/Peran Umat Islam Dalam Perlindungan Satwa Langka untuk Keseimbangan Ekosistem

Peran Umat Islam Dalam Perlindungan Satwa Langka untuk Keseimbangan Ekosistem

Mukadimah

Indonesia sebagai Negara yang memiliki penduduk muslim terbesar dan jumlah masjid terbanyak didunia, namun sebagian besar masyarakatnya masih kurang memahami kearifan Islam yang mengajarkan pentingnya pelestarian/perlindungan tentang satwa langka dan dilindungi seperti: Harimau, Badak, Gajah, Orang Utan dan satwa lainnya, guna menjaga keseimbangan ekosistem.

Islam adalah agama rahmatan lil alamin yang mengajarkan bagaimana kita harus berinteraksi dengan Allah, manusia dan juga alam semesta. Sebagai khalifah di bumi umat Islam mempunyai tanggung jawab dan amanah untuk menjaga dan memakmurkan bumi dan segala isinya. Namun kenyataanya masih sedikit yang menyadari dan memahami pentingnya pelestarian ekosistem untuk kesinambungan kehidupannya. Oleh karena itu perlu dilakukan sebuah upaya untuk mengubah persepsi dan perilaku masyarakat tentang pentingnya pelestarian satwa dilindungi untuk kesejahteraan manusia itu sendiri. Agama Islam merupakan agama mayoritas di Indonesia yang jumlahnya terbesar di dunia. Indonesia juga merupakan paru-paru dunia dengan keanekaragaman hayati yang sangat besar. Peran umat Islam Indonesia sangat besar dalam melindungi satwa langka dan dilindungi, sekaligus  menjaga habitat dan keseimbangan ekosistemnya.  

Umumnya orang belum menyadari bahwa produktivitas dan aktifitas suatu sistem kehidupan di bumi sangat bergantung pada Layanan Keanekaragaman Hayati dan Ekosistem (Biodiversity and Ecosystem Services) yang berfungsi menyediakan barang dan jasa yang diperlukan seluruh makhluk hidup di bumi secara berkesinambungan. Oleh karena itu interaksi antara manusia dan lingkungan sangat penting, karena berfungsinya jasa ekosistem merupakan sumber daya yang penting bagi masyarakat. Jasa ekosistem ini terabaikan akibat pengaruh sistem keekonomian yang mengutamakan keuntungan keuangan semata yang mengenyampingkan faktor norma sosial serta mengabaikan jasa ekosistem sebagai sarana untuk keberlangsungan ekonomi itu sendiri. Perilaku tersebut menyebabkan efek samping berupa ekonomi yang cenderung ekstraktif dan berjangka pendek sehingga menimbulkan kerusakan lingkungan dan terganggunya proses ekosistem serta konflik sosial.

Padahal masyarakat dan ekonomi tergantung pada berfungsi jasa ekosistem. Tanaman, hewan, mikroba dan lingkungan fisik memberikan layanan “gratis” asupan seperti makanan dan bahan baku, penyerbukan dan sumber daya genetik. Hutan, padang rumput, lahan basah dan wilayah laut menyediakan layanan pendukung kehidupan seperti siklus nutrisi, air tawar dan pengaturan iklim. Kehidupan umat manusia telah mencapai kemajuan yang pesat melalui pembangunan disegala bidang, terutama terpusat pada kemajuan ekonomi. Namun, proses pembangunan tersebut memberikan efek samping berupa hilangnya keanekaragaman hayati, perubahan iklim, kerusakan lingkungan, dll.

Akibatnya saat ini peradaban dunia mengalami multi krisis ekonomi, sosial dan lingkungan hidup karena pola perilaku ekonomi umat manusia yang mengutamakan keuntungan jangka pendek dengan mengeksploitasi sumber daya alam. Perilaku ini serta pertumbuhan pendudukan memperburuk degradasi sumber alam, sumber daya energi, lingkungan, dan sumber daya pangan. Ancaman perubahan iklim dan pemanasan global kian mengurangi sustainabilitas bumi dalam memenuhi kebutuhan dan kesejahteraan umat manusia. Perubahan perilaku manusia menuju akhlakul karimah  sangat penting untuk mengatasi kerusakan bumi tersebut.

