/Pertanian Ramah Lingkungan dalam Perspektif Islam (Bagian II)
pertanian-ramah-lingkungan-mui-lplhsda

Pertanian Ramah Lingkungan dalam Perspektif Islam (Bagian II)

Cengkraman Industri pada Sektor Pertanian

Akibat pertambahan penduduk, sifat konsumerisme masyarakat serta sulitnya penyediaan lahan baru untuk pertanian, membuka peluang industrialis merekayasa produk-produk digunakan untuk meningkatkan produksi pertanian. Akibatnya petani saat ini sangat tergantung pada industri untuk penyediaan bibit, agrokimia, dan akhirnya pengolahan dan penjualan produknya. Dalam hal ini petani hanya menjadi pekerja industri, karena bahan baku serta harga jual produk diatur oleh industri, terutama untuk pertanian monokultur, seperti kelapa sawit, karet, coklat, dll.

Gambar 1 memperlihatkan skematik penguasaan industri pada sektor pertanian dari penyediaan bibit rekayasa genetik yang melemahkan tanah, pupuk kimia, pestisida, fungisida dan herbisida yang melemahkan struktur tanah serta menyebabkan hama yang lebih tahan terhadap bahan kimia. Pada saat ini Monsanto mendominasi penyediaan bibit rekayasa genetik, pupuk kimia, pestisida, herbisida keseluruh dunia.

Bibit rekayasa genetika atau GMO diperoleh dengan menggabungkan DNA dari spesies yang berbeda, bahkan menggabungkan gen hewan dengan hewan lainnya dan bisa gen manusia; gen bakteri dengan gen tanaman, sehingga menciptakan hewan atau tanaman jenis baru yang tidak mungkin terjadi di alam atau melalui persilangan secara tradisional. Pangan yang juga termasuk GMO: Jagung, kedelai, kentang, tomat, daging, ayam, dan beras.

Ahli biologi mengujicobakan GMO terhadap tikus, dan hasilnya mencengangkan: tikus menjadi mandul, lemah, gerak lakunya lamban, terdapat sel kanker di otak dan saluran cernanya. Lantas apakah ini juga harus terjadi terhadap manusia? Belum ada yang menjelaskannya. Majelis Ulama Indonesia telah mengeluarkan Fatwa no 35 tahun 2013 tentang Rekayasa Genetika dan Produknya. Ketentuan hukum dari fatwa ini adalah sebagai berikut:

  1. Melakukan rekayasa genetika terhadap hewan, tumbuh-tumbuhan dan mikroba (jasad renik) adalah mubah (boleh), dengan syarat : dilakukan untuk kemaslahatan (bermanfaat);, tidak membahayakan (tidak menimbulkan mudharat), baik pada manusia maupun lingkungan; dan tidak menggunakan gen atau bagian lain yang berasal dari tubuh manusia.
  2. Tumbuh-tumbuhan hasil rekayasa genetika adalah halal dan boleh digunakan, dengan syarat : bermanfaat; dan tidak membahayakan
  3. Hewan hasil rekayasa genetika adalah halal, dengan syarat : Hewannya termasuk dalam kategori ma’kul al-lahm (jenis hewan yang dagingnya halal dikonsumsi), bermanfaat; dan tidak membahayakan
  4. Produk hasil rekayasa genetika pada produk pangan, obat-obatan, dan kosmetika adalah halal dengan syarat : bermanfaat, tidak membahayakan; dan sumber asal gen pada produk rekayasa genetika bukan berasal dari yang haram.

Pembangunan dan pertumbuhan ekonomi, khususnya pertanian, yang mengorbankan kemanusiaan adalah sebuah konsep yang sudah ketinggalan zaman dan tidak dihargai. Kehidupan kita yang sedang menuju kesia-siaan. Apa yang lebih buruk, itu adalah dunia anak-anak kita yang sedang menuju kehancuran. Oleh karena itu kita semua perlu menghentikan perilaku dari sistem yang merusakn, seperti dalam firman Nya:

وَأَنْفِقُوْا فِيْ سَبِيْلِ اللهِ وَلاَ تُلْقُوْا بِأَيْدِيْكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ وَأَحْسِنُوْا إِنَّ اللهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَ

Dan infakkanlah (hartamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu jatuhkan (diri sendiri) ke dalam kebinasaan dengan tangan sendiri, dan berbuat baiklah. Sungguh, Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik. (QS. Al-Baqarah[2]:195)

Lantas apa solusinya? solusi yang terbaik adalah bertani tanpa ketergantungan pada industri bioteknologi berupa benih GMO dan  agrokimia. Sebagai ganti bioteknologi buatan manusia, kita menggunakan bioteknologi yang telah disediakan alam sebagai sunatullah berupa hukum alam yang telah ditetapkan Allah SWT, yaitu dengan cara membangun sistem pertanian melalui bekerjasama dengan seluruh makhluk yang diciptakan Allah, termasuk tumbuhan, binatang dan mikroba yang sudah tersedia di alam.

Pertanian Ramah Lingkungan

Pertanian ramah lingkungan adalah suatu desain pertanian dengan memperhatikan pemeliharaan ekosistem sehingga pertanian lebih produktif dengan tetap menjaga sinergi keanekaragaman hayati. Filosofi pertanian ramah lingkungan adalah membangun kerja bersama alam secara sunatullah, bukan melawannya atau merusaknya. Allah berfirman:

الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

 (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), “Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia; Mahasuci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka. (‘Ali `Imran[3]:191).

Menjelaskan ciri khas orang yang berakal, yaitu apabila memperhatikan sesuatu, selalu memperoleh manfaat dan terinspirasi oleh tanda-tanda besaran Allah Swt. di alam ini. Ia selalu ingat Allah Swt. dalam segala keadaan, baik waktu berdiri, duduk, maupun berbaring. Ini akan menunjukan suatu konsep mendasar bahwa proses pikir dan zikir harus berjalan seiring sehingga menghasilkan pengetahuan yang lebih holistik.

Proses ini dilakukan dengan menempatkan cara berpikir dan bertindak yang melibatkan hubungan seluruh makhluk dengan bumi dan alam semesta agar dapat hidup bersama dengan mengatur diri sendiri, dan secara aktif menangani segala gangguan. Setiap waktunya diisi untuk memikirkan keajaiban-keajaiban yang terdapat dalam ciptaan-Nya yang menggambarkan kesempurnaan-Nya di dunia ini, baik yang bernyawa (biotik), yaitu manusia, binatang dan tanaman ataupun yang tidak bernyawa (abiotik), yaitu tanah, air dan udara.

Dalam bukunya yang terkenal, Kitab al-Filaha (buku tentang Pertanian), cendekiawan dari Andalusia atau Spanyol, Ibnu al-Awwan, menjelaskan hal pertama yang perlu diketahui mengenai pertanian adalah lahan pertanian itu. Apakah lahan tersebut baik atau tidak untuk ditanami. Ia mengingatkan, siapa yang mengabaikan masalah itu tak akan menuai keberhasilan saat menggarap lahan pertanian. Ini bermakna para petani perlu memiliki pengetahuan tentang lahan, karakteristiknya, jenisnya, tanaman.

Tanah yang merupakan tempat kehidupan mikro-organisme yang secara makro menguntungkan bagi mahkluk hidup lainnya, termasuk manusia. Mikro-organisme yang menghuni tanah dapat dikelompokkan menjadi bakteri, fungi, aktinomisetes, alga, dan protozoa. Jumlah dan jenis mikro-organisme tanah dipengaruhi oleh perubahan lingkungan. Pertanian ramah lingkungan memuat tentang nilai-nilai dan etika, yaitu dengan membangun sistem pertanian bersama makhluk ciptaan Allah.

Saat ini trend sistem usahatani yang berkembang mulai memiliki konsep go green, back to nature dan ramah lingkungan, dengan sistem organik, tanpa produk-produk rekayasa genetika dan agrokimia. Untuk itu konsep pertanian ramah lingkungan mulai kembali digalakkan dalam rangka mendukung upaya mencapai swasembada pangan dan pertanian berkelanjutan. Masyarakat dan ekonomi tergantung pada berfungsi jasa ekosistem. Tanaman, hewan, mikroba dan lingkungan fisik memberikan layanan “gratis” asupan seperti makanan dan bahan baku, penyerbukan dan sumber daya genetik. Hutan, padang rumput, lahan basah dan wilayah laut menyediakan layanan pendukung kehidupan seperti siklus nutrisi, air tawar dan pengaturan iklim. Kehidupan umat manusia telah mencapai kemajuan yang pesat melalui pembangunan disegala bidang, terutama terpusat pada kemajuan ekonomi. Namun, proses pembangunan tersebut memberikan efek samping berupa hilangnya keanekaragaman hayati, perubahan iklim, kerusakan lingkungan, dll.

