/Pertanian Ramah Lingkungan dalam Perspektif Islam (Bagian III)
pertanian-ramah-lingkungan-mui-lplhsda

Pertanian Ramah Lingkungan dalam Perspektif Islam (Bagian III)

Salah satu teknik pertanian ramah lingkungan yang dikenal adalah Permakultur atau permanen­ agrikultur yaitu pengelolaan pertanian dan peternakan secara terpadu berkelanjutan yang dilandasi dengan etika dasar peduli terhadap bumi, terhadap masyarakat, dan generasi mendatang yang harmonis antara manusia dan alam. Pertanian ini dilakukan dengan menjaga sinergi harmonis antar pertanian, peternakan dan manusia dalam menyediakan kebutuhan makanan, energi, tempat tinggal, dan materi maupun non materi lainnya secara berkelanjutan. Permakultur mengelola pertanian, peternakan dan perikanan secara terpadu dan berkelanjutan dengan menjaga atau memperbaiki kualitas alam; dan permanen-kultur yaitu melestarikan, mendukung dan bekerjasama dengan budaya dan lingkungan setempat.

lplhsda-mui-permakultur
Permakultur

Permakultur dapat dipandang sebagal sebuah filsafat dan gaya hidup berkelanjutan yang menggabungkan berbagal komponen seperti pengetahuan ekologis (proses-proses natural dan saling berkaitan yang terjadi di alam); kemampuan manusia untuk mendesain sistim produksi semisal pertanian dan peternakan; pemanfaatan teknologi tepat guna dan ramah lingkungan; serta kesadaran untuk bekerjasama dengan budaya dan lingkungan setempat. Permakultur yang dilandasi oleh etika dasar peduli terhadap bumi, terhadap masyarakat, dan generasi mendatang akan sangat besar manfaatnya bagi kita untuk memahami dan menciptakan perpaduan yang harmonis antara manusia dan alam. Tujuan akhir permakultur adalah untuk dapat membuat hutan pangan (food forest) untuk seluruh makhluk. Permakultur  ini didasarkan keilmuan agroforestri (Wanatani) yaitu penggabungan sistem budidaya kehutanan dan pertanian berdasarkan teori bahwa setiap jenis tanaman memiliki batas maksimal dalam memanfaatkan sinar matahari untuk kegiatan photosynthesis-nya, rata-rata tanaman hanya butuh 1/10 dari sinar matahari yang diterimanya. Dengan demikian sejumlah tanaman bisa hidup dengan baik meskipun berada di bawah atau berhimpitan dengan tanaman lainnya. Dalam Al-Qur’an petunjuk pertanian multikultur ini (bukan monokultur seperti yang umum dilakukan saat ini) di terangkan Allah SWT dalam firmanNya:

وَهُوَ الَّذِي أَنزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجْنَا بِهِ نَبَاتَ كُلِّ شَيْءٍ فَأَخْرَجْنَا مِنْهُ خَضِرًا نُّخْرِجُ مِنْهُ حَبًّا مُّتَرَاكِبًا وَمِنَ النَّخْلِ مِن طَلْعِهَا قِنْوَانٌ دَانِيَةٌ وَجَنَّاتٍ مِّنْ أَعْنَابٍ وَالزَّيْتُونَ وَالرُّمَّانَ مُشْتَبِهًا وَغَيْرَ مُتَشَابِهٍ ۗ انظُرُوا إِلَىٰ ثَمَرِهِ إِذَا أَثْمَرَ وَيَنْعِهِ ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكُمْ لَآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ

Dan Dialah yang menurunkan hujan dari langit lalu Kami tumbuhkan dengan air hujan itu segala jenis tumbuh-tumbuhan, kemudian Kami keluarkan daripadanya tanaman yang menghijau, Kami keluarkan pula dari tanaman itu butir-butir (buah-buahan) yang bergugus-gugus; dan dari pohon-pohon tamar (kurma), dari mayang-mayangnya (Kami keluarkan) tandan-tandan buah yang mudah dicapai dan dipetik; dan (Kami jadikan) kebun-kebun dari anggur dan zaitun serta delima, yang bersamaan (bentuk, rupa dan rasanya) dan yang tidak bersamaan. Perhatikanlah kamu kepada buahnya apabila ia berbuah, dan ketika masaknya. Sesungguhnya yang demikian itu mengandungi tanda-tanda (yang menunjukkan kekuasaan Kami) bagi orang-orang yang beriman.(Q.S. Al-An`am [6]: 99)