 

Pendekatan Moral Keagamaan

Krisis lingkungan hidup dengan berbagai manifestasinya, sejatinya adalah krisis moral, karena manusia memandang alam sebagai obyek bukan subyek dalam kehidupan semesta. Maka penanggulangan terhadap masalah yang ada haruslah dengan pendekatan moral. Pada titik inilah agama harus tampil berperan melalui bentuk tuntunan keagamaan serta direalisasikan dalam bentuk nyata dalam kehidupan sehari-hari umat manusia. Pendekatan keagamaan sangat diperlukan untuk mengisi gap (ruang kosong) pendekatan hukum dan perundang-undangan (legal formal). Pendekatan Agama memberikan motivasi tiap individu secara moral (akhlaq) untuk berperilaku ramah lingkungan. Sehingga pendeketan ini bersifat preventif dalam usaha pelestarian keseimbangan ekosistem. Hubungan yang harmonis antara manusia dengan Allah (Khaliq) dan antara manusia dengan sesama makhluk.

Dalam merespons maraknya berbagai konflik kepentingan ekonomi, sosial dan lingkungan dalam masyarakat di berbagai daerah di Indonesia yang mengancam keberadaan satwa dan kerusakan ekosistem, Majelis Ulama Indonesia (MUI) menetapkan fatwa No.4/2014 tentang Perlindungan Satwa Langka untuk Keseimbangan Ekosistem pada tanggal 22 Januari 2014. Proses penetapan fatwa ini cukup lama dan panjang yang diawali dari pelaksanaan FGD (Focus Group Discussion), diskusi dengan pemangku kepentingan di tingkat provinsi hingga masyarakat lokal, kunjungan lapangan, kajian referensi dan lainnya. Salah satu ketentuan hukum fatwa ini antara lain berbunyi “Membunuh, menyakiti, menganiaya, memburu, dan/atau melakukan tindakan yang mengancam kepunahan satwa langka  hukumnya haram kecuali ada alasan syar’i, seperti melindungi dan menyelamatkan jiwa manusia”.

Dalam fatwa ini banyak dalil-dalil yang terkait mengenai perintah Allah dalam Perlindungan Satwa Langka untuk Keseimbangan Ekosistem,

  • Islam rahmat bagi semesta alam (Al-Anbiya’[21]: 107)
  • Bumi dan langit diciptakan untuk manusia (Al-Baqarah [2]:29); (Al-Mulk [67]:15)
  • Manusia dijadikan dari bumi, hidup, mati dan dibangkitkan di bumi (Al-Mulk [67]:15); (At-Thaha [20]:55)
  • Manusia sebagai khalifah di muka bumi (Al-Baqarah [2]:30)
  • Bumi sebagai Masjid dan sarana penyucian diri (HR Bukhari & Muslim)
  • Kepada Allah bersujud apa yang ada di langit, di bumi, matahari, bulan, bintang, gunung, pohon-pohonan, binatang-binatang yang melata dan sebagian manusia (Al-Hajj [22]:18); (An-Nahl [16]:49)
  • Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. (Al-Israa’ [17]:44); (Al-Hasyr [59]:1); (At-Taghabun [64]:1)
  • Alam merupakan perantara manusia untuk mengenal Allah (ma’rifatullah) dan mengetahui ilmu Allah (‘ilmullah). (Ali `Imran [3] : 190-191) ; (Al-Yunus [10]:6); (At-Thaha [20]:54)

Melihat perintah Allah serta kepentingannya untuk menuju kemaslahatan umat, menjaga alam adalah fardhu ain (kewajiban perorangan) bukan fardhu kifayah (kewajiban yang bila sudah dilakukan oleh muslim yang lain maka kewajiban ini gugur). Lingkungan selalu baik kepada kita apabila kita baik terhadap lingkungan. Bencana alam adalah akibat kesalahan manusia itu sendiri, karena alam tidak pernah menciptakan masalah, mereka selalu bertasbih dan patuh pada Allah SWT.

Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah mengeluarkan banyak fatwa dari tahun sejak berdirinya pada tahun 1975 sampai dengan sekarang yang meliputi akidah dan muamalah mengikuti problematika dan dinamika permasalahan umat Islam. Fatwa bagi sebagian besar umat Islam Indonesia tidak saja menjadi acuan dan pedoman pelaksanaan ajaran agama dalam kehidupan sehari-hari, namun juga sudah menjadi acuan dalam pembuatan kebijakan pemerintah dalam menangani dinamika kehidupan masyarakat Indoonesia yang mayoritas muslim.

