakmurkan Masjid. Bagaimana masjid dikelola sedemikan rupa sehingga dapat menjalankan fungsinya untuk ubudiyyah, tarbiyyah dan ijtimaiyyah. Untuk mewujudkan Masjid ramah lingkungan, maka diperlukan beberapa kebijakan yang mendukung dilaksanakannya kegiatan-kegiatan perlindungan lingkungan hidup yang partisipatif dan berkelanjutan. Pengembangan kebijakan yang diperlukan untuk mewujudkan hal tersebut adalah:

  • Visi dan misi Masjid yang ramah lingkungan.
  • Kebijakan Masjid dalam mengembangkan pembelajaran lingkungan hidup.
  • Kebijakan peningkatan kapasitas sumber daya manusia (SDM) Masjid di bidang lingkungan hidup. SDM Masjid ini termasuk Imam, Muadzin, khatib, Mualim, Ustadz, Teknisi, Kebersihan, Administrator, Bendahara, dll.
  • Kebijakan Masjid dalam upaya penghematan sumber daya alam.
  • Kebijakan Masjid yang mendukung terwujudnya pondok pesantren yang bersih dan sehat.
  • Kebijakan Masjid dalam pengalokasian dan penggunaan dana bagi kegiatan yang terkait dengan lingkungan hidup.

 

  1. Jamaah Masjid

Jamaah adalah sebagai pengguna Masjid, oleh karenanya ketika fungsi masjid hendak diwujudkan sebagaimana mestinya, tidak mungkin oleh pengurusnya saja. Karena itu, menjadi penting bagi pengurus masjid melibatkan semua komponen jamaah sesuai dengan kemampuannya masing-masing. Pelibatan jamaah membuat tumbuh pada jiwanya rasa memiliki terhadap masjid sehingga mau turut bertanggungjawab bagi pemakmuran masjid. Bahkan bila ada permasalahan masjid dan jamaahnya, mereka siap menjadi bagian dari solusi mengatasi permasalahan.

Dalam konteks dakwah dan perjuangan, Rasulullah SAW tidak berjuang sendirian, tapi melibatkan begitu banyak orang dari berbagai kalangan. Fakta menunjukkan bahwa hanya sedikit orang yang terlibat dalam pemakmuran masjid. Orang-orang yang sudah memiliki kesadaran untuk memakmurkan masjidpun hanya menjadi jamaah yang pasif, padahal jamaah kita sebenarnya memiliki potensi yang banyak dan sangat mungkin untuk dimanfaatkan bagi kemaslahatan banyak orang. Berikut adalah beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh Pengurus Masjid.

  • Mencari tahu atau mendata potensi yang dimiliki jamaah
  • Berkomunikasi dengan jamaah tentang apa yang bisa dan mau dikontribusikan bagi kemajuan masjid dan jamaahnya.
  • Mengakomodasi peran yang bisa dilakukan oleh jamaah
  • Pelibatan seperti apa yang harus kita lakukan kepada para jamaah masjid.

 

  1. Bangunan Masjid

Dengan beragamnya fungsi masjid diatas, maka jika melihat masjid sebagai sebuah entitas bangunan, ia harus dibuat sedemikian rupa agar dapat difungsikan secara optimal untuk tujuan tersebut. Salah satu bentuk pengoptimalannya, dengan memastikan keberlanjutan bangunan masjid baik dari sisi nilai ajaran Islam, fungsi, maupun arsitekturnya yang mengadopsi konsep ramah lingkungan. Dalam hal bangunan masjid dapat dilihat dari 2 aspek yaitu Konstruksi serta Operasional dan Perawatannya.