Kerjasama dalam mempertahankan kehidupan merupakan hal yang sangat mendasar bagi seluruh makhluk. Kita bisa melihat bagaimana suku-suku primitif bekerjasama, dimana yang kuat mencari kebutuhan pangan di hutan untuk dimakan bersama bersama seluruh anggota sukunya. Mereka secara turun temurun telah memiliki pengetahuan praktis berupa kearifan lokal agar hutan tetap dapat berproduksi untuk dapat tetap menyediakan bahan pangan yang diperlukan. Hal ini dilakukan dengan mengetahui dan menjaga agar unsur-unsur yang ada agar tetap berfungsi secara alami dan berkelanjutan. Mengambil apa yang diperlukan dengan tetap menjaga keberlangsungan jasa ekosistem untuk hari dan keturunan berikutnya. Jika kita tidak segera mengadopsi Sunatullah yang merupakan keterpaduan sistem alam yang saling melengkapi dari semua kehidupan makhlukNya, maka kita akan merugi dan akhirnya binasa akibat ulah kita sendiri. Hal ini dapat dilakukan bila kita mengelola bakat atau talenta seluruh makhluk. Terlebih, kita saling bergantung satu dengan yang lainnya untuk dapat bertahan hidup bersama-sama di bumi. Secara ringkas, mengelola pertanian dan peternakan secara berkelanjutan dapat dilakukan dengan

  • Mengemban amanah sebagai khalifatullah fil ardh untuk menjaga atau memperbaiki kualitas alam serta memakmurkannya.
  • melestarikan, mendukung dan bekerjasama dengan budaya dan lingkungan setempat.
  • berlandaskan pada etika dasar (akhlaqul karimah) peduli terhadap bumi, terhadap masyarakat, dan generasi mendatang.
  • memahami dan menciptakan perpaduan yang harmonis antara manusia dan alam.

Kerusakan alam ini bisa dan perlu segera kita perbaiki, sudah banyak pembahasan yang dilakukan. Saat ini adalah waktu untuk kita untuk bertindak yang harus dimulai dari diri kita sendiri, seperti sabda Rasulullah SAW. Ibda binafsik “mulailah dari dirimu”. Aa Gym mengatakan kita harus mulai dari diri sendiri, dari yang kecil dan dimulai sekarang.

Makanan yang Halal dan Thayyib

Dalam pandangan Islam, hal-ihwal agama, punya kaitan dengan arah dan tujuan hidup manusia, mengenai  kewajiban  memelihara kehidupan dan mengenai kewajiban memelihara kehidupan dan membina kelestarian lingkungan alam sekitar, dan mengenai persyaratan bagaimana cara menjaga kehidupan seluruh jenis mahluk. Dalam Al-Qur’an lebih dari 100 ayat yang membicarakan masalah makanan dan minuman. Dalam hadits, Rasulullah SAW menjelaskan bahwa umat Islam adalah  umat yang  makan apabila sudah terasa lapar dan berhenti makan. sebelum kenyang, Imam Ghazali Imam dalam kitab Ihya’ Ulum al-Din menyatakan bahwa sumber segala dosa adalah syahwat perut, dan dari situlah timbul syahwat kemaluan. Karena itulah, Adam as. melanggar larangan Allah sehingga dikeluarkan dari surga, dan itulah yang menyebabkan seseorang mencari dunia dan menyukainya. Allah memperingatkan kita akan godaan setan, dan tipu dayanya yang membuat syahwat perut melampaui batas dan tidak cukup hanya dengan yang halal namun juga harus thayyib seperti firman Allah SAW.

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ كُلُوا۟ مِمَّا فِى ٱلْأَرْضِ حَلَٰلًا طَيِّبًا وَلَا تَتَّبِعُوا۟ خُطُوَٰتِ ٱلشَّيْطَٰنِ إِنَّهُۥ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِينٌ

Wahai manusia! Makanlah dari (makanan) yang halal dan baik yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Sungguh, setan itu musuh yang nyata bagimu.” (QS. Al-Baqarah[2]:168)

Makna ‘thayyib’ secara syar’i di dalam Al Quran merujuk pada 3 pengertian, yaitu

  • sesuatu yang tidak membahayakan tubuh dan akal pikiran, sebagaimana pendapat Imam Ibn Katsir.
  • Sesuatu yang lezat, sebagaimana pendapat Imam Syafi’i.
  • Halal itu sendiri, yaitu sesuatu yang suci, tidak najis, dan tidak diharamkan, sebagaimana pendapat Imam Malik dan Imam Al Thabari

