/Pertanian Ramah Lingkungan dalam Perspektif Islam (bagian I)
pertanian-ramah-lingkungan-mui-lplhsda

Pertanian Ramah Lingkungan dalam Perspektif Islam (bagian I)

Manusia serta seluruh makhluk hidup di bumi hanya bisa makan dari apa-apa yang tumbuh atau keluar dari bumi. Allah sebagai maha pemberi rezeki menurunkan air yang membawa banyak kebaikan dan manfaat dari langit, lalu menumbuhkan, dengan air itu, kebun-kebun yang mempunyai pohon-pohonan, bunga-bungaan dan buah-buahan. Dan menumbuhkan biji tumbuhan yang dituai. berkesinambungan. Allah berfirman:

وَنَزَّلْنَا مِنَ ٱلسَّمَآءِ مَآءً مُّبَٰرَكًا فَأَنۢبَتْنَا بِهِۦ جَنَّٰتٍ وَحَبَّ ٱلْحَصِيدِ

Dan Kami turunkan dari langit air yang banyak manfaatnya lalu Kami tumbuhkan dengan air itu pohon-pohon dan biji-biji tanaman yang diketam. (QS. Qaf [50]:9)

Dalam bukunya yang berjudul Ajaib al Makhluqat wa Garaib al Maujudat, Al Qazwini menerangkan betapa pertanian amat penting dalam kelangsungan hidup manusia. Bidang pertanian juga merupakan salah satu dari sekian lahan pekerjaan halal yang amat diutamakan oleh Allah SWT dan Rasulullah SAW. Allah berfirman:

وَجَعَلْنَا فِيهَا جَنَّاتٍ مِّن نَّخِيلٍ وَأَعْنَابٍ وَفَجَّرْنَا فِيهَا مِنَ الْعُيُونِ. لِيَأْكُلُوا مِن ثَمَرِهِ وَمَا عَمِلَتْهُ أَيْدِيهِمْ ۖ أَفَلَا يَشْكُرُونَ

Kami menjadikan (di atas muka bumi ini tempat yang sesuai untuk dibuat) ladang-ladang kurma dan anggur. Kami pancarkan banyak mata air (di situ). Tujuannya supaya mereka boleh mendapat rezeki daripada hasil tanaman tersebut dan tanam-tanaman lain yang mereka usahakan. Adakah mereka berasa tidak perlu bersyukur?. (QS. Yasin[36] : 34-35)

Rasulullah SAW pun bersabda “Tiada seorang Muslim pun yang bertani atau berladang lalu hasil pertaniannya dimakan oleh burung atau manusia ataupun binatang melainkan bagi dirinya daripada tanaman itu pahala sedekah(H.R. Bukhari).

Dalam sebuah hadits lainnya beliau bersabda “Tiada seorang muslim menanam dan bertani maka hasil pertaniannya itu dimakan oleh manusia, binatang dan sebagainya melainkan dia akan menerima ganjaran pahala sedekah dalam riwayat yang lain: melainkan dia akan menerima pahala sedekah hingga hari Kiamat( H.R. Muslim).

Menurut Ibnu Hajar Al-Asqalani dan Imam An-Nawawi bahwa hadits-hadits tersebut menjelaskan mengenai fadilah (keutamaan) bercocok tanam dan ganjaran bagi orang yang melakukannya itu berkelanjutan hingga hari Kiamat selagi tanaman itu masih hidup.

Sedangkan dari aspek akidah, kegiatan pertanian dapat mendekatkan diri seseorang kepada Allah. Di mana tanda kebesaran Allah dapat dilihat dengan jelas dalam proses kejadian tumbuh-tumbuhan atau tanaman. Apabila seseorang itu melakukan usaha pertanian, ia akan membuatkan seseorang itu lebih memahami hakikat tawakal dan beriman kepada kekuasaan-Nya.

Manusia mengemban tanggung jawab sebagai khalifatullah fil ardh untuk memakmurkan bumi dan segala isinya. Namun, realitas yang menyedihkan pada saat ini bahwa kita dalam bahaya menuju kebinasaan akibat kurangnya tanggung jawab kita mengatur kehidupan diri sendiri terutama mengenai bagaimana makanan yang kita konsumsi diproduksi dan diolah.