 

  1. Konstruksi

Bangunan masjid perlu memperhatikan konsep bangunan ramah lingkungan (green building). Dalam konteks bangunan masjid, menurut para ahli bangunan berfokus pada penjabaran 6 aspek besar yaitu konservasi air, tepat guna lahan, kualitas udara dan kenyamanan ruangan, efisiensi dan konservasi energi, sumber material, serta manajemen pengelolaan limbah. Sarana prasarana yang perlu tersedia mencerminkan upaya-upaya pengelolaan lingkungan hidup, meliputi antara lain :

  • Pengembangan sarana pendukung untuk dakwah lingkungan hidup.
  • Peningkatan kualitas pengelolaan lingkungan di dalam dan di luar Masjid.
  • Penghematan sumberdaya alam (listrik, air, dll).
  • Pengembangan sistem pengelolaan limbah padat dan limbah cair.
  • Pemanfaatan lahan dengan kegiatan ramah lingkungan.
  • Peningkatan akses serta pengelolaan air dan sanitasi yang baik guna mendukung kegiatan ibadah.
  • Rancangan pembangunan fisik yang ramah lingkungan.
  • Kebijakan Masjid dalam pengalokasian dan penggunaan dana pengelolaan lingkungan hidup.

Beberapa masjid baru di Indonesia telah dibangun dengan arsitek yang mengacu pada konsep green building ini.

 

  1. Operasional & Perawatan

Karena Masjid merupakan fasilitas publik, maka Masjid perlu dioperasikan dan dirawat sehingga fasilitas tersebut dapat berfungsi sebagaimana mestinya.

  1. Penataan ruang masjid sesuai dengan kebutuhan pengurus dan jamaah.
  2. Menjaga kebersihan dan berfungsinya peralatan pendukung masjid.
  3. Penggantian atau perbaikan fasilitas yang rusak.
  4. Melengkapi sarana/inventaris yang belum dimiliki.

 

Masjid yang mengikuti program ecoMasjid akan memiliki beberapa keuntungan dalam hal operasional dan perawatan diantaranya:

  1. Meningkatkan efisiensi pelaksanaan kegiatan operasional masjid dan penggunaan berbagai sumberdaya.
  2. Penghematan biaya operasi dan perawatan melalui pengurangan konsumsi berbagai sumber daya.
  3. Meningkatkan kondisi ibadah dan belajar mengajar yang lebih nyaman dan kondusif.
  4. Menciptakan kondisi kebersamaan bagi pengurus dan jamaah masjid, sekaligus meningkatkan kesadaran dan kesejahteraan masyarakat sekitar.
  5. Menghindari berbagai resiko dampak lingkungan dengan meningkatkan aktifitas yang mempunyai nilai tambah bagi masjid.
  6. Menjadi tempat pembelajaran bagi generasi muda tentang nilai-nilai pemeliharaan dan pengelolaan lingkungan hidup yang baik dan benar.
  7. ecoMasjid tidak berorientasi untuk mendapatkan keuntungan duniawi saja, tapi juga memiliki dimensi meningkatkan keuntungan ukhrowi sebagai amalan ibadah dan sedekah jariyah.

 

V. MASJID SEBAGAI PUSAT DAKWAH

Dakwah yang berarti menyeru, mengajak, mengundang. Allah berfirman tiada perkataan yang lebih baik kecuali perkataan yang menyeru/mengajak kepada Allah SWT.

وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ

Dan siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah dan mengerjakan kebajikan dan berkata, “Sungguh, aku termasuk orang-orang muslim (yang berserah diri)?” (QS. Fussilat[41]:33).

Arti dakwah menurut pandangan beberapa pakar atau ilmuwan adalah sebagai berikut:

  1. Pendapat Bakhial Khauli, dakwah adalah satu proses menghidupkan tuntunan Islam dengan maksud memindahkan umat dari satu keadaan kepada keadaan yang lebih baik.
  2. Pendapat Syekh Ali Mahfudz, dakwah adalah mengajak manusia mengerjakan kebaikan dan mengikuti petunjuk, menyentuh mereka berbuat baik dan melarang mereka dari perbuatan jelek agar mereka mendapat kebahagiaan di dunia dan akhirat. Pendapat ini juga selaras dengan pendapat al-Ghazali bahwa amr ma’ruf nahi munkar adalah inti gerakan dakwah dan penggerak dalam dinamika masyarakat Islam.

Dari pendapat diatas dapat diambil pengertian bahwa, metode dakwah adalah cara-cara tertentu yang dilakukan oleh seorang da’i (komunikator) untuk mencapai suatu tujuan atas dasar hikmah dan kasih sayang kepada mad’u (objek dakwah) yang tertuju pada masyarakat luas, mulai diri pribadi, keluarga, kelompok, baik yang menganut Islam maupun tidak; dengan kata lain manusia secara keseluruhan.