Syahwat perut yang berlebihan tidak semata-mata berarti banyak makan saja. Karena banyak makan merupakan gejala lahir dari penyakit ini. Hakikat penyakit ini yang sesungguhnya adalah ketamakan jiwa dan sifat materialistis. Lalu mengubah makan dari sekedar sarana menjadi tujuan hidup, hingga manusia menjadi seperti hewan yang digerakkan oleh syahwatnya. Gaya hidup konsumtif kita saat ini akan membawa kita ke jurang kemusnahan. Perilaku konsumtif ini mendorong manusia untuk mengeksploitasi tanah dan sumberdaya alam yang melampaui keterbatasan daya tampung dan daya dukungnya yang mengakibatkan rusaknya ekosistem. Perilaku konsumtif ini mendorong manusia untuk dapat memproduksi makanan lebih banyak lagi. Untuk bisa memenuhi syahwat ini, maka jalan pintas yang digunakan adalah menggunakan pertanian konvensional dengan menggunakan bibit GMO dengan proses pertanian menggunakan agrokimia. Tentu hasil dari pertanian ini menjadi makanan yang tidak thayyib karena menimbulkan kemudharatan pada makhluk Allah lainnya baik saat ini maupun jangka panjang. Apabila kita tidak melakukan perbaikan, maka kita akan masuk ke dalam kebinasaan.

Konsumsi Halal dan Thayyib untuk Menjaga Lingkungan dan Kemaslahatan Manusia

Mengkosumsi makanan maupun produk-produk yang halal berarti bukan hanya mengamalkan tuntunan Agama dan melaksanakan perintah Allah, tetapi juga dapat memperoleh beberapa manfaat kebaikan hidup umat manusia seeara umum. Mari kita memperhatikan kembali ayat Al-Quran yang memerintahkan untuk mengkonsumsi yang halal kepada seluruh umat manusia. Karena memang makanan yang halal itu merupakan kebutuhan semua orang dan untuk kemaslahatan hidup mereka juga.

Sebaliknya dari itu, semua makanan yang dilarang atau diharamkan, niscaya menimbulkan kemudaratan dan bahaya. Seperti mengkonsumsi minuman keras yang memabukkan, sangat berbahaya bagi kesehatan dan merusak otak. Lebih lanjut lagi, bahaya itu bukan hanya terhadap diri orang yang mengkonsumsi itu sendiri, melainkan juga berdampak terhadap lingkungan hidup secara umum. Sebagai contoh, dalam Islam dilarang memakan daging ular. Tapi ternyata  banyak orang yang melanggar larangan ini dengan memburu dan membunuh ular sawah, misalnya. Akibatnya, populasi tikus yang merusak tanaman padi pun menjadi merebak dan menimbulkan kerugian bagi para petani. Karena ular sawah sebagai musuh alami tikus itu telah berkurang drastis, sehingga tikus pun dapat berkembang-biak tanpa terkendali. Masih banyak lagi hikmah-hikmah lain yang agaknya tidak dapat dikemukakan dalam kesempatan ruang yang sangat terbatas ini.

Pengaruh Makanan terhadap Kehidupan Manusia

Makanan mempunyai pengaruh besar terhadap kehidupan manusia. Pengaruh tersebut dapat dikelompokkan sebagai berikut:

1. Mempengaruhi Pertumbuhan Tubuh dan Kecerdasan Akal

Berhubung makanan dan minuman sangat besar dan dominan pengaruhnya terhadap pertumbuhan fisik dan kecerdasan akal manusia, maka Allah memberikan petunjuk dan memerintahkan agar hanya mengkonsumsi makanan dan minuman yang halal dan thoyyib, sehingga akan memberikan pengaruh yang baik pula bagi kehidupan secara fisik jasmani bagi setiap orang yang mengkonsumsinya. Makanan yang halal dan thayyib akan membawa berkah dan membuat otak cemerlang. Sebab, pada hakikatnya, ilmu itu merupakan cahaya dari Allah. Dalam sebuah ungkapan disebutkan: Al-‘ilmu nuurun. Cahaya akan dapat merasuk ke dalam hati yang bersih. Sedangkan makanan yang haram dan perbuatan maksiat mengakibatkan hati yang kelam yang akan sulit belajar dan menerima ilmu Allah.