Oleh karena itu pertanian sistem ini melihat secara holistik karena setiap ciptaan berfungsi menurut perannya masing-masing sehingga sistem ini dapat berjalan lebih baik secara berkesinambungan. Oleh karenanya pertanian menerapkan penanaman multikultur serta digabung dengan peternakan yang pada akhirnya menghasilkan multi produk sepanjang waktu. Rasulullah SAW bersabda: “Orang Mukmin itu bagaikan lebah, jika ia makan sesuatu ia makan yang baik, jika ia mengeluarkan sesuatu ia keluarkan yang baik, dan jika ia hinggap di ranting yang sudah lapukpun, ranting itu tidak dirusaknya.” (HR. Tirmizi)

Gambar 2 memperlihatkan siklus kehidupan dalam proses jasa ekosistem dimana tumbuhan memperoleh energi melalui fotosintesis dan menyerap bahan anorganik untuk menghasilkan biomasa dan membentuk makanan dasar untuk spesies konsumen. Organisme mati menghasilkan akumulasi bahan organik yang diubah oleh dekomposer. Dekomposer dan konsumen berperan dalam pembentukan bahan anorganik dengan mineralisasi, melengkapi siklus nutrisi antara bentuk organik dan anorganik. Dalam suatu ekosistem hubungan makan dan di makan yang sangat kompleks saling berkaitan dan bercabang sehingga membentuk jaring-jaring makanan (food web). Di sinilah kiranya ada mata rantai yang tidak putus sehingga bertalian. Allah SWT berfirman:

 

وَٱلْأَرْضَ مَدَدْنَٰهَا وَأَلْقَيْنَا فِيهَا رَوَٰسِىَ وَأَنۢبَتْنَا فِيهَا مِن كُلِّ شَىْءٍ مَّوْزُونٍ ﴿١٩﴾ وَجَعَلْنَا لَكُمْ فِيهَا مَعَٰيِشَ وَمَن لَّسْتُمْ لَهُۥ بِرَٰزِقِينَ ﴿٢٠﴾ وَإِن مِّن شَىْءٍ إِلَّا عِندَنَا خَزَآئِنُهُۥ وَمَا نُنَزِّلُهُۥٓ إِلَّا بِقَدَرٍ مَّعْلُومٍ ﴿٢١﴾ وَأَرْسَلْنَا ٱلرِّيَٰحَ لَوَٰقِحَ فَأَنزَلْنَا مِنَ ٱلسَّمَآءِ مَآءً فَأَسْقَيْنَٰكُمُوهُ وَمَآ أَنتُمْ لَهُۥ بِخَٰزِنِينَ ﴿٢٢﴾ وَإِنَّا لَنَحْنُ نُحْىِۦ وَنُمِيتُ وَنَحْنُ ٱلْوَٰرِثُونَ ﴿٢٣

 

“Dan kami Telah menghamparkan bumi dan menjadikan padanya gunung-gunung dan kami tumbuhkan padanya segala sesuatu menurut ukuran. Dan kami Telah menjadikan untukmu di bumi keperluan-keperluan hidup, dan (Kami menciptakan pula) makhluk-makhluk yang kamu sekali-kali bukan pemberi rezki kepadanya. Dan tidak ada sesuatupun melainkan pada sisi Kami-lah khazanahnya [maksudnya segala sesuatu itu sumbernya dari Allah s.w.t.]; dan kami tidak menurunkannya melainkan dengan ukuran yang tertentu. Dan kami Telah meniupkan angin untuk mengawinkan (tumbuh-tumbuhan) dan kami turunkan hujan dari langit, lalu kami beri minum kamu dengan air itu, dan sekali-kali bukanlah kamu yang menyimpannya. Dan Sesungguhnya benar-benar Kami-lah yang menghidupkan dan mematikan dan kami (pulalah) yang mewarisi. (QS. Al-Hijr [15]:19-23).

siklus-makanan-dalam-ekosistem-mui-lplhsda
Gambar 2 Siklus Makanan Dalam Ekosistem

Firman Allah diatas menyatakan bahwa semua makhluk hidup itu mempunyai peranan atau fungsi khusus yang tidak dapat digantikan oleh makhluk lain untuk menjaga keseimbangan lingkungan hidup. Oleh karena itu manusia harus mempunyai kepedulian dan perhatian kepada makhluk-makhluk lain sebagai komponen-komponen yang menunjang serta melestarikan kehidupan ini sebagaimana manusia itu memperhatikan dirinya sendiri.