Hal ini mengandung arti bahwa pendekatan dakwah harus bertumpu pada suatu pandangan yang berorientasi kepada kemanusiaan dengan menempatkan penghargaan yang mulia atas diri manusia. Seperti yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW dalam menyampaikan dakwahnya dilakukan melalui dua pendekatan yaitu:

(1) pendekatan dakwah bil lisan dengan melakukan pendekatan secara kultural melalui penyampaian melalui lisan dan tulisan. Dalam konteks ecoMasjid, maka perlu disampaikan tentang perintah menjaga lingkungan hidup dalam khutbah, majelis taklim, serta ceramah keagamaan lainnya.

(2) pendekatan dakwah bil hal dengan tindakan langsung melalui kebutuhan riil masyarakat. Pendekatan dakwah ini berhasil merubah masyarakat jahiliyah menjadi masyarakat yang berakhlak. Masjid sebagai pusat dakwah perlu mengambil ibrah atau pelajaran tersebut. Dalam konteks ecoMasjid, maka Masjid perlu membuat sarana dan prasarana dalam pengelolaan lingkungan hidup baik didalam maupun diluar lingkungan Masjid.

 

VI. MENJAGA KEMUTLAKAN KESUCIAN MASJID

Ajaran Islam sangat memperhatikan air. Menempatkan air bukan sekadar sebagai minuman bersih dan sehat yang dibutuhkan untuk kehidupan semua makhluk, melainkan juga menjadikannya sebagai sarana penting yang sangat menentukan bagi kesempurnaan iman seseorang dan kesahan sejumlah aktivitas ibadah seperti shalat, baca al-Qur’an, thawaf, dan sejenisnya yang mengharuskan pelakunya suci dari segala hadas dan najis. Fiqh menetapkan bahwa alat suci dari hadas dan najis yang paling utama dan terpenting adalah air, melalui wudlu atau mandi (ghusl).

Agar fungsi masjid berjalan dengan semestinya maka sarana untuk thaharah ini perlu mendapat perhatian khusus. Selama ini kita pahami thaharah hanya cara melakukannya, tapi saat ini kita perlu lebih memperhatikan pada sarana serta penyediaan air itu sendiri. Rasulullah SAW bersabda:

اَلطَّهُوْرُ شَطْرُ اْلإِيْمَانِ (رواه مسلم)

Kesucian adalah separuh dari iman. (H.R. Muslim)”

Bersuci diartikan dengan bersuci dari najis maknawi, yaitu dosa-dosa, baik dosa batin maupun dosa zahir. Karena iman ada dua bentuk, yaitu meninggalkan apa yang dilarang dan melakukan apa yang diperintahkan Allah SWT, maka tatkala sudah meninggalkan dosa-dosa berarti sudah memenuhi separuh iman.

Bersuci diartikan dengan bersuci dengan air. Bersuci dengan air ada dua macam, yaitu bersuci dari hadats kecil dan hadats besar untuk sholat atau ibadah lainya yang merupakan perintah untuk dilaksanakan. Jadi bersuci itu separuh dari sholat yang merupakan pokok amalan iman.

Dalam pelaksanaan beribadah kepada Allah SWT, khususnya mengerjakan shalat, harus memperhatikan dengan seksama area atau tempat yang akan dijadikan untuk sujud, harus suci dari najis atau kotoran tertentu yang dapat menghalangi shalat. Nabi Shallallahu alaihi wa sallam, beliau bersabda.

