/Peran Majelis Ulama Indonesia dalam Perubahan Iklim

Peran Majelis Ulama Indonesia dalam Perubahan Iklim

Aula lantai 4 , gedung MUI Pusat.  22 Januari 2014
Aula lantai 4 , gedung MUI Pusat. 22 Januari 2014

 

 

 

 

 

 

 

 

Author: Dr. Ir. H. Hayu S. Prabowo

 

Pendahuluan

Islam sebagai agama rahmatan lil ‘alamin merupakan agama pembangunan yang mengatur tata hidup dan kehidupan manusia dalam hubungannya dengan Allah, sesama manusia dan alam semesta dalam suatu keseimbangan untuk menuju kebahagiaan dan kesejahteraan hidup lahir-batin dan dunia-akhirat. Allah telah menciptakan dunia ini secara seimbang sesuai dengan ukurannya sesuai dengan firman Nya “Sesungguhnya kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran” (Al Qomar [54]:49). Perubahan iklim yang disebabkan oleh pemanasan global merupakan tanda kelalaian manusia dalam menjaga keseimbangan struktur alam yang terdiri dari langit dan bumi. Dalam Islam kelalaian tersebut berupa pelanggaran sunnatullah di alam semesta dan kemungkaran yang mengakibatkan kemurkaan Allah. Kemurkaan Allah tersebut direalisasikan dengan berbagai peristiwa seperti badai, kenaikan permukaan laut, peningkatan banjir, kekeringan dan seterusnya.

Oleh karenanya hakikat pembangunan rakyat Indonesia seutuhnya merupakan tanggung jawab umara (pemerintah), ulama, dan umat. Penyampaian khusus melalui bahasa agama berupa firman Allah SWT maupun sabda Nabi Muhammad SAW disertai contoh permasalahan yang timbul di masyarakat akan lebih mudah diterima dan dapat langsung masuk kedalam relung hati. Dorongan internal keagamaan dari diri sendiri ini akan melengkapi keberhasilan penerapan dan penegakan hukum positif kebijakan pemerintah yang bersifat eksternal berupa aturan dan penegakan hukum yang mengikat.

Perubahan iklim telah menyebabkan berbagai bencana karena terganggunya keseimbangan alam sehingga terjadi perubahan pada siklus hidrologi yang mengurangi kemampuan alam meresapkan dan menyimpan air sehingga mengakibatkan kerentanan terhadap tersedianya air bersih serta perubahan siklus cuaca yang mengganggu pertanian untuk kehidupan. Majelis Ulama Indonesia (MUI) sebagai wadah musyawarah para ulama, zu’ama dan cendikiawan muslim telah berperan serta dalam memberikan tuntunan dan bimbingan kepada umat Islam, khususnya dalam program dalam kepedulian perubahan iklim melalui kegiatan untuk di lingkungan masjid dan pesantren, melalui program ecoMasjid dan ecoPesantren serta pemberdayaan usaha mikro kecil melalui program green economy.

 

Bencana Alam Dalam Pandangan Islam

Perubahan iklim bumi yang sedang berlangsung berdampak buruk pada manusia dan makhluk hidup dengan terjadinya berbagai bencana alam serta kesengsaraan bagi masyarakat. Islam memiliki konsep dan penjelasan mengenai bencana alam secara umum, dan juga melihat secara khusus mengenai perubahan iklim. Al-Qur’an menyatakan bencana alam tidak terjadi secara alami, “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan Karena perbuatan tangan manusi, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)”. (QS. Ar Ruum [30]:41). Imam ath-Thabari menyatakan bahwa yang dimaksud dengan kata fasad adalah kekufuran dan aktivitas kemaksiatan. Maksudnya adalah kerusakan yang diperbuat manusia atas diri mereka merupakan kemungkaran kepada Allah Swt.

Semakin besar pelanggaran manusia atas sistem dan syariat Allah, semakin besar pula peristiwa alam yang Allah timpakan pada mereka, seperti firman Nya: “Maka masing-masing (mereka itu) Kami siksa disebabkan dosanya, maka di antara mereka ada yang Kami timpakan kepadanya hujan batu kerikil dan di antara mereka ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur, dan di antara mereka ada yang Kami benamkan ke dalam bumi, dan di antara mereka ada yang Kami tenggelamkan, dan Allah sekali-kali tidak hendak menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri.(QS. Al-Ankabut [29] : 40). Ayat ini menjelaskan akibat kemungkaran manusia telah mengakibatkan perubahan iklim, maka sebagai balasannya ditimpakan kepada kita berbagai bencana.

Al-Qur’an dengan tegas menjelaskan bahwa sebab utama terjadinya semua peristiwa di atas bumi ini, apakah kenaikan permukaan laut, badai, peningkatan banjir, kekeringan, wabah penyakit dan sebagainya disebabkan ulah manusia itu sendiri, baik yang terkait dengan pelanggaran sisitem Allah yang ada di laut dan di darat, maupun yang terkait dengan sistem nilai dan keimanan yang telah Allah tetapkan bagi hambanya. Jadi dalam Islam hukuman akibat dampak perubahan iklim tidak dimaksudkan untuk menjadi hukuman karena memberikan kontribusi untuk itu. Tapi hukuman untuk sesuatu yang lain, sesuatu yang lebih lembut berupa keimanan, yang menjadi penyebab dampak tersebut. Hukuman yang dijatuhkan bersifat kolektif dalam ayat berikut: “Dan peliharalah dirimu dari pada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. dan Ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya.” (QS. Al Anfaal [8]:25). Ini berarti bahwa ketentuan Allah dapat mengakibatkan hukuman yang luas dan kolektif untuk kemaksiatan yang bersifat lokal. Hal ini memang memungkinkan karena ekosistem bumi yang saling berhubungan satu dengan lainnya

Berkenaan dengan konsep hukuman kolektif ini, jelas bahwa seseorang akan dipengaruhi oleh kemaksiatan orang lain, sehingga ini dapat menjadikan motivasi orang beriman untuk memperbaiki tindakan mereka yang bermaksiat. Hal ini juga dinyatakan dalam hadits bahwa “Barang siapa di antara kalian yang melihat kemungkaran, hendaklah dia merubahnya dengan tangannya. Apabila tidak mampu maka hendaknya dengan lisannya. Dan apabila tidak mampu lagi maka dengan hatinya, sesungguhnya itulah selemah-lemah iman”. (HR. Muslim). Oleh karena itu, kita semua perlu melakukan adaptasi atas kemungkaran yang dilakukan sebagian orang.

 

Untuk selengkapnya silahkan download file dengan klik disini.