Al-Qaradhawi menjelaskan dari ayat diatas ada isyarat penting yaitu, pertama, firman Allah “kami tumbuhkan padanya segala sesuatu menurut ukuran”, ayat ini menunjukkan suatu konsep ilmiah yang sangat relevan dengan pengetahuan modern bahwa setiap makhluk hidup (manusia, tumbuhan ataupun binatang) terdiri dari unsur-unsur kimiawi tertentu dengan jumlah tertentu yang seimbang sesuai dengan jenisnya masing-masing yang berbeda satu dengan yang lainnya.

Kedua, bahwa alam ini berjalan sesuai aturan, semuanya sudah diukur menurut kadar keseimbangan dan perhitungan yang tepat. Bila keseimbangan terganggu, maka kehidupan seluruh makhluk akan terganggu.

Ketiga bahwa Allah telah memberikan sumber kehidupan dan rezeki kepada seluruh makhluk ciptaannya. Ungkapan Al-Munawi dalam buku Faidh Al-Qadir yang menjelaskan sebuah hadits yang berbunyi : “Orang yang melarang Zakat, akan masuk neraka pada hari kiamat” (HR. At-Tirmidzi). “Ketahuilah bahwa semua yang berwujud dalam posisi ibadah pada Allah, lihatlah pada bumi yang lebih dekat dengan kamu, kamu menemukan bahwa ia selalu memberikan buatannya. Tumbuhan, hewan, langit dan planet dalam keadaan saling membantu dan melengkapi, tidak menyimpan sesuatupun dari miliknya demi ketaatan mereka kepada Allah. Karena semua wujud dalam kondisi lemah dan miskin, maka semua makhluk saling membutuhkan antar satu dengan yang lain. Pemberian milik mereka ini merupakan zakat masing-masing. Maka orang yang melarang zakat telah menyalahi prinsip yang berlaku pada alam beserta semua yang wujud”.

Pertanian ramah lingkungan didefinisikan sebagai sistem pertanian berbasis ekologi dan memiliki konsep keberlanjutan hasil pertanian yang tinggi serta menguntungkan secara ekonomi. Beberapa konsep pertanian ramah lingkungan adalah (1) Pengelolaan tanaman terpadu, terintegrasi dengan ternak, (2) Sistem pertanian organik yang efisien, yaitu sistem pertanian dengan memanfaatkan secara optimal (efisien) karbon yang dikandung oleh produk dan bahan organik sisa tanaman, ternak dan sampah organik lainnya, (3) Melakukan konsep konservasi tanah dan air, (4) Mengontrol kandungan polutan (bahan kimia toksik) dalam tanaman dan tanah, dan (5) Meningkatkan produktivitas lahan terdegradasi dan lahan tidak subur.

Pertanian beretika merupakan cerminan tanggung jawab untuk keberadaan kita sendiri dan keturunan kita dengan mengurangi ketergantungan pada industri besar yang yang sangat kompetitif dalam meguasai penyediaan bibit, pupuk, pestisida, pengolahan dan pemasaran produk pertanian. Penekanan pada pertanian beretika ini adalah bagaimana tiap komponen tersebut berinteraksi, bagaimana mereka bekerja sama dengan satu sama lain, bagaimana konflik atau harmoni dalam sistem kehidupan terus berlangsung langgeng. Hidup adalah saling membantu bukan saling mengalahkan, dan bentuk kualitas kehidupan diperoleh dari interaksi menguntungkan satu sama lain dan dengan lingkungan mereka. Bahkan bakteri hidup melalui kolaborasi dan pertukaran.

 Penulis: Dr. H. Hayu S Prabowo (Ketua Lembaga PLH & SDA MUI)