Manusia dalam memenuhi kebutuhan dan keinginannya telah banyak merusak alam beserta isinya yang menciptakan keadaan yang mengancam dirinya sendiri. Kita bisa lihat polusi dan kerusakan habitat yang terjadi, diantaranya oleh sistim pertanian dan peternakan monokultur skala besar berikut pemakaian zat-zat kimia berbahaya. Belum lagi percobaan-percobaan rekayasa genetika yang sangat beresiko dan bertentangan dengan kaidah-kaidah alam (sunatullah).

Masih sedikit yang menyadari bahwa produktivitas dan aktifitas manusia sangat bergantung pada layanan keanekaragaman hayati dan ekosistem (jasa ekosistem) yang berfungsi menyediakan barang dan jasa yang diperlukan seluruh makhluk hidup di bumi. Allah memberikan pahala bagi usaha yang menumbuhkan dari sesuatu yang bermanfaat bagi seluruh makhluk, tentunya dilakukan tanpa kezaliman. Karena kezaliman ini dapat menyebabkan ekosistem tidak berfungsi dengan baik, yang akhirnya kelangkaan sumber daya yang menimbulkan gangguan sosial dan ekonomi berupa kurangnya bahan pendukung kehidupan. Oleh karenanya untuk dapat berhasilnya usahatani kita perlu mengerti tentang interaksi antara manusia dan lingkungan. Semua ini menunjukkan bahwa pertanian ini adalah landasan peradaban, yaitu landasan bagaimana manusia berhubungan dengan Allah SWT, Manusia dengan sesama manusia dan manusia dengan alam.

Ketahanan Pangan Indonesia

Sektor pertanian, untuk negara sebesar Indonesia, adalah pondasi pembangunan ekonomi, sedangkan  yang menjadi lokomotif adalah sektor industri modern. Tanpa landasan pertanian yang kuat, maka lokomotif pembangunan pun akan mudah goyah. Saat ini ketahanan pangan menjadi perhatian banyak pihak, diantaranya karena pertumbuhan jumlah penduduk, cenderung berkurangnya lahan pertanian, serta rusaknya ekosistem. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, luas lahan sawah dan tegal menurun pada 2013 dibanding tahun sebelumnya terutama di pulau Jawa dan Bali, yang merupakan daerah padat penduduk. Padahal pertambahan penduduk Indonesia adalah sebesar 1,5% per tahun, maka diperkirakan jumlah penduduk Indonesia pada tahun 2030 adalah sekitar 320 juta jiwa. Sedangkan pada tahun 2050 adalah 430 juta jiwa. Meningkatnya jumlah penduduk mengakibatkan berkurangnya lahan yang tersedia untuk pertanian. Namun dilain pihak, lahan dituntut untuk meningkatkan hasilnya untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia. pemenuhan kebutuhan pangan ini merupakan salah satu masalah yang sangat fundamental bagi pembangunan manusia Indonesia yang berkelanjutan.

Dalam menjaga ketahanan pangan nasionalnya, Indonesia harus mempersiapkan persediaan pangannya secara sistematis dan berkelanjutan. Kebutuhan pangan penduduk yang semakin meningkat menyebabkan target produksi bahan pangan sangat tinggi sehingga segala upaya untuk memenuhi kecukupan pangan tersebut menjadi prioritas utama. Oleh karena itu, konsep pertanian yang menggunakan produk-produk perusahaan bioteknologi seperti bibit yang telah dimodifikasi secara genetika (Genetically Modified Organisms, GMO) serta bahan agrokimia termasuk pupuk, bahan lainnya dan pestisida merupakan input utama sistem usahatani konvensional. Namun penggunaan produk-produk rekayasa yang tidak terkendali menjadi salah satu penyebab degradasi lahan, keracunan tanaman dan biota air serta terjadinya kerusakan lingkungan.

Benih tanaman dan ternak GMO mengundang risiko terjadinya pencemaran genetika akibat penyerbukan antara tanaman GMO dan tanaman non GMO di lokasi pertanian. Selain itu, benih tanaman GMO yang tersebar ke alam liar juga mengundang keresahan serupa. Fenomena ini disebut dengan kontaminasi benih. Sebagian besar proses penyerbukan terjadi oleh angin dan serangga yang tidak mampu dikendalikan secara penuh oleh manusia. Bidang yang diperdebatkan diantaranya perlu tidaknya makanan GMO harus diberikan label, peran pemerintah sebagai pembuat kebijakan karena dampak makanan GMO pada kesehatan dan lingkungan, efek resistansi pestisida, dampak tanaman pertanian GMO terhadap petani, dan peran tanaman pertanian GMO sebagai penghasil bahan pangan bagi populasi dunia.

