/Sarasehan Forum Persaudaraan Pencinta Bambu di Manggala Wanabakti
sarasehan-forum-persaudaraan-pencinta-bambu-mui-lplh-sda

Sarasehan Forum Persaudaraan Pencinta Bambu di Manggala Wanabakti

Sarasehan Forum Persaudaraan Pencinta Bambu yang digelar di ruang rimbawan I gedung Manggala Wanabakti, Kementerian LHK, 7 Desember 2016. Sarasehan ini diselenggarakan dalam rangka Hari Bambu Indonesia yang dibuka langsung oleh Dirjen Perhutanan Sosial dan Kemitraan Lingkungan, Dr.Ing.Ir. Hadi Daryanto, DEA.

Per-bambu-an di Indonesia memiliki cerita panjang. Mari kita telaah ke belakang. Sejarah menggambarkan bahwa Republik Indonesia diproklamirkan pada tanggal 17 Agustus 1945. Tentara Nasional Indonesia berdiri pada tanggal 05 Oktober 1945, tentara yang bersenjata baru resmi ada saat itu, artinya para pahlawan yang terlibat sebagai pejuang kemerdekaan sangat mengandalkan senjata tradisional antara lain BAMBU RUNCING yang fenomenal itu.

Dari sarasehan ini banyak diungkapkan bahwa bambu mampu meredam suara, penyerap karbondioksida, sekaligus penghasil banyak oksigen. Hutan bambu mampu menyerap 62 ton CO2 per ha per tahun. Bambu mampu melepaskan oksigen 35% lebih banyak daripada pohon lain. Sebuah studi di China menunjukkan hutan bambu mampu menambah air bawah tanah 240% lebih besar dibandingkan hutan pinus. Bambu juga memiliki laju pertumbuhan yang sangat cepat sebagai tanaman paling cepat tinggi di muka bumi. Kecepatan tumbuh bambu sungguh mengesankan.

Budaya bambu adalah budaya kita. Sejak dulu, orang Indonesia memanfaatkan aneka bambu yang ramah dengan lingkungan hidup sebagai pelestarian lingkungan sekitarnya. Tepi sungai akan terpelihara dengan baik dan alami terhindar dari longsor dan juga berfungsi menjernihkan air. Perlu sekali kita melestarikan budaya bambu di masa depan sebagai budaya bangsa Indonesia yang bercirikan pelestarian bambu di masa depan. Saat ini bambu selain memiliki nilai ekonomis sebagai bahan baku meubel, bangunan, cindera mata dan disamping itu ada jenis bambu muda seperti rebung yang bisa diolah menjadi makanan berselera untuk memenuhi kekayaan kuliner nusantara. Generasi sekarang sangat enggan memanfaatkan bambu, lebih menggemari alat lainnya yang terbuat dari kayu atau aneka logam.

Semoga Saresehan ini tidak hanya terhenti pada tataran teoritis tetapi ada hal hal yang bisa diaplikasikan dan hasilnya terukur. Rencanakan apa yang akan dikerjakan, kerjakan apa yang sudah direncanakan.

Penulis: Ir. Hj. Rahmi Hidayati Duryat (Wakil Ketua LPLH&SDA MUI)