2. Mempengaruhi Sifat dan Perilaku

Makanan yang dikonsumsi manusia diantaranya berfungsi sebagai penyusun dan pemelihara fungsi organ, jaringan dan sel, termasuk juga fungsi-fungsi syaraf dan hormon. Dengan demikian, dapat dipastikan bahwa makanan dan minuman yang dikonsumsi oleh seseorang niscaya akan sangat berpengaruh terhadap sifat dan perilakunya. Maka dapat dilihat betapa karena pengaruh makanan itu, ada orang yang bersifat keras dan kasar pembawaannya, dan ada pula yang lembut dan halus budi-bahasanya. Dan lazimnya dalam kehidupan masyarakat bisa didapati kenyataan, orang yang konsisten mengkonsumsi makanan yang halal, akan rajin beribadah dengan akhlakul-karimah. Sedangkan yang banyak memakan yang haram, cenderung kepada maksiat dengan akhlak yang buruk.

3. Mempengaruhi Perkembangan Anak-Keturunan

Makanan dan minuman yang dikonsumsi seseorang juga akan mempengaruhi pertumbuhan sperma maupun ovum. Setelah terjadi pembuahan, ovum yang telah dibuahi akan tumbuh menjadi janin yang bersemayam di dalam kandungan. Saat di dalam rahim atau kandungan ini pun, makanan yang dikonsumsi oleh sang ibu akan sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan janin. Makanan yang tidak halal dan thayyib (buruk dan tidak bergizi) akan mengganggu pertumbuhan janin.

4. Mempengaruhi Diterimal DitolaknyaAmal Ibadah dan Doa

Tujuan dan tugas hidup manusia yang pertama dan utama di muka bumi ini adalah untuk beribadah dan mengabdi kepada Allah. Lantas bagaimana mungkin ibadah dan doa munajat seseorang akan dapat diterima oleh Allah, jika makanan dan minumannya tidak suci dan baik.

Oleh karena itu, agar ibadah dan doa dapat diterima oleh Allah, maka harus berusaha semaksimal mungkin agar makanan dan minuman yang dikonsumsi terjamin halal dan thayyib-nya, sebagai bagian dari syarat diterimanya ibadah dan doa. Hal ini telah dijelaskan dalam sebuah Hadits Nabi saw yang shahih tentang seorang lelaki yang berdoa, tetapi doanya tidak diterima oleh Allah, karena ia makan dan hidup bergelimang dengan yang haram: “Wahai manusia, sesungguhnya Allah itu thoyyib (baik), dan tidak akan menerima kecuali yang thoyyib (halal dan baik), dan sesungguhnya Allah memerintahkan kepada orang yang beriman segala apa yang telah Dia perintahkan kepada para Rasul. Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا ۖ إِنِّي بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ

Wahai Rasul-rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik, dan kerjakanlah amal yang sholih. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. “(QS. Al-Muminun [23]: 51).

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِن طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ …

Wahai orang-orang yang beriman, makanlah dari rizki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu … ‘ (QS. Al-Baqarah [2]: 172).

Kemudian Nabi saw menceritakan seorang laki-laki yang melakukan perjalanan panjang, rambutny aacak-acakan, dan badannya lusuh penuh debu. Sambil menengadahkan tangan ke langit ia berdoa, “Wahai Tuhanku, wahai Tuhanku. “Sedangkan makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dan ia selalu bergelut dan dikenyangkan dengan yang haram. (Maka Nabi saw pun menegaskan), lantas bagaimana mungkin ia akan dikabulkan doanya. ” (H.R. Imam Muslim).

Dalam sebuah riwayat disebutkan pula: “Barangsiapa yang hidup dari makanan yang serba halal, maka cerahlah agamanya, lembut hatinya, dan tiada dinding penghalang bagi doa-doanya. ”

Manusia diberi kebebasan untuk berusaha memperbaiki nasib dalam kehidupannya, sekalipun manusia masih harus tunduk kepada ketentuan nasib yang ditetapkan oleh Allah. Manusia memperoleh kebaikan dari hasil perbuatannya sendiri (kasabat bi-aydihim), tetapi sebaliknya juga manusia menerima keburukan karena perbuatannya sendiri (iktasabat bi-aydihim). Di antara dua macam pilihan, yaitu antara mendapat kebaikan dan menerima keburukan, di sinilah letak peranan ikhtiar yang menjadi hak manusia. Sekalipun demikian, hak menentukan pilihan bebas secara perseorangan tidak boleh mengurangi usaha bersama untuk menyelenggarakan kesejahteraan hidup bersama di dalam alam semesta. Banyak ayat Al-Quran menegaskan tentang larangan atau pencegahan terhadap timbulnya kerusakan besar-besaran (fasad) dalam kehidupan. Wallahu a’lam bish-shawab.

 Penulis: Dr. Hayu Prabowo (Ketua Lembaga PLH & SDA MUI)