siklus-kerusakan-ekosistem-mui-lplhsda
Gambar 1 Siklus Kerusakan Ekosistem dari Pertanian yang Bergantung Industri Bioteknologi

Gambar 1 memperlihatkan skematik siklus kerusakan ekosistem dari pertanian yang dimulai dari pemilihan bibit yang akan ditanam. Selanjutnya, untuk mengejar target ketahanan pangan, pertanian konvensional dengan input agrokimia masih menjadi andalan di Indonesia. Bahan agrokimia seperti pupuk dan pestisida merupakan input teknologi yang sangat dibutuhkan dalam praktek pertanian konvensional. Ketergantungan sistem pertanian terhadap pupuk dan pestisida tersebut sangat tinggi sehingga resiko pencemaran dan degradasi lahan menjadi masalah yang kompleks dan berdampak negatif terhadap tanaman, hewan, manusia serta lingkungan. Penggunaan pupuk berlebihan seperti pupuk N akan mencemari air tanah dan air sungai yang menyebabkan eutrofikasi danau dan waduk. Penggunaan pupuk P berasal dari batuan fosfat alam juga berpotensi mengakumulasi logam berat dalam tanah. Penggunaan pestisida saat ini sangat banyak variasinya, hingga tahun 2012 sudah tercatat sebanyak 2,475 jenis pestisida beredar di Indonesia. Residu pestisida yang relatif sulit diuraikan terakumulasi dalam tanah dan masuk ke dalam rantai makanan.

Cara bertani demikian sebenarnya belum terlalu lama, sebelum Perang Dunia II umumnya petani tidak mengenal pupuk apalagi insektisida seperti yang mereka kenal sekarang. Dunia mengenal pupuk kimia setelah produksi bahan-bahan kimia untuk keperluan perang di masa PD II tidak habis terjual, maka bahan-bahan kimia tersebut dijuallah ke para petani dalam bentuk pupuk !

Akibatnya tanah menjadi seperti orang yang kecanduan, bila tidak diberi pupuk produksi langsung turun tetapi bila terus diberi pupuk kualitas tanah juga terus menurun secara gradual, dan dalam jangka panjang produktifitas lahan juga pasti turun. Sehingga seiring berjalannya waktu, kesuburan yang dimiliki oleh tanah pertanian Indonesia banyak yang rusak atau tercemar akibat pemakaian bahan agrokimia (pupuk kimia dan pestisida) yang berlebihan tanpa aturan yang berlaku (tidak sesuai dengan anjuran) sehingga terjadi residu bahan kimia logam berat, tanpa memperhatikan dampak jangka panjang (yang dimungkinkan dapat menurunkan produktivitas pertanian untuk tahun-tahun mendatang).

Selain yang harganya mahal, pestisida kimia juga banyak memiliki dampak buruk bagi lingkungan dan kesehatan manusia. Ketika biaya bertani meningkat pesat karena ongkos pupuk dan obat-obatan kimia, sementara hasil pertaniannya menurun – maka disitulah penghasilan petani menjadi tidak menarik dan mereka menjual lahannya ke kelompok masyarakat yang bukan petani dan tidak terlalu berminat untuk memakmurkan lahan pertanian. Sehingga penggunaan GM dan agrokimia menimbulkan masalah kerusakan lahan, juga akan meningkatkan jumlah lahan pertanian yang dikonversi menjadi lahan non pertanianpun semakin banyak.

Menggapai Baldatun Thoyibatun Wa Robbun Ghoffur

Manajemen penyediaan kebutuhan pangan sangat penting dan diperlukan mengingat kebutuhan pangan yang tidak dikelola dengan baik dapat menjadi sumber malapetaka. Berdasarkan sejarah, manajemen pangan pernah terjadi dalam kehidupan Mesir. Pada kasus yang terjadi pada masa nabi Yusuf, memperlihatkan bagaimana manajemen pangan dilakukan dengan begitu baik. Pada saat itu, di Mesir mengalami 7 tahun masa panen produktif pangan yang gemilang, lalu mengalami masa paceklik yang paling buruk. Kejadian ini merupakan hasil dari penafsiran mimpi nabi Yusuf terhadap mimpi Raja Mesir dan segera melakukan langkah strategis dan bijak bagaimana mengelola pertanian dengan baik guna memenuhi kebutuhan pangan masyarakatnya. Allah Azza wa Jalla berfirman tentang negeri Saba’ yang pada waktu itu indah dan subur alamnya, dengan penduduk yang selalu bersyukur atas nikmat yang mereka terima

