/TINJAUAN MAJELIS ULAMA INDONESIA KE EX-PERTAMBANGAN TEMBAGA ASHIO & PEMBUANGAN SAMPAH NUKLIR DI SHIOYA JEPANG

TINJAUAN MAJELIS ULAMA INDONESIA KE EX-PERTAMBANGAN TEMBAGA ASHIO & PEMBUANGAN SAMPAH NUKLIR DI SHIOYA JEPANG

Lembaga Pemuliaan Lingkugan Hidup dan Sumber Daya Alam Majelis Ulama Indonesia (Lembaga PLH & SDA MUI) telah berkesempatan melakukan tinjauan lapangan usaha (1) restorasi bekas penambangan tembaga di Ashio dan (2) masalah penanganan limbah terkontaminasi radiasi nuklir Fukushima di kota Shioya. Peninjauan ini dilakukan 14-18 Juli 2017 yang diwakili Dr. Hayu Prabowo, Ketua Lembaga PLH & SDA MUI bersama 2 peneliti Jepang dalam Islam dan Lingkungan Hidup yang sudah sering ke Indonesia,  Dr. Aoki (antropologist utk Indonesia – fasih Indonesia) dosen Universitas Chiba dan Dr. Akutsu (Islamic Historian – fasih arab) aktivis dari Non Profit Organization (NPO) Grow Green Ashio. Tujuan dari peninjauan ini adalah peneliti Jepang ingin mendapatkan pandangan dari sisi keagamaan serta promosi Internasional atas problema dan penanganan LH di Jepang. Sedangkan peneliti Indonesia dapat mengambil manfaatnya dari apa yang dialami dan dilakukan Jepang.

  1. RESTORASI HUTAN EX-TAMBANG TEMBAGA ASHIO.

Ashio terletak 150 km dari Tokyo di daerah pegunungan yang indah di Perfecture (provinsi) Tochigi. Tambang ini sangat bersejarah ditemukan pada tahun 1550 yang beroperasi selama hampir 4 abad. Tembaga digunakan untuk membuat uang logam, peluru dan devisa expor ke eropa.

Area pertambangan ini memiliki lebih dari 1000 kilometer lorong penggalian tambang bawah tanah. Selama Perang Dunia Kedua, tambang tersebut mempekerjakan tawanan perang dari Cina dan Korea. Pada tahun 1880-an terjadi pencemaran berat yang memicu kerusuhan para penambang tahun 1907. Sejak tahun 1880 masyarakat yang tinggal di sepanjang sungai Watarase dan Tone di hilir tambang mengalami pencemaran air yang mengakibatkan kematian ikan. Dalam satu dekade, populasi ikan hancur total yang mengakibatkan sekitar 3000 nelayan di daerah tersebut tidak dapat bekerja lagi.

Selain itu, pengembangan dan operasi penambangan Ashio memerlukan kayu yang mengakibatkan penggundulan bukit hutan. Akibatnya terjadi banjir besar pada tahun 1890 yang menyebarkan limbah tambang ke daerah subur hingga seluruh area tercemar dan gundul. Pada tahun 1896, terjadi kembali banjir yang lebih besar, menyebabkan kerusakan lingkungan lebih parah. Akhirnya pada tahun 1897, pemerintah Jepang mulai bertindak dan Furukawa Corporation, perusahaan yang mengelola tambang tersebut, mulai memasang sistem penyaringan untuk mengurangi masalah pencemaran.

Selama masa pencemaran tersebut, Shozo Tanaka menyampaikan seruan kepada Kaisar tentang bencana tersebut. Namun masalahnya tidak mendapat tanggapan, dan protes berlanjut selama beberapa tahun. Pada tahun 1911, pemerintah mengeluarkan Undang-undang Pabrik yang merupakan undang-undang pertama di Jepang untuk mengatasi polusi industri. Berikut perjalanan waktu tambang tembaga Ashio:

