/Prakarsa Lintas Agama untuk Pelestarian Hutan

Prakarsa Lintas Agama untuk Pelestarian Hutan

Pada Jum’at 26 Oktober 2018 di Taman Perdamaian komplek MPR/DPR RI, telah dilakukan deklarasi Prakarsa Lintas Agama untuk Pelestarian Hutan (Interfaith Rainforest Initiative) oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI), Persekutuan Gereja-Gereja Indonesia (PGI), Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI), Persatuan Umat Budha Indonesia (PERMABUDHI), Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia (MATAKIN), Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah,dan Indonesia Bergerak Selamatkan Bumi (SIAGA BUMI), menyerukan pentingnya melindungi hutan tropis di Indonesia dan mendeklarasikan Kolaborasi Umat Berbagai Agama untuk Perlindungan Hutan (Multifaith Collaboration for Rainfores Protection).

Prakarsa ini merupakan aliansi lintas-agama internasional yang bertujuan untuk membawa kepentingan moral dan sumber daya spiritual menjadi upaya global untuk mengakhiri penggundulan hutan hujan (rain forest). Dalam prakarsa ini ada dua komponen yang berbeda namun saling terkait. Komponen global akan berfokus pada mobilisasi tingkat tinggi para pemimpin agama dan spiritual, pengembangan konten komunikasi strategis, intervensi dalam forum pembuatan kebijakan yang relevan,dan keseluruhan pengumpulan, pengelolaan dan kepemimpinan inisiatif sebagai landasan bersama dan kolaboratif dalam melakukan perubahan transformatif yang berkaitan dengan hutan hujan. Kemitraan ini juga akan mengeksplorasi konferensi tingkat tinggi: sebuah lintas agama internasional untuk mempertemukan para pemimpin agama dan spiritual dari seluruh dunia – bergabung dengan para pemimpin dari pemerintah, masyarakat sipil dan bisnis – guna menyuarakan komitmen moral yang kuat dalam hal melindungi hutan hujan dan membangun gerakan global berbasis iman untuk mengakhiri penggundulan hutan tropis. Komponen tingkat negara mengusulkan untuk bekerja di negara-negara hutan hujan prioritas dalam meluncurkan dan menetaskan jaringan berbasis agama yang berfokus pada perlindungan hutan hujan, guna melakukan pelatihan kepemimpinan bagi pemimpin agama dan spiritual mengenai masalah hutan hujan, dan untuk membangun kapasitas komunitas agama dan kepercayaan agar dapat mendukung kebijakan, peraturan, dan praktik perlindungan hutan hujan, hak masyarakat adat, dan masyarakat hutan. Tahap pertama implementasi akan berfokus pada lima negara hutan hujan utama – Brasil, Kolombia, Republik Demokratik Kongo, Indonesia dan Peru.

Konferensi agama dan hutan akan diselenggarakan di salah satu negara hutan hujan pada tahun 2019. Pesertanya akan mencakup pemimpin agama dan spiritual (dari sebanyak mungkin tradisi iman dan negara yang berbeda); Ilmuwan iklim dan pakar hutan hujan; pemimpin masyarakat adat dari negara- negara hutan hujan; kepala negara dan pemerintah, menteri dan pembuat kebijakan utama dari negara-negara hutan hujan dan konsumen; pemimpin badan-badan dan program-program PBB yang relevan dan lembaga multilateral lainnya, termasuk bank pembangunan multilateral; presiden dan CEO perusahaan besar; LSM dan kelompok advokasi hutan hujan; dan media internasional.

Oleh: Dr. Hayu Prabowo

Ketua Lembaga Pemuliaan Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam Majelis Ulama Indonesia