لَقَدْ كَانَ لِسَبَإٍ فِي مَسْكَنِهِمْ آيَةٌ ۖ جَنَّتَانِ عَنْ يَمِينٍ وَشِمَالٍ ۖ كُلُوا مِنْ رِزْقِ رَبِّكُمْ وَاشْكُرُوا لَهُ ۚ بَلْدَةٌ طَيِّبَةٌ وَرَبٌّ غَفُورٌ

Sungguh bagi Kaum Saba’ ada tanda (kebesaran Rabb) di kediaman mereka, yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri. (Kepada mereka dikatakan:) “Makanlah dari rizki yang dianugerahkan Tuhan kalian dan bersyukurlah kepadaNya!’. Baldatun thayyibatun wa rabbun ghafûr”. (QS. Saba’[34]:15).

Imam Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan: “Saba’ adalah (sebutan) raja-raja Negeri Yaman dan penduduknya. Termasuk diantara mereka ialah raja-raja Tababi’ah dan Ratu Bilqis, isteri Nabi Sulaimân. Dulu, mereka berada dalam kenikmatan dan kebahagiaan (yang meliputi) negerinya, kehidupannya, kelapangan rizkinya, tanaman-tanamannya, dan buah-buahannya. Allah mengutus kepada mereka beberapa rasul, yang menyeru mereka agar memakan rizki yang diberikan-Nya, dan agar bersyukur kepada-Nya dengan mentauhidkan-Nya dan beribadah kepada-Nya. Keadaan mereka (yang baik) itu terus berlangsung hingga (waktu) yang dikehendaki Allah, lalu mereka berpaling dari apa yang diserukan kepada mereka, sehingga mereka dihukum dengan datangnya banjir bandang dan terpencar-pencarnya mereka di banyak negeri”.

Seperti apa dua kebun itu? Dua kebun itu sangat luas dan terletak di hamparan lembah antara dua gunung di Ma’rib. Tanahnya sangat subur dan menghasilkan berbagai macam tanaman dan buah-buahan. Qatâdah rahimahullah dan ‘Abdurrahmân bin Zaid rahimahullah, dua orang tabi’i, menceritakan bahwa apabila ada seseorang masuk ke dalam kebun itu dengan membawa keranjang di atas kepalanya, ketika keluar maka keranjang tersebut akan dipenuhi dengan buah-buahan tanpa harus memetik buah tersebut. Abdurrahmân bin Zaid rahimahullah menambahkan bahwa di sana tidak ditemukan nyamuk, lalat, serangga, kelajengking dan ular. Penyebutan dua kebun di ayat ini tidak berarti bahwa kebun itu jumlahnya hanya dua, tetapi yang dimaksud dengan dua kebun adalah kebun-kebun yang berada di sebelah kiri dan kanan lembah tersebut. Kebun-kebunnya sangat banyak dan beragam, sebagaimana dikatakan oleh al-Qusyairi rahimahullah. Mengapa Allah SWT menyebut Negeri Saba’ sebagai baldatun thayyibatun wa rabbun ghafûr? Karena dalam bahasa ia berarti “Negeri yang baik dengan Rabb Yang Maha Pengampun”. Meski istilah singkat namun maknanya padat, dan dapat mewakili semua kebaikan yang dulunya ada pada Negeri Saba’ tersebut, karena “negeri yang baik” bisa mencakup seluruh kebaikan alamnya, dan “Rabb Yang Maha Pengampun” bisa mencakup seluruh kebaikan perilaku penduduknya sehingga mendatangkan ampunan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, Rabb alam semesta.