وَ جُعِلَتْ لِيَ اْلأَرْضُ مَسْجِدًاوَطَهُوْرًا، فَأَيُّمَا رَجُلٍ مِنْ أُمَّتِيْ أَدْرَكَتْهُ الصَّلاَةُ، فَلْيُصَلِّ

..Dan bumi ini dijadikan bagiku sebagai tempat shalat serta sarana bersuci. Maka siapa pun dari umatku yang datang waktu shalat (di suatu tempat), maka hendaklah ia shalat (di sana). (HR.Muttafaq alaih)

 

Dalam hal ini masjid harus menjaga kesucian dan menyediakan sarana penyucian diri baik secara jasmani, yaitu tempat dan air yang suci agar dapat diperoleh penyucian secara rohaniah melalui sholat, sehingga kita dapat memperoleh keselamatan di dunia berupa kesehatan dan akhirat berupa ampunan dosa. Oleh karena itu penyediaan air serta menjaga sanitasi masjid merupakan hal yang pokok sehingga masjid dapat menyediakan fungsinya sebagai tempat ibadah.

 

Penyediaan Fasilitas Akses Air dan Sanitasi Untuk Bersuci

Dari serangkaian ajaran agama Islam sangat jelas kita dapat melihat betapa Islam memberikan prioritas pada masalah kebersihan itu dalam ajaran thaharah sebagai wujud nyata dari sanitasi yakni usaha untuk membina dan menciptakan suatu keadaan yang baik di bidang kesehatan, menyehatkan lingkungan hidup manusia, terutama lingkungan fisik, yaitu tanah, air dan udara. Hidup bersih hendaknya menjadi sikap hidup umat Islam seluruhnya dan membudaya di lingkungan masyarakat muslim, karena hidup bersih merupakan tolok ukur dari kehidupan muslim. Islam mendorong umat manusia untuk menjaga dan memelihara kesehatan, karena pemeliharaan kesehatan adalah suatu upaya yang sangat penting bagi hidup dan kehidupan manusia.

Hasil usaha pemeliharaan kesehatan, tidak hanya terbatas pada terjadinya keadaan sehat, akan tetapi mempunyai dampak jauh lebih luas pada peningkatan makna hidup dan kehidupan itu sendiri baik perorangan maupun masyarakat, baik aspek duniawi maupun ukhrawi. Ajaran Islam tentang ibadah ataupun muamalah erat kaitannya dengan pemeliharaan kebersihan dan kesucian air, begitu pula sebaliknya, pemeliharaan kesucian air berkaitan dengan ibadah muamalah.

Pemeliharaan air dengan segala aspeknya adalah amal kebajikan dari setiap amal kebajikan yang didasari iman dikategorikan amal saleh yang akan mendapat balasan berupa kehidupan yang lebih baik. Dalam upaya mengamalkan dan memasyarakatkan ajaran Islam tentang air bersih, kebersihan dan kesehatan lingkungan.

إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَٰجِدَ ٱللَّهِ مَنْ ءَامَنَ بِٱللَّهِ وَٱلْيَوْمِ ٱلْءَاخِرِ وَأَقَامَٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتَى ٱلزَّكَوٰةَ وَلَمْ يَخْشَ إِلَّا ٱللَّهَ فَعَسَىٰٓ أُو۟لَٰٓئِكَ أَنيَكُونُوا۟ مِنَ ٱلْمُهْتَدِينَ

 

Sesungguhnya yang memakmurkan masjid Allah hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta (tetap) melaksanakan salat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada apa pun) kecuali kepada Allah. Maka mudah-mudahan mereka termasuk orang-orang yang mendapat petunjuk (QS. At-Taubah[9]:18).

 

Kegiatan penyediaan sarana air dan sanitasi ini merupakan hal yang rutin pada tiap masjid. Masjid yang sangat tergantung sumberdaya alam berupa air untuk sarana thaharah, perlu memperhatikan sumber daya alam ini yang kian hari semakin langka akibat bertambahnya penduduk, berkurangnya area terbuka, perilaku boros, serta pencemaran dan kerusakan lingkungan hidup. Program ecoMasjid yang utama adalah akses air dan sanitasi dapat dikelompokkan dalam tiga kegiatan besar yang meliputi kegiatan Simpan Air, Hemat Air dan Jaga Air

  1. Simpan Air. Dilakukan diantaranya dengan meningkatkan resapan air tanah melalui pembibitan dan penanaman pohon, biopori, sumur resapan, telaga tampungan air, menampung/memanfaatkan air hujan, ecoDrainase (mengurangi air hujan supaya tidak dibuang).
  2. Hemat Air. Dilakukan dengan menggunakan keran hemat air, daur ulang air, dan pertanian/kebun hemat air.
  3. Jaga Air. Dilakukan dengan menjaga air yang bersih dan suci agar tidak tercemar najis dan penyakit dari sampah dan air limbah. Dalam menjaga air ini dilakukan melalui pengelolaan sampah dengan konsep 3R (Reduce, Reuse dan Recycle), pola makan sesuai Rasulullah yang mengurangi makanan dibuang, septic tank ramah lingkungan, pembuatan biogas, menggunakan energi ramah lingkungan, dll.

