/Proposal Pemberdayaan UMK GF

Proposal Pemberdayaan UMK GF

Saat ini dunia mengalami multi krisis dan selalu dihantui oleh ancaman krisis ekonomi global. Tidak hanya itu, peradaban dunia juga menghadapi dilema serius terkait dengan pola perilaku ekonomi umat manusia yang tak ramah lingkungan. Perkembangan ekonomi yang didasarkan pada persaingan berbasis pada individualisme dan materialisme telah menyebabkan percepatan kerusakan lingkungan serta mengakibatkan melebarnya kesenjangan antara kaya dan miskin yang menimbulkan ketegangan dan konflik sosial dan ekonomi. Selain itu perilaku ekonomi tersebut  memberikan ancaman perubahan iklim dan pemanasan global kian mengurangi sustainabilitas bumi dalam memenuhi kebutuhan dan kesejahteraan umat manusia.

Sistem ekonomi tidak akan pernah mampu keluar dari ekosistem. Aturan yang mengatur dinamika ekosistem pada akhirnya merupakan fungsi biologi yang berlaku untuk kehidupan umat, bukan fungsi sistem ekonomi yang diciptakan manusia. Konsep Green Economy muncul untuk menghadapi tantangan ini dimana, dalam mendapatkan manfaat ekonomi, proses kegiatan ekonomi atas suatu bentuk usaha harus memberikan dampak positif pada lingkungan hidup. Secara riil misalnya adalah kegiatan ekonomi seperti pemanfaatan limbah untuk: daur ulang, pupuk, biogas, budidaya jamur, dll. Green Economy selaras dengan pola pembangunan  yang berkelanjutan pemerintah dimana strategi dan arah kebijakan pembangunan pemerintah adalah Pro poor (keberpihakan pada upaya pengentasan kemiskinan), Pro job (Keberpihakan pada peningkatan tenaga kerja), Pro growth (Keberpihakan pada pertumbuhan) dan Pro Environment (Keberpihakan pada lingkungan hidup). Kebijakakan ini kemudian di jabarkan pada Undang-undang No. 25/2000 mengenai Program Pembangunan Nasional bahwa pengentasan kemiskinan merupakan prioritas utama. Salah satu kebijakan dalam pengentasan kemiskinan adalah pemberian fasilitas pembiayaan untuk usaha mikro dan kecil (UMK). Alasan utama untuk membantu pendanaan UMK adalah karena UMK terbukti sebagai sektor ekonomi yang paling kuat dibandingkan dengan sektor ekonomi lainnya pada masa krisis. Berdasarkan survey pada 2003 memperlihatkan jumlah pekerja pada UMK mencapai 99,4 persen dari total pekerja di Indonesia, dan memberikan kontribusi sebesar 56,7 persen dari total GNP Indonesia dan UMK menyumbang 19,35 persen dari total ekspor Indonesia pada tahun 2000.

Dalam kontribusinya terhadap aspek lingkungan, UMK merupakan sektor yang harus diberi perhatian lebih. Sampai saat ini, sebagian besar UMK menghadapi kesulitan dalam mengelola sumber daya untuk mencapai efisiensi yang tinggi dalam proses produksi, baik dalam mengatasi masalah pengurangan nilai sumber dayanya maupun ketidakefisienan peralatan produksi. Solusi produksi bersih dan peningkatan efisiensi ini perlu diperkenalkan secara lebih luas, mengingat investasi lingkungan pada umumnya dianggap sebagai cost center, dibandingkan dengan isu keberlanjutan usaha.

Padahal investasi pada pengelolaan lingkungan hidup itu sendiri dapat meningkatkan lapangan kerja dan pengentasan kemiskinan serta kesehatan masyarakat. Dampak positif lainnya adalah meningkatkan sustainabilitas pembangunan nasional melalui peningkatan “daya dukung” yaitu kemampuan lingkungan hidup untuk mendukung kehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya serta “daya tampung” yaitu kemampuan lingkungan hidup untuk menyerap zat, energi, dan atau komponen lain yang dibuang kedalamnya.

 

Untuk selengkapnya silahkan download berita terkait dengan klik link download dibawah ini.

[wpdm_file id=2]