Sebelum Ratu Bilqis masuk Islam, kaum Saba’ menyembah matahari dan bintang-bintang. Setelah beliau memeluk Islam, maka kaumnya pun mengikutinya.  Sampai kurun waktu tertentu, kaum Saba’ dalam keadaan bertauhid kepada Allah Azza wa Jalla, hingga akhirnya kembalilah mereka ke agama nenek moyang mereka. Allah Azza wa Jalla telah mengutus tiga belas rasul kepada mereka. Akan tetapi, mereka tetap saja tidak mau kembali ke dalam Islam. Allâh Azza wa Jalla pun murka dan menghancurkan bendungan Ma’rib dalam firmanNya:

فَأَعْرَضُوا فَأَرْسَلْنَا عَلَيْهِمْ سَيْلَ الْعَرِمِ وَبَدَّلْنَاهُمْ بِجَنَّتَيْهِمْ جَنَّتَيْنِ ذَوَاتَيْ أُكُلٍ خَمْطٍ وَأَثْلٍ وَشَيْءٍ مِنْ سِدْرٍ قَلِيلٍ

Tetapi mereka berpaling, maka Kami datangkan kepada mereka banjir Al-‘Arim dan Kami ganti kedua kebun mereka dengan dua kebun yang ditumbuhi (pohon-pohon) yang berbuah pahit, pohon atsl dan sedikit dari pohon sidr. (Saba’ [34]:16)

Kedua kebun mereka yang menjadi sumber penghidupan, kekayaan dan kekuatan mereka digantikan oleh Allah Azza wa Jalla dengan kebun yang tidak bermanfaat untuk kehidupan mereka. Dengan keadaan seperti itu, kaum Saba’ tidak bisa bertahan, sehingga hancurlah kerajaan mereka.

Namun, terbentuknya keadaan negeri “impian” ini tidak semudah membalik tangan. Karena negeri “impian” ini merupakan sesuatu yang istimewa, tentu memerlukan perjuangan dan usaha keras dalam mewujudkannya. Bahkan perjuangan dan usaha keras saja tidak cukup, tetapi harus dibarengi pula dengan bimbingan yang jelas dari Allah Azza wa Jalla, dikarenakan beberapa hal berikut.

  1. Meski manusia mengetahui maslahat dunia, terutama yang berhubungan dengan sisi jasmani, tetapi pengetahuan itu hanya sebagiannya saja. Sehingga masih ada banyak hal tentang maslahat dunia yang tidak diketahui manusia, terutama yang berhubungan dengan sisi rohani.
  2. Seringkali akal manusia terkecoh ketika menilai sebuah maslahat, sehingga seringkali suatu yang membahayakan dianggap sebagai bermanfaat, dikarenakan keterbatasan kemampuan akal manusia.
  3. Akal manusia tidak akan mampu mengetahui maslahat yang berhubungan dengan akhirat, padahal kehidupan akhirat merupakan tujuan utama dan target akhir, bahkan masanya akan selama-lamanya.

Dari sini kita bisa mengerti arti penting syariat agama bagi kehidupan manusia, baik untuk kehidupan pribadi maupun untuk kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Bahkan telah terbukti dalam sejarah kehidupan manusia, bahwa mayoritas negara-negara yang kuat kekuasaannya dan luas wilayahnya itu asal-muasalnya dari agama. Apabila perintah Allah dilanggar, Allah akan memberikan hukuman setimpal pada negara Saba’ sebagai baldatun thayyibatun wa rabbun ghafûr.

Berdasarkan pemaparan diatas, dapat diketahui pentingnya sistem pertanian dalam peradaban Islam begitu menempati posisi strategis. Jika dilihat sistem pertanian Indonesia saat ini, tentunya sangat jauh tertinggal karena sektor industri lebih diutamakan daripada sektor pertanian. Tidak dapat dinafikan apabila hasil industri ini turut menyumbang kepada hasil makanan bangsa, selain merupakan sumber pendapatan masyarakat. Namun perkembangan sistem pertanian saat ini lebih mengarah ke ranah pemenuhan hasil pangan yang instan yakni impor. Dalam menganggapai kebutuhan pangan impor ini, Rasulullah bersabda:

Makanlah makanan yang berada di dekatmu.” (HR. Muslim).

Pandangan ini bisa kita ambil hikmahnya bahwa kita perlu memakan apa yang ada disekitar kita dan menghindari memperoleh makan dari tempat yang jauh (impor). Tidak hanya karena ini menghindari sifat yang berlebihan (Israf), tapi juga banyak sekali bahan makanan tambahan yang dibuat oleh orang-orang non muslim yang tidak memahami tentang kehalalannya.

Penulis: Dr. H. Hayu S Prabowo (Ketua Lembaga PLH & SDA MUI)