MUI telah mengeluarkan Fatwa no. 41 Tahun 2014 Tentang Pengelolaan Sampah Untuk Mencegah Kerusakan Lingkungan.

 

Banyak masjid yang telah ada melakukan program pengelolaan yang ramah lingkungan hidup, diantaranya:

  1. Masjid dan Ponpes Azzikra, Sentul Bogor

Membangun: Biogas, Panen Air Hujan, Pembibitan, Penanaman pohon, kran hemat air, sumur resapan, daur ulang air, septic tank limbah qurban, biopori, permaculture, pertanian hemat air (hidroponik, aquaponik dan vertical farming), pengolahan sampah organik untuk pupuk termasuk penerapan bio-recycler (ayam, cacing & belut).

 

  1. Masjid & Ponpes Al Amanah, Sempon, Wonogiri, Jateng

Membangun: Panen Air Hujan, Pembibitan, Penanaman pohon, kran hemat air, sumur resapan, dan biopori, permaculture, pertanian hemat air (hidroponik, aquaponik dan vertical farming, pengolahan sampah organik untuk pupuk termasuk penerapan bio-recycler (ayam, dan cacing).

 

  1. Masjid Salman ITB

Memasang panel surya dengan kapasitas 5.000 watt atau sekitar 8% dari seluruh kebutuhan listriknya. Rencananya pengurus akan menambah kapasitasnya karena masih banyak area atap yang dapat dipasang panel surya tambahan.

 

 

VII. PROGRAM NASIONAL ECOMASJID (PNEM)

Selanjutnya program ecoMasjid ini akan ditingkatkan ke tingkat nasional melalui suatu perlombaan berbuat kebaikan fastabiqul khairaat khususnya berlomba dalam pengelolaan lingkungan hidup melalui masjid. Program ini merupakan upaya  meningkatkan kapasitas dan penguatan kelembagaan masjid menuju tatakelola yang bersih, suci dan sehat, juga ramah lingkungan dari tingkat Kabupaten hingga tingkat pusat.

 

Dengan adanya dorongan ini maka diharapkan organisasi dapat termotivasi untuk terus membangun dirinya dengan memperkuat kelembagaan, mengembangkan personilnya untuk meningkatkan kapasitas dan kapabilitasnya, sehingga mampu mendukung pencapaian tujuan organisasi. Jika organisasi telah menjadi kuat, akan berdampak peningkatkan kinerja organisasi.

  • Inovasi. Organisasi hanya akan bisa terus eksis dan bertahan dalam jangka panjang, jika terus melakukan inovasi.
  • Kemitraan. Organisasi harus memandang bahwa tugas melakukan pemberdayaan adalah tugas semua orang dan semua pihak. Tugas pemberdayaan dilakukan melalui kerja sama dalam rangka mengembangkan dan menguatkan semua pihak.
  • Aliansi. Setiap kegiatan dan organisasi yang mengarahkan perbaikan masyarakat harus saling memanfaatkan dan saling menguatkan, sehingga menimbulkan hasil dan dampak yang lebih besar.
  • Transformasi Nilai. Organisasi yang kuat didukung oleh para personilnya yang telah memahami dan mengimplementasikan nilai kepedulian menjadi sikap dan perilaku sehari-hari. Manakala nilai kepedulian telah tertanam dalam jiwa personil pengelola dan di tengah-tengah masyarakat, maka peran dan fungsi organisasi akan terus dapat dilanjutkan.

 

Ketua Lembaga Pemuliaan Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam Majelis Ulama Indonesia