Fatwa MUI terkait lingkungan hidup pasca di bentuknya Lembaga Pemuliaan Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam MUI adalah:

  1. Fatwa MUI Nomor 22 Tahun 2011 Tentang Pertambangan Ramah Lingkungan,
  2. Fatwa MUI Nomor 04 Tahun 2014 Tentang Pelestarian Satwa Langka untuk Menjaga Keseimbangan Ekosistem,
  3. Fatwa MUI Nomor 47 Tahun 2014 Tentang Pengelolaan Sampah untuk Mencegah Kerusakan Lingkungan.
  4. Fatwa MUI Nomor 001/MUNAS-IX/MUI/2015 Tentang Pendayagunaan Harta Zakat, Infaq, Sedekah & Wakaf Untuk Pembangunan Sarana Air Bersih Dan Sanitasi Bagi Masyarakat
  5. Fatwa MUI Nomor 30 Tahun 2016 Tentang Hukum Pembakaran Hutan dan Lahan serta Pengendaliannya

Fatwa MUI merupakan ketetapan hukum Islam ynag ditetapkan bersama oleh para ulama berdasarkan kajian fikih dan kajian ilmiah.  Karena fatwa ini produk hukum, maka  sosialisasi dan penerapannya dimasyarakat perlu penjabaran lebih lanjut, khususnya masalah-masalah yang terkait lingkungan hidup dan sumber daya alam belum dipahami secara luas. Umumnya penjabaran fatwa ini dilakukan dalam bentuk penulisan buku panduan dan buku khutbah yang menjadi acuan pengembangan pengetahuan masyarakat dan para dai. Peran dai sangat penting karena mereka langsung bersentuhan dengan masyarakat dalam menumbuhkan penyadar-tahuan masyarakat tentang perlindungan satwa dan pelestarian ekosistem m melalui peningkatan wawasan dan pandangan ajaran Islam.

MUI terus mengembangkan dari dakwah bil lisan menjadi dakwah bil hal (aksi). Sehingga umat Islam dapat turut berpatisipasi aktif demi keberlangsungan makhluk Allah di bumi ini. Insya Allah lambat laun gaung umat Islam dalam konservasi alam ini bisa didengar dan menjadi masif dan nyata baik dalam skala nasional dan global. Apalagi MUI memiliki 34 pengurus tingkat provinsi dan saat ini MUI di beberapa daerah sudah mempunyai kantor hingga tingkat Kelurahan, MUI ingin menggerakan seluruh komponen masyarakat. MUI selalu melakukan komunikasi horizontal didalam MUI dan lintas ormas atau vertikal pada pemerintah pusat dan pemerintah provinsi, kabupaten/kota. Sehingga terjadi sinergi dengan program-program pemerintah dalam mengemban tidak saja tugas keumatan namun juga tugas kemanusiaan dan juga tugas keagamaan.

Salah satu sarana untuk meningkatkan program ini adalah melalui program masjid ramah lingkungan (ecoMasjid). Indonesia memiliki sekitar 800 ribu masjid yang merupakan sarana edukasi dan sosialisasi, mengajak umat agar senantiasa menjaga kelestarian sekitar melalui dakwah, baik secara lisan, tulisan, maupun tindakan nyata. Pada akhirnya pengurus masjid dan jamaah memiliki kompetensi (pengetahuan, ketrampilan dan sikap) terhadap pengelolaan lingkungan hidup dan sumberdaya alam yang merupakan contoh nyata (uswah) oleh masyarakat sekitar masjid.

Pada pilot proyek sosialisasi dan pelatihan dai konservasi telah di lakukan survey untuk memberikan indikator bagaimana efektivitas sosialisasi fatwa. Jumlah responden 600 orang pada 19 desa di Kecamatan Cimanggu, Ujung Kulon menyimpulkan bahwa 76% telah mengetahui keharaman memburu dan memperdagangkan satwa dilindungi. Darimana mereka memperoleh informasi  tersebut, mereka memperoleh informasi dari ustadz dan pengajian sebesar 30% selebihnya 30% dari TV dan 5% dari internet. Ini merupakan fakta bahwa informasi melalui keagamaan merupakan cara efektif untuk meningkatkan penyadaran kepada masyarakat dalam pelestarian alam melalui masjid dan pondok pesantren yang berada dekat daerah konservasi.

Oleh: Dr. Hayu Prabowo

 

Download:

 

 

Ketua Lembaga Pemuliaan Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam Majelis Ulama Indonesia