  • 1550 Tambang ditemukan
  • 1823-1903 masa puncak produksi. Beberapa penemuan teknologi baru terjadi disini.
  • 1900 an dimulai terjadi protes dan usaha restorasi
  • 1973 tambang ditutup
  • 1996 Non Profit Organization (NPO) Grow Green Ashio didirikan
  • 2006 Penyerahan fasilitas dari Pemda setempat ke NPO. Penghijauan meningkat tajam karena peran NPO dalam meningkatkan promosi dan partisipasi masyarakat dan dunia pendidikan. Selama lebih dari 100 tahun menangani masalah ini, pemerintah dan masyarakat setempat telah melakukan banyak hal, sehingga banyak mendapatkan pengalaman baik teknis dan sosial kemasyarakatan. Pengamatan saya, Jepang sangat terbuka atas masalah ini, sbb:
  1. Masalah ini menjadi bahan pelajaran dalam buku SD nasional sehingga ini menjadi pelajaran kesalahan generasi sebelumnya. Cara ini dapat meningkatkan kesadaran generasi muda serta menarik ribuan pelajar untuk menanam pohon ditempat ini sebagai bentuk kepedulian yang nyata.
  2. Bekas penambangan Ashio menjadi monumen sejarah dan menjadi salah satu tempat wisata. Beberapa event sosialisasi tentang Lingkungan Hidup serta kegiatan-kegiatan lain yang melibatkan para artis dilakukan di lokasi ex-tambang.
  3. Nampak jelas bahwa restorasi tidak dapat dilakukan hanya oleh pemerintah. Perlu adanya perpaduan dengan Masyarakat & Pendidikan. Pemerintah – Masyarakat – Pendidikan. Hal in didorong oleh peran aktif NPO sebagai motor penggerak sejak 1996.

Pada kesempatan berkunjung ke Ashio saya diberikan 1 bibit untuk ditanam bersama puluhan pelajar SD. Tiap peserta diberikan ember yang berisi bibit pohon, tanah, serabuk, satu botol air dan cangkul kecil khusus untuk menggali tanah berbatu. Berkesempatan pula di Interview oleh koran setempat, di publikasikan besok harinya. Saat ini Jepang hanya mengandalkan pada budaya dan pendidikan sebagai perekat dalam menggerakan masyarakat. Peneliti dari Jepang melihat bahwa agama bisa memperkuat perekat 3 komponen tersebut. Mereka melihat Indonesia sudah sangat advance dibandingkan dengan negara2 Islam lain tentang terhadap penanganan masalah lingkungan hidup.

Indonesia banyak memiliki industri pertambangan yang perlu banyak belajar dari penanganan antar generasi di Ashio. Sehingga aspek pendidikan menjadi sangat penting sehingga generasi mendatang tidak menglangi kesalahan generasi sebelumnya. Selain itu usaha perbaikan kerusakan lingkungan memerlukan waktu yang lama dan berkesinambungan, hal ini bisa diperoleh melalui pendidikan generasi penerus kita.

The Daily Shimotsuke, 16 Juli 2017

Peninjauan Ashio dan tempat lain oleh ahli dari Indonesia untuk mempertimbangkan masalah lingkungan hidup. Untuk memperdalam pemahaman tentang masalah lingkungan hidup di Jepang, Bapak Hayu Prabowo (55), Majelis Ulama Indonesia, asosiasi tokoh Islam dari anekaragam kelompok Muslim di Indonesia, pada tanggal 15 kemarin, kunjungi Ashio, kemudian meninjau daerah Matuski, yang rusak karena polusi asap dari pertambangan tembaga (copper) Ashuio jaman dulu, dan mengikuti menanam bibit pohon dalam program memhijaukan kembali di Ashio (foto). Bapak Prabowo sedang melibatkan beberapa kegiatan ramah lingkungan hidup termasuk program melindungi hutan international, juga pernah diundang utk COP21. Kali ini, atas kerjasama NPO Grow Green in Ashio, peninjauan ini bisa dapat diwujudkan. Kemarin, Bapak Aoki Takenobu (53) dari Chiba University, ahli masalah lingkungan hidup di Indonesia, juga mengikuti peninjauan ini. Mereka kunjungi Pusat Edukasi Lingkungan Ashio, melihat kondisi sekarang bekas desa Matsuki yang ditinggalkan karena polusi asap dari pertambangan, lalu bersama anak2 SD dari Yokohama menanam bibit pohon. Pada tanggal 16 dan 17, akan kunjungi Shioya, untuk meninjau lokasi calon tempat pembuangan sampah nuklir dan diskusi dengan masyarakat Shioya. Bapak Prabowo mengatakan, “Umumnya masyarakat Jepang mempunyai kesadaran yang cukup tinggi untuk menyelamatkan lingkungan hidup. Saya dapat pelajaran dari kegiatan edukasi untuk generasi muda.

2. PENANGANAN SAMPAH NUKLIR DARI BENCANA PLTN FUKUSHIMA DI SHIOYA

Shioya 150 km dr Tokyo dan 40 km dari ex-tambang Ashio, dgn jumlah penduduk kurang dari 20 ribu orang. Shioya dan Ashio terletak di Tochigi perfecture (provinsi). Daerah ini terdiri dari 70% pegunungan dan sisanya flat plane utk pertanian. Daerah ini terkenal sebagai salah satu mata air dan mutu beras terbaik di Jepang, serta daerah pemancingan ikan sungai serta beberapa wisata alam lainnya. Selama kunjungan, saya menginap di mes yang dikelola pemda Shioya. Penginapan ini sangat bersih dengan fasilitas tidak seperti hotel umumnya, tapi sesuai budaya Jepang dari ruang tidur, kamar mandi, tempat makan, tata cara, kebiasaan serta kedisiplinan masyarakat Jepang. Lokasi nya sangat indah, terletak dipinggir sungai yang jernih tempat memancing serta persawahan luas dan hutan pegunungan.

Ketika bencana PLTN Fukushima terjadi, radiasi nuklir terbawa angin yang mengibatkan beberapa area terkena radiasi nuklir, termasuk Shioya. Seluruh material terkontaminasi radiasi bahaya dikumpulkan di tiap perfecture hingga saat ini.

Kunjungan ini hampir satu hari penuh masuk keluar hutan. Kami bertiga dibawa oleh Hoshi san salah seorang pegawai pemda setempat, offroad masuk kehutan untuk melihat lokasi tempat insinerator dan penyimpanan abu untuk material yang tercemar radiasi, serta melihat hutan, sungai dan mata air di daerah setempat. Subhanallah, tempat ini seperti apa yang sering kita lihat di TV. Sungai jernih, air terjun mini, hutan dengan pohon-pohon 4 musim khas Jepang, burung2, dll. Hutan ini menjadi tempat wisata, camping, mancing di sungai deras dan kolam, hiking, cycling, motor cycling serta tentunya orang mengambil air jernih tersebut dan bisa diminum. Saya mencoba meminumnya juga dan memang enak. Mata air dijaga dengan CCTV, sehingga tidak heran bahwa tempat ini menjadi salah satu sumber air terbaik d Jepang.

Untuk Tochigi perfecture, tanpa alasan yang jelas dari departemen LH pusat,  Shioya telah dipilih dilokasi konservasi dekat mata air yang sangat dibanggakan dan menjadi tumpuan kehidupan masyarakat setempat. Menurut aktivis setempat, departemen LH tidak pernah meninjau lokasi serta tidak mengetahui tentang adanya mata air tersebut.

Tentu, rencana pemerintah pusat ini ditentang keras masyarakat dan pemda setempat hingga saat ini. Alternatif tempat yang di usulkan adalah membuangnya ke ex-tambang Ashio yang memiliki lebih dari 1000 (seribu) kilometer lorong atau mengumpulkannya di Fukushima. Namun hingga sekarang belum ada keputusan. Alhamdulillah pada kesempatan tersebut kami bertemu dan berdiskusi langsung dengan walikota Shioya dimana masyarakat Shioya ingin agar dunia mengetahui potensi yang ada di Shioya serta masalah besar yang mereka hadapi terhadap masa depan masyarakat setempat. Ini merupakan perjuangan dibelahan dunia lain yang bisa menjadi bahan pemikiran kita terhadap rencana pembangunan PLTN di Indonesia. Pada Januari 2011 sebanyak 40 ulama MUI pernah berkunjung ke BATAN untuk dapat mendukung pembangunan PLTN yang pada waktu itu banyak mendapat tantangan dari masyarakat. Pada Maret 2011 terjadi bencana meldaknya PLTN Fukushima sehingga pembicaraan tidak berlanjut. Namun pada 15 Maret 2017, pemerintah Indonesia mempertimbangkan kembali pembangunan PLTN untuk mendukung program pemerintah karena target 23% energi baru dan terbarukan sulit tercapai.

http://www.kompasiana.com/bob911/esdm-target-ebt-23-sulit-tercapai-pintu-nuklir-terbuka_5942788eff240514076eb912

Incinerator untuk membakar sampah teradiasi nuklir dan penyimpanan abu yang akan di bangun di